
"Kenapa kau malah tertawa Via?" tanya Randi bingung.
"Lucu aja, kenapa kau tiba-tiba mengutarakan isi hati mu. Ada apa Ran?" tanya Via balik.
"Aku serius Via, aku sebenarnya sudah menyukai mu sejak lama,"
"Sejak kapan kau menyukai ku Ran?" tanya Via, "kita berteman sudah sangat lama. Ada apa dengan mu?"
Randi hendak meraih tangan Via namun dengan cepat Via mengalihkan tangannya, "Sejak kita sekolah dulu. Saat itu aku menyukai mu, hanya saja aku takut untuk menyatakannya. Sebab, saat itu aku harus melanjutkan pendidikan ku keluar negeri," tutur Randi dengan sorot mata berbinar.
Mimik wajah Via berubah serius, wanita ini menyeruput minumannya, "Maaf Ran, tapi aku hanya menganggap mu teman saja. Aku sudah menganggap mu sebagai seorang kakak."
"Perasaan ku pada mu tulus Via. Aku menyukai mu!" tegas Randi.
"Kau hanya menyukai ku, tapi tidak mencintai ku. Randi, maaf jika aku tidak bisa membalas perasaan mu. Antara kau dan aku lebih cocok berteman saja!"
__ADS_1
"Apa karena kau sudah terpikat dengan om Theo?" tanya Randi, "apa yang sudah di berikan lelaki tua itu sehingga kau berani menolak perasaan ku?" wajah Randi berubah dingin.
"Jangan memaksakan perasaan seorang Ran. Mengenai hubungan ku dengan pak Theo itu adalah urusan ku, bukan urusan mu!" tegas Via membuat Randi semakin tidak terima.
"Buka mata mu Vi, pak Theo sudah tua. Aku lebih pantas untuk mu, bukan lelaki yang sudah hampir mencium bau tanah!"
"Jaga bicara mu Ran!" sentak Via tidak suka dengan perkataan Randi, "kau tidak berhak menentukan siapa yang pantas atau pun tidak pantas untuk bersanding dalam hidup ku. Bicara mu sudah sangat tidak sopan, aku tidak suka seperti ini," ucap Via kemudian pergi.
Randi mencoba mengejar Via namun wanita itu sudah masuk ke dalam mobil. Via sangat garam dengan ucapan Randi yang di nilai tidak sopan.
"Heh, aku ini kenapa. Seharusnya aku mendukung hubungan Via dan Randi, bukannya malah senang begini melihat hubungan mereka renggang!" batin Evan yang bingung sendiri dengan hatinya.
Sejenak Evan termenung sambil berpikir yang jawabannya saja tidak dia temukan.
"Pak, apa sudah selesai makannya?" tanya salah seorang karyawan kantor Evan, "jam makan siang sebentar lagi habis pak."
__ADS_1
Evan mendongak, "Jangan takut, aku tidak akan memotong gaji mu. Sebagai gantinya aku akan memberi bonus khusus hari ini," ujar Evan lalu beranjak dari tempat duduknya.
Evan sengaja nebeng dengan karyawannya demi mengikuti Via dan Randi. Setibanya di kantor, Evan yang sedikit iseng mencoba melihat keadaan Via di ruangan papahnya sebentar.
"Ada apa?" tanya Via singkat dengan wajah yang kurang bersahabat.
"Tidak apa-apa, hanya ingin melihat papah ku saja!" jawab Evan.
"Melihat papah atau melihat Via hah?" singgung pak Theo membuat Evan menjadi salah tingkah.
"Papah ini aneh, maksudnya apa coba?"
Evan yang sudah salah tingkah pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan sang papah dengan wajah kikuknya.
Malu juga rasanya jika ketangkap basah seperti ini. Evan terus mengumpat dirinya sendiri sepanjang perjalanan menuju ruangannya.
__ADS_1