Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Aftar semakin manja


__ADS_3

"Kamu senangkan bisa mengobrol dengan Arga?" Tanya Aftar, dia masih memayunkan bibirnya.


"Mass, aku...." Kinan menghentikan kata-katanya, dia senyam-senyum rasanya ingin tertawa melihat suaminya yang saat ini begitu lucu.


"Aku apa?" Tanya Aftar, lirikannya semakin kesal pada Kinan. Bahkan dia sudah duduk menghadap ke Kinan.


"Aku hanya milik kamu mas, Arga itu hanya masa laluku. Kalau mas tanya aku bahagia atau tidak bisa mengobrol dengan Arga, iya aku biasa saja." Tutur Kinan, berharap Aftar mau mengerti.


Sorot mata Aftar terlihat begitu cemburu seperti sebelumnya, Kinan tahu Arga adalah laki-laki yang pernah dia sangat cintai tapi itu dulu waktu dia belum menikah.


"Jangan pernah sebut namanya lagi! Mas tidak mau dia tiba-tiba muncul seperti jin," kata Aftar membuat Kinan ingin tertawa.


"Mas-mas sampai jin kamu bawa-bawa, dasar suamiku padahal jelas-jelas aku sudah mulai mencintainya. Tapi maaf ya mas aku belum bisa mengungkapkan perasaanku pada mas," batin Kinan dalam hatinya.


Mengingat tadi Kinan berulang kali menyebut nama Arga dan tidak sengaja Arga muncul, akhirnya Aftar melarang Kinan untuk menyebut nama Arga di hadapannya.


"Iya Mas Aftar." Kinan memeluk suaminya dengan begitu hangat.


Dulu mah Kinan paling anti di sentuh oleh Aftar, tapi setelah semuanya berubah dan mereka hidup sebagai suami-istri tanpa ikatan kontrak Kinan terkadang lebih agresif dan suka sekali manja dengan Aftar. Aftar juga cemburuannya kadang berlebihan, tapi bagi Aftar rasa cemburunya itu salah satu cara untuk menunjukkan perasaannya pada Kinan.


Aftar melepaskan Kinan dari dalam pelukannya, lalu tangannya memegang kedua pipi Kinan bibirnya mendekat ke bibir Kinan, tatapan matanya begitu lembut. "Cupp," satu ciuman mendarat di bibir Kinan.


Pelan-pelan Kinan membuka mulutnya agar Aftar bisa menikmati ciumannya dengan penuh kehangatan. Lidah mereka sudah saling berperang, kini lidah kedua juga sudah saling tarik-menarik membuat ciuman mereka semakin panas. Nafas keduanya mulai tersengal-sengal dan keduanya sama-sama memburu dengan penuh kenikmatan.


"Ahhchh...." desah keduanya dengan penuh nikmat.


Setelah beberapa lama akhirnya Kinan mengigit bibir Aftar dengan pelan, agar Aftar melepaskan ciumannya.


"Ahhchh, sayang kenapa di gigit?" Omel Aftar, kebiasaan Kinan kalau mau menyudahi permainan ciumannya pasti mengigit bibir sang suami.


"Kalau aku tidak gigit pasti mas bakal traveling kemana-mana, masih marah tidak?" Kinan menyadarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Sudah tidak, kan sudah di berikan asupan gizi lebih." Jawab Aftar, dia mencium pucuk rambut Kinan dan kedua tangannya memeluk Kinan dengan penuh cinta.

__ADS_1


Dasar Aftar bucinnya kebangetan sekali, padahal dulu waktu dengan Karin Aftar tidak sebucin ini. Tapi dengan Kinan sungguh bucinnya sangat berlebihan.


Aftar tiba-tiba melepaskan tubuh Kinan dari pelukannya, dia tiba-tiba berlari menuju ke kamar mandi.


"Hoek..hoek..hoek," Aftar muntah-muntah.


"Aku kenapa? Rasanya mual sekali, kepalaku juga pusing." Batin Aftar dalam hatinya.


Kinan beranjak dari tempat duduknya lalu dia pergi menyusul Aftar masuk ke dalam kamar mandi. "Mas, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Kinan dengan nada begitu lembut.


Aftar menyandarkan tubuhnya di tembok, raut wajahnya kelihatan pucat dan tubuh Aftar terasa lemas. "Aku juga tidak tahu, tiba-tiba perutku rasanya mual," jawab Aftar dengan raut wajah bingung.


