
"Kamu, tidak sedang kesambetkan?" Tanya Vira yang masih tidak percaya dengan sikap Arga.
"Vira......?!
"Iya apa?"
"Tidak apa-apa, kamu siapkanlah makan siang! Aku lapar mau makan." Arga pura-pura mendadak jutek.
Dalam hati Vira, dasar manusia bunglon suka berubah-ubah tidak jelas.
"Aku siapkan dulu, sebentar!" Vira beranjak dari tempat duduknya lalu pergi menuju ke dapur.
Setelah Vira masuk ke dalam rumah, Arga mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aish, aku ini kenapa? Tiba-tiba aku gugup sekali." Arga terus menyalahkan dirinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Vira sedang sibuk di dapur, biarpun suaminya masih sering bersikap dingin pada dirinya, bahkan sering jutek tapi Vira tidak pernah perduli akan hal itu.
Untuk makan siang Vira membuat sayur sop ayam dan ayam goreng. Setelah selesai Vira menyiapkan semuanya di atas meja makan.
Vira tersenyum, lalu dia berjalan keluar rumah untuk memanggil suaminya yang masih duduk di teras depan rumah mereka.
"Sudah siap, ayo makan siang dulu!" Ajak Vira sambil tersenyum pada Arga.
Melihat senyum manis di sudut bibir Vira, diam-diam Arga juga ikut tersenyum tanpa sepengetahuan Vira.
"Mendadak senyumnya jadi manis begitu ya." Arga tertawa dalam hatinya.
Sungguh hari ini Arga beda dari dirinya yang biasanya. Bahkan Arga merasakan getaran dalam dadanya, ntahlah ini sebuah pertanda apa?
Sesampainya di meja makan, Arga duduk di kursi meja makan. Dia melihat di atas meja hanya ada sayur sop dan ayam goreng.
"Apa, kamu hanya masak ini?" Tanya Arga.
"Iya, soalnya di kulkas hanya ada itu saja." Jawab Vira tidak berani menatap Arga karena takut Arga akan marah.
Arga menganggukkan kepalanya "Ini saja tidak apa-apa, kalau kamu yang masak pasti enak." Arga tersenyum membuat Vira merasa lega.
Dalam hati Vira, Arga lagi kesambet dedemit mana? Tumben dia begitu lembut, bahkan dia sangat berbeda dari biasanya.
"Arga, apa kamu tidak salah makan? Atau mungkin, kamu sedang kesambet?" Vira memberanikan diri untuk bertanya pada Arga, bahkan kini tangannya sudah menyentuh jidat Arga "Tidak panas," Kata Vira.
Arga yang sedari tadi menahan rasa kesalnya, mengambil tangan Vira dengan kasar "Aku waras, Vira!" Tegas Arga dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Vira tersenyum penuh salah, kini dia buru-buru mengambilkan makanan untuk sang suami lalu menaruh makanan itu di hadapan suaminya.
Vira dan Arga siang ini makan bersama, biarpun rasanya sedikit kesal tapi Arga tidak secueknya biasanya.
"Nanti, kita supermarket kita beli keperluan dapur dan yang lainnya!" Cetus Arga yang di anggukin oleh Vira.
"Arga, aku yakin dia salah makan." Vira tertawa dalam hatinya.
Arga menikmati makanan, Vira juga melakukan hal yang sama.
Karin.
Karin sedang melakukan sesi foto, kali ini dia melakukan sesi foto dengan salah satu fotografer terkenal dan tentunya tidak perlu di ragukan lagi hasil foto-fotonya.
Karin sedang melakukan foto untuk Majalah Dewasa dengan konsep pakaian yang begitu kurang bahan. Belahan dadanya sangat terlihat bahkan bagian pahanya sangat transparan sehingga paha mulusnya bisa di nikmati oleh banyak mata para lelaki.
Selama sesi foto, Karin juga sekali-kali menggoda fotografer yang sedang memotret nya saat ini. Tentu saja biar usahanya lancar sebagai model.
"Dion, setelah pemotretan selesai apa kamu ada acara?" Tanya Karin, kini dirinya sedang duduk di sofa karena pemotretan baru saja selesai.
"Tidak ada, memangnya kenapa?" Tanya Dion sambil melihat-lihat hasil foto tadi.
"Pergi makan malam berdua yuk!" Ajak Karin dengan nada lembut.
