
Lembut sekali permainan Evan malam ini. Biasanya mereka sama-sama merasakan kelelahan namun kali ini hanya Evan yang sibuk bergerak ke sana ke mari.
Cukup satu ronde saja, yang penting Evan tidak haus apa lagi kelaparan. Tidak lupa juga setelah melakukan hubungan suami istri Evan langsung memijat istrinya hingga terlelap tidur.
"Maafkan daddy sayang. Namanya kebutuhan mau di tinggal bagaimana?" Evan mengusap perut datar istrinya.
Via yang sudah jauh berada di alam mimpi sama sekali tidak mendengar ucapan suaminya. Merasa lelah dan mengantuk, Evan memutuskan untuk menyusul istrinya yang sudah berjelajah ke alam mimpi.
Malam semakin larut, selimut semakin tinggi di tarik. Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Evan yang masih terlelap tidur tiba-tiba merasa pusing dan mual. Laki-laki ini mulai gelisah dalam tidurnya, Evan terbangun lalu duduk.
Namun, rasa mual itu semakin menjadi-jadi. Ada sesuatu yang memaksa keluar dari dalam perut sana. Buru-buru Evan menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi.
Evan muntah-muntah, tubuhnya lemas tak berdaya. Terus saja muntah namun tidak ada yang keluar. Via yang mendengar suara suaminya sangat terkejut saat itu juga langsung bangun menyusul sang suami ke kamar mandi.
"Bee, kau kenapa bee?" tanya Via panik.
Tidak mampu menjawab, Evan lagi-lagi muntah. Semakin paniklah Via karena sebelumnya Evan tidak pernah seperti ini.
Di rasa lega, Evan mencuci wajah dan berkumur.
"Sayang, bantu aku kembali ke tempat tidur!",ucap Evan dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Kau kenapa, apa kau sakit? jangan membuat ku khawatir!" cerocos Via.
Setelah membantu suaminya kembali ketempat tidur, Via langsung pergi ke dapur dan tak berapa lama kembali ke kamar membawa segelas teh hangat.
"Minum dulu tehnya!" kata Via lalu membantu suaminya.
Evan hanya minum dua tegukan lalu kembali merebahkan diri lagi.
"Tubuh mu tidak panas. Jadi, sebenarnya kau ini sakit apa?" Via sendiri bingung.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja perut ku terasa mual,"
"Apa kau keracunan? lagian, ini itu semua di makan. Aku akan memanggil Dokter," ujar Via kemudian mengambil ponsel suaminya dan langsung menghubungi Dokter keluarga Evan.
"Suami saya sakit apa Dok?" tanya Via khawatir.
"Bisa sakit juga ternyata?" cibir pak Theo.
"Evan baik-baik saja. Tidak sakit apa-apa, dia sehat wal afiat!" jawab Dokter.
"Apanya yang sehat wal afiat Dok? tadi Evan terus muntah-muntah bahkan wajahnya pucat seperti ini," Via merasa aneh.
__ADS_1
"Mungkin ini bawaan bayi. Selamat untuk mu Via, kau yang hamil tapi Evan yang mengidam. Dia yang lebih merasakan gejala-gejala pada ibu hamil," terang Dokter membuat Via merasa lucu.
"Biasalah, kasihan sekali kau Evan!" ucap mami Gitta.
"Kok bisa ya seperti itu?" tanya pak Theo tidak percaya.
"Bisa saja pak Theo, Evan kan ayahnya!" jawab Dokter.
"Oh, ya sudah. Ayo bubar, biarkan bajingan ini merasakan akibatnya!" kata pak Theo membuat mami Gitta dan Dokter Hendro tertawa.
Kamar kembali sepi, Evan mulai merengek seperti bayi.
"Sayang, aku lapar!" ucapnya.
"Kau ingin makan apa?" tanya Via.
"Aku ingin memakan mu lagi," gurau Evan.
"Suka sekali seperti itu. Aku akan mengambilkan susu dan roti sebentar," kata Via.
"Aku mau susu mu, gak mau susu yang lain!" jawab Evan lagi.
__ADS_1
"Evaaaan.....!" Via gemas sendiri dengan suaminya.
Tidak peduli dengan ocehan Evan, Via kembali turun untuk mengambil sarapan untuk suaminya. Saking manjanya Evan, makan dan minum pun minta suapi dengan Via. Beda lagi dengan Via yang terlihat sehat dan bugar juga biasa saja.