
"Kasur memang tempat yang paling nyaman!" ucap Via yang baru saja menghempaskan diri di atas tempat tidur.
Sampai hari ini, Via masih tinggal di apartemen milik Evan dan tidak mau pulang kerumahnya.Sejak sang ayah meninggal Via lebih senang tinggal di kota kelahiran ibunya. Via akan pulang ke rumah jika dia sedang ingin saja.
Belum lama Via beristirahat, wanita ini bersiap-siap untuk pergi. Malam ini Via pulang untuk sekedar melihat rumah yang sudah tidak ada penghuni ini.
"Mau aku apa kan rumah ini?" Via bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Rumah ini memang tidak terlalu besar. Namun, di rumah ini lah Via memiliki sisa kenangan bersama sang ibu. Di rumah ini juga Via mendapatkan kenangan buruk yang tidak akan pernah lupakan.
"Hih, ngapain foto mereka masih terpajang di sini,"
Buru-buru Via mengambil dan membuang foto ibu tirinya dan Kiran lalu membuangnya ketempat sampah.
Sementara itu, Evan dan pak Theo sedang makan malam bersama. Nampaknya malam ini Evan terlihat lebih santai dari biasanya.
"Apa yang membuat mu senang Van?" tanya pak Theo penasaran.
__ADS_1
"Senang pah, akhirnya Lili bisa ku pecat juga!" jawab Evan membuat pak Theo bingung.
"Maksudnya bagaimana?" tanya pak Theo, "bukanlah dia teman lama mu yang sengaja kau rekrut untuk bekerja di kantor."
"Lili jauh lebih menyebalkan dari pada Via. Lama-lama aku risih!" ujar Evan.
"Risih kenapa?" pak Theo mulai mengulik.
"Dia berulang kali menyatakan perasaannya. Aku benar-benar risih pah!"
"Lah kan bagus, itu artinya kamu masih laku. Kenapa kau gak pacaran sama Lili aja, nanti nikahnya satu pelaminan sama papah!" ucap pak Theo membuat Evan langsung menyemburkan makanan yang baru dia masukan kedalam mulut.
"Kau ini, Santai saja Van. Kalau kau dan papah menikah dalam satu waktu, itu akan mengirit biaya."
"Pah, bangun pah. Bangun, papah tidur terlalu nyenyak!" ujar Evan.
"Papah sedang makan Van. Apa mata mu suek gak bisa membedakan antara sedang makan dan tidur?"
__ADS_1
Sudahlah, Evan hanya bisa mengalah. Pria ini buru-buru menghabiskan makan malamnya kemudian pergi. Pak Theo tertawa keras di meja makan melihat sikap anaknya hingga membuatnya keselek makanan.
"Aduh tuan, kalau makan jangan tertawa!" ujar bibi yang buru-buru mengambilkan air minum.
"Uhukk...uhuk...istri ku juga sedang tertawa berguling-guling di akhirat sana melihat tingkah anaknya bi." ucap pak Theo membuat sang pembantu juga ikut tertawa.
Sedangkan Evan yang tidak tahu menahu saat ini sedang dalam perjalanan menemui Arlan.
"Sesibuk apa sih kau ini, kenapa setiap kali aku ngajak nongkrong selalu saja nolak?"
"Kata-kata mu membuat ku ingin muntah. Menjijikan!" ujar Evan.
"Lah, kau ini kenapa? ini kan pertanyaan yang wajar. Wah, kau ini memang ada kelainan!"
"Tidak di rumah tidak di sini, sama saja!" ucap Evan kesal. Pria ini meninggalkan Arlan di cafe.
"Van...Van,...dasar aneh!" Arlan bergeleng kepala.
__ADS_1
Evan memutari jalan yang pada akhirnya membuat dia bosan sendiri. Namun, mata elang nan tajam itu tanpa sengaja melihat sosok yang sangat dia kenali.
"Itukan Via, kenapa dia?" Evan menghentikan laju mobilnya lalu turun menghampiri Via yang terlihat seperti di ganggu oleh seorang pria.