
Acara peresmian berjalan dengan lancar. Via duduk seorang diri di meja sedikit jauh dari keramaian. Wanita ini hanya ingin menikmati makan siangnya tanpa gangguan. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering. Buru-buru Via melihat siapa yang sudah menelponnya.
Via memutar bola matanya jengah lalu memilih mematikan ponselnya. Namun lagi-lagi ponselnya berdering, tentu saja Via akan mengacuhkannya.
"Kenapa tidak mengangkat telpon mu?" tegur Evan yang tiba-tiba ada di belakang Via.
"Mengejutkan ku saja! apa kau mau calon ibu mu ini mati jantung?" ujar Via.
"Aku tidak mengharapkan kau mati, ku harap kau tidak jadi menikah dengan papah ku saja!" sahut Evan.
Laki-laki itu melirik ponsel Via yang kembali berdering, "Kenapa kau tidak mengangkatnya, bagaimana jika itu penting?"
"Ibu tiri ku, dia menghubungi ku sudah pasti karena uang!" kata Via berterus terang.
"Yang kemarin itu?" tanya Evan menebak.
"Ya!"
"Pantas saja kau rela mencari pria tua kaya raya, ternyata ada dua nyawa yang harus kau hidupi," ucapan Evan sangat menyinggung Via.
__ADS_1
"Selembar pun, aku tidak pernah meminta uang dari papah mu. Jadi, kalau bicara ada baiknya di pikir terlebih dahulu," ucap Via tidak terima.
"Mana ada maling ngaku, zaman sekarang banyak perempuan yang rela menjual tubuh mereka hanya demi uang!" tiba-tiba Lili menyahut.
"Jangan-jangan itu kau sendiri," sahut Via, "Dari kecil aku sudah biasa hidup mandiri, bahkan untuk makan dan biaya sekolah saja aku harus bekerja paruh waktu. Jadi, tarik kembali ucapan mu nona Lili...!" ujar Via kemudian meninggalkan meja.
Evan hanya menatap punggung Via yang berjalan ke arah luar tanpa menoleh lagi. Entah kenapa ada perasaan bersalah ketika Evan mengatakan hal yang tidak pantas pada Lili.
"Ucapan mu terlalu kasar Lili. Belum tentu yang kau tuduhkan itu benar!" ujar Evan.
"Evan, buka mata mu. Via adalah calon istri papah mu, jika bukan karena uang dan harta, mana ada perempuan muda yang mau dengan laki-laki tua!"
"Jangan suka ikut campur dalam masalah keluarga ku. Tugas mu hanya bekerja bukan berkomentar tentang keluarga ku!" wajah Evan berubah dingin. Pria ini berlalu begitu saja.
Via sudah tiba di hotel, wanita ini langsung pergi mandi setelah itu beristirahat. Perih juga rasanya ketika ada seseorang yang menyamakannya dengan perempuan murahan.
Via tidak mau ambil pusing, tidur adalah salah satu cara untuk melupakan apa yang sudah terjadi tadi.
Siang telah berganti malam, Evan keluar dari dalam kamar sambil menatap pintu kamar Via yang berada di depannya. Pria ini penasaran apakah Via sudah makan malam atau belum.
__ADS_1
"Evan, apa kau sudah makan malam?" tanya Lili yang tiba-tiba muncul.
"Belum, kenapa?" tanya Evan datar.
"Mari kita makan bersama!" ajak Lili.
"Apa Via sudah makan malam?" tanya Evan langsung membuat wajah Lili masam.
"Aku bukan ibunya. Jadi aku tidak tahu!" jawab Lili kesal.
Pintu kamar Via tiba-tiba terbuka, tanpa menghiraukan Evan dan Lili, Via melangkah keluar tanpa menoleh dan menyapa mereka berdua.
Evan kikuk, tanpa banyak bicara laki-laki ini mengikuti Via yang berjalan ke arah restoran hotel. Via mengambil makanannya, wanita ini lebih memilih duduk di tempat yang agak sepi.
"Kenapa kau duduk di sini?" tanya Evan.
"Kenapa?" tanya Via balik, "Jangan mengurusi ku, pergi sana!" usir Via kembali mencari tempat duduk yang lain.
"Perempuan gila!" umpat Lili.
__ADS_1
"Jaga bicara mu Lili...!" sentak Evan juga mencari tempat duduk yang lain.
Lili kesal, malam ini dirinya tidak bisa makan satu meja dengan Evan. Melirik Via yang sangat acuh, Evan mulai merasa tidak nyaman.