Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
33.Diam Kau!


__ADS_3

"Arlan,....!" sapa Lili yang tak sengaja bertemu dengan Arlan di cafe tempat dimana biasanya Arlan dan Evan nongkrong.


"Eh Lili,...!"


"Ngapain di sini?" tanya Lili basa basi.


"Ngemis,...masa iya ngemis ya nongkronglah!" jawab Arlan bercanda.


"Kalau nongkrongkan harus ada temannya, kenapa kau malah sendirian?" tanya Lili penasaran.


"Aku lagi nungguin Evan, kenapa memangnya?"


Mendengar nama Evan, tanpa izin lagi Lili langsung duduk.


"Arlan, aku di pecat sama Evan!" adu Lili.


"Lah kenapa memangnya?" tanya Arlan yang pura-pura tidak tahu.


"Gara-gara perempuan sialan itu. Aku di pecat sama Evan."


"Perempuan yang mana?" tanya Arlan lagi.


"Si Via, calon istri pak Theo. Perempuan menyebalkan itu,"


"Oh si Via,....!"


"Kamu kenal?" tanya Lili.


"Ya kenal, dia orang yang asyik. Seru aja gitu!"


Wajah Lili langsung masam.

__ADS_1


"Mau apa kau di sini?" tanya Evan yang baru saja tiba.


"Evan,....!" sapa Lili seakan tak merasa bersalah.


"Kau membawa dia?" tanya Evan pada Arlan.


"Tidak, kami tidak sengaja bertemu!" jawab Arlan jujur.


"Van,...apa kau masih marah pada ku?" tanya Lili yang berusaha meraih tangan Evan.


"Apa sih, main pegang aja!" sentak Evan tidak suka.


"Kamu masih marah ya Van?"


"Duh, aku pergi dulu Lan," ujar Evan buru-buru pergi.


Lili berusaha mengejar Evan namun Arlan mencoba menahan wanita itu.


Akhir pekan yang seharusnya mengenakan untuk Evan malah berujung membosankan. Niat hati ingin nongkrong dengan Arlan malah bertemu dengan Lili.


"Baru kemarin mengejar Via, eh sekarang malah menggandeng perempuan lain. Dasar lelaki...!" ucap Evan yang geram melihat Randi yang baru saja masuk restoran, "eh, ngapain aku disini?" Evan bingung sendiri.


"Si jomblo ngapain di sini?" tanya Via mengejutkan Evan.


"Heh, ni perempuan ada di mana-mana perasaan. Ngapain kamu di sini?" Evan malah balik bertanya.


"Ya mau makan, masa mau mulung. Lah kau ngapain di sini?"


"Mau buang sampah. Ya mau makanlah. Orang miskin punya gaya juga ternyata makan di tempat seperti ini," ejek Evan sengaja memancing amarah Via.


"Nanti juga aku akan kaya. Uang mu uang ku!" sahut Via dengan senyum lebarnya. Wanita ini masuk kedalam restoran seorang diri meninggalkan Evan yang terus menggerutu kesal.

__ADS_1


Evan ingat jika Randi baru saja masuk kedalam restoran. Buru-buru lelaki itu masuk mengejar Via.


"Kenapa malah mengikuti ku hah?" tanya Via tidak senang.


"Heh, bentar. Ada yang mau aku tunjukan pada mu!" ujar Evan lalu matanya liar mencari Randi.


"Apa sih?"


"Nah, lihat itu. Baru kemarin dia mengejar mu, tapi sekarang malah makan mesra dengan perempuan lain," kata Evan sambil menunjuk ke arah Randi.


"Ya ampun, terus aku harus apa? cemburu gitu? calon suami ku lebih tampan dari dia!"


"Hih, papah ku yang sudah tua itu kau bilang tampan?" Evan mencibir papahnya sendiri.


"Ya, jika