"Hoek...hoek....hoek.." Aftar kembali muntah, membuat dirinya semakin lemas.


"Mas, kamu masuk angin pasti." Kinan memijat tekuk leher Aftar dengan tangannya.


Aftar hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu dirinya ini kenapa? Apalagi dia juga tidak biasa sampai muntah-muntah seperti saat ini.


"Aku tidak tahu sayang, bantu aku jalan ke kamar ya!" Pinta Aftar dan Kinan memapah Aftar masuk ke dalam kamar.


"Mas, aku buatkan teh jahe ya biar anget." Kata Kinan, dia hendak beranjak dari tepi ranjang tempat dirinya duduk tapi Aftar menahan tangannya. "Tidak usah, kamu berbaringlah di sebalahku! Aku cuma pingin peluk kamu saja," tutur Aftar dan Kinan menuruti apa kata sang suami.


Kinan membaringkan tubuhnya di sebelah Aftar, lalu Aftar memeluk Kinan dengan negara hangat. "Mass....." Lirih Kinan.


"Sayang diamlah, tetaplah seperti ini! Sekarang rasanya sudah enakan. Kamu jangan kemana-mana cukup temanin aku tidur," Aftar memotong kata-kata Kinan. Lalu dia mempererat pelukannya.


Dalam hati Aftar, rasanya nyaman sekali rasa mual aku juga tiba-tiba hilang saat aku memeluk Kinan. Kinan hanya terdiam dan membiarkan suaminya memeluk tubuh mungilnya.


"Mas Aftar, entahlah dia begitu manja dari kemarin." Batin Kinan dalam hatinya.


"Mas kenapa? Akhir-akhir ini manja sekali?" Tanya Kinan dengan suara lirih.


"Mas juga tidak tahu, bawaannya mas tidak mau jauh-jauh dari kamu," jawab Aftar dengan nada lembut.

__ADS_1


Kinan hanya terdiam, biarkan saja suaminya manja pada dirinya daripada manja dengan wanita lain.


Di kantor Aftar.


Di kantor Aftar, jam menunjukkan pukul 5 sore seperti biasanya semua pegawai kantor rame-rame pulang.


Caca melambangkan kakinya untuk segera pulang ke rumahnya. Dia berjalan bersama teman-temannya sambil asik mengobrol dan tertawa.


"Caca, sepertinya Pak Vino sedang mendekatmu," cetus Lissa. Yang sering melihat Caca bersama dengan Vino.


"Lissa, itu hanya pikiran kamu saja." Jawab Caca dengan begitu yakin.


"Aku tidak mau di dekati oleh Pak Vino, Lissa kamu tidak saja kalau dia itu begitu menyebalkan," batin Caca dalam hatinya.


"Pak Vino tampan loh Ca, biarpun dia usainya sudah 25 tahunan lebih tapi aura ketampanan dia sungguh membuat banyak wanita ingin menjadi istrinya," sambung Lina dengan pikiran yang sudah traveling kemana-mana.


Caca hanya bisa mendengus kesal, bisa-bisanya teman-temannya berkata seperti itu. Mereka tidak saja kalau Vino itu begitu menyebalkan dan sering membuat Caca marah dan kesal.


"Apasih Lin, sudahlah ayo kita pulang jangan bicarakan Pak Vino!" Caca mempercepat langkah kakinya, dia tidak mau menjadi bahan gosip oleh teman-temannya.


"Lihat Lis, pasti sebentar lagi Caca dan Pak Vino jadian!" Lina begitu yakin, Lissa juga sangat yakin.


Setelah sampai di depan kantor, Lissa, Lina dan Caca berpisah karena rumah mereka beda arah.


Lissa dan Lina sudah lebih duluan pergi, sedangkan Caca masih berdiri dan sibuk dengan ponselnya. Caca tampak kesal sambil menggeser-geser layar ponselnya.


"Kata kemarin mau jemput ke kerjaan, tapi jam segini dia belum datang. Dasar gebetan baru tapi tidak tepat waktu," Caca hendak melangkah kakinya tapi tiba-tiba suara klakson mobil terdengar.


"Caca....." Panggilnya dan dia sudah turun dari dalam mobilnya.


Seketika Caca langsung mengembangkan senyum termanisnya.


Entah siapa yang datang?

__ADS_1


BERSAMBUNG 🤣


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2