Dion tahu seperti apa Karin itu? Karin itu artis papan atas, tapi dia mendapatkan semua itu dengan cara menggoda para produser, dia juga menggoda sutradara agar mendapatkan peran utama dalam drama.
"Aku duluan ya!" Pamit Dion dan beranjak pergi dari hadapan Karin.
Karin mendengus kesal, baru kali ini ajakan dirinya di tolak oleh laki-laki. Bahkan produser atau sutradara mereka sangat bahagia kalau di ajak jalan berdua dengan Karin. Iyalah pasti bahagia di kasih sl*k*ng*n juga soalnya.
"Dasar, Dion munafik sekali!" Gerutu Karin, dia langsung berganti pakaian lalu dengan cepat meninggalkan tempat pemotretan.
Karin menuju ke hotel yang dia tempati sementara, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Akhirnya, satu-persatu impianku tercapai. Minggu ini aku akan pulang dan bertemu dengan Aftar, tenang saja Aftar tidak tahu semua yang aku lakukan dan tentunya dia pasti menganggap aku sebagai Karin yang dulu Karin yang begitu polos dan begitu imut. Tunggu aku pulang sayangku!" Karin senyam-senyum sendiri, di tidak sabar ingin segera bertemu dengan Aftar.
Aftar dan Kinan.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Kinan sedang sibuk di dapur, dia sedang memasak untuk suaminya dan kakeknya.
Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar dia langsung mencari sosok Kinan.
"Kinan kemana?" Tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Aftar terus melangkahkan kakinya hingga menuju ke dapur, ternyata Kinan sedang sibuk di dapur.
"Auh panas sekali!"
Aftar berlari, lalu dengan cepat memegang tangan Kinan yang tidak sengaja terkena wajan baru saja.
"Apa sakit? Kamu itu harus hati-hati!" Aftar mematikan kompornya dan dia membawa Kinan ke kursi untuk duduk.
"Aku tidak apa-apa," Jawab Kinan yang kini sudah duduk di kursi.
"Ini harus di obati, kamu bilang tidak apa-apa. Kalau jarimu harus di amputasi bagaimana? Bibi tolong lanjutkan masaknya ya, terus jangan biarkan Kinan masuk ke dapur kecuali dengan aku!" Kata Aftar, sambil sibuk mencari kotak p3k.
Bibi Ijah melanjutkan masaknya, Inah juga dari tadi senyam-senyum.
"Lihat Bi, sekarang Pak Aftar banyak berubah dia juga sangat romantis sekali." Inah tertawa kecil, Ijah juga ikut tertawa "Sudah, ayo kita lanjutkan memasaknya!" Ajak Ijah.
Ijah dan Inah melanjutkan masakan Kinan yang belum matang.
Kinan turun dari kursi, lalu dia berjalan menghampiri Aftar sambil menepuk pundak Aftar "Kenapa? Kamu duduk saja, aku akan mengobati tanganmu!" Kata Aftar yang tidak mau di bantah.
Kinan menggelengang kepalanya "Aku baik-baik saja, ini cukup pakai air dingin saja biar tidak melepuh!" Kata Kinan dengan lirih.
Aftar tidak jadi mengambil kotak p3k. Sekarang dia sudah berada di depan kulkas untuk mengambil air dingin, setelah selesai mengambil air dingin Aftar menaruhnya di sebuah baskom lalu dia meraih tangan Kinan dan memasukkan ke dalam baskom itu.
Aftar terlihat begitu kawatir, tangannya dari tadi terus mengusap-usap tangan Kinan yang sedang di rendam di dalam sana.
"Lain kali, aku melarangmu ke dapur!" Cetus Aftar dengan begitu tegas.
"Kenapa? Ini luka biasa, jangan berlebihan mas!" Jawab Kinan dia agak manyun.
"Tidak apa-apa, kamu boleh masak di dapur tapi dengan satu syarat!" Aftar menatap Kinan dengan tatapan penuh arti.
Kinan mendengus kesal, hanya karena terkena wajan panas sedikit saja, Aftar begitu lebay bahkan sampai melarang dirinya tidak boleh masak lagi.
"Drama, apalagi yang sedang di mainkan oleh Suami kontrakku ini? Sungguh dia itu menyebalkan sekali," Batin Kinan dalam hatinya.
"Kinan, kamu dengar aku bicara tidak?" Tatapan mata Aftar semakin tajam.
"Baiklah, katakan syaratnya apa?" Tanya Kinan dengan begitu malas.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1