Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
93.Aku Mengerti


__ADS_3

"Apa ini, kenapa ada orang yang menjual perlengkapan bayi di halaman rumah kita?" pak Theo syok sendiri melihatnya.


"Siapa yang memberi izin pada kalian semua untuk membuka toko di sini?" tanya mami Gitta juga syok di buatnya.


"Maaf pak bu, ini permintaan tuan Evan. Kami di suruh memindahkan barang jualan kami ke sini,"


"Benar-benar kurang kerjaan!" ucap mami Gitta bergeleng kepala.


"Wah, sudah siap ternyata!" ujar Evan yang baru saja keluar dari dalam rumah.


"Apa maksud dari semua ini?" tanya pak Theo bingung.


"Menantu kesayangan papah itu mengidam ingin belanja. Jadi, aku memindahkan tokonya ke sini,"


Mendengar untuk menantunya, pak Theo tidak jadi marah.


"Oh, lucunya kaos kaki ini," ujar mami Gitta mengambil satu set kaos kaki bayi.


"Mau kemana lagi kau hah?" tanya pak Theo sedikit berteriak.


"Menjemput ratu ku lah, masa jemput bibi di dapur!" jawab Evan bercanda.


Pada awalnya Via yang masih merajuk tidak mau di ajak suaminya keluar. Evan yang kesal langsung menggendong Via menuju keluar rumah.


"Tadaaaa....seperti yang kau minta sayang!" kata Evan dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Via sini. Lihat ini, sangat lucu!" seru mami Gitta.


Via hanya mendelik lalu turun dari gendongan suaminya.


"Duh, papah ngeri lihat perut Via. Takut meledak!" ucap pak Theo yang khawatir.


"Akan lebih ngeri lagi kalau ngambeknya yang meledak. Dunia terasa dingin terutama ranjang!" bisik Evan langsung di benarkan pak Theo.


Melihat lucunya perlengkapan bayi, suasana hati Via kembali seperti semula. Mami Gitta yang berencana menemani pak Theo berangkat ke kantor memutuskan tidak pergi begitu juga dengan pak Theo.


Mereka sibuk memilih perlengkapan bayi sesuai dengan jenis kelamin yang sampai sekarang masih di rahasiakan Evan dan Via.


Di cafe milik Arlan, pria ini tidak menyangka jika dirinya kedatangan pengunjung tak di undang. Meskipun mereka saling kenal, namun Arlan tidak begitu akrab dengan Lili.


"Aku hanya ingin bertanya, kemana Evan membawa Rania malam itu? sampai sekarang Rania menghilang dan tidak pernah kembali?"


"Memangnya kenapa, apa hubungannya dengan mu?" Arlan bertanya curiga.


"Semua barang-barangnya masih utuh di apartemen ku. Aku hanya ingin mengembalikannya."


"Ku harap, kau lebih baik menjauh dan jangan mengganggu Evan lagi. Aku benar-benar tidak tahu kemana Evan membawa Rania. Selama ini kau menghilang, apa kau ikut terlibat malam itu?" tanya Arlan penuh selidik.


"Tidak, sumpah. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai apa yang di lakukan Rania. Pesta itu umum, jadi aku hanya penasaran lalu datang!"


"Saran ku, sebaiknya kau jangan pernah mengganggu Evan terutama Via. Masalah Rania, sebaiknya kau lupakan saja!"

__ADS_1


"Jujur saja, aku hanya terobsesi pada Evan. Aku tidak mencintainya, ku pikir jika mendapatkan laki-laki dingin dan pendiam seperti Evan adalah sesuatu yang sangat menantang!"


Arlan melipat kedua tangannya, lalu berkata, "Jadi, kau hanya ingin melihat sikap Evan jika kau mengejarnya?"


"Em, jika dapat syukur jika tidak ya sudah. Lagian, laki-laki yang dekat dengan ku bukan cuma satu Evan!"


"Memangnya kau dan Evan dekat?"


Jleeeb,...


Lili tertawa garing.


"Tidak juga, hanya saling kenal." jawab Lili malu.


"Ingat kata ku, jangan ganggu Evan lagi. Lupakan masalah Rania, dia sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya!"


"Aku mengerti, lagian sekarang aku lebih nyaman tinggal di luar negeri bersama kekasih ku. Aku hanya penasaran saja, apa yang sudah terjadi malam itu. Aku tidak berani mencari tahu. Malam itu Evan sangat marah dan mengerikan!"


"Jika kau merasa nyaman tinggal di luar negeri, kenapa kau kembali?"


"Aku ingin menjual apartemen ku. Makanya aku ingin mencari Rania dan menyerahkan semua barangnya. Di sempat tinggal bersama ku dulu!"


"Oh, bukan urusan ku juga!" seru Arlan membuat Lili kesal.


Lili melirik jam tangannya, "Ah, sudahlah. Aku harus pergi, aku masih ada urusan. Terimakasih atas waktunya!" ucap Lili kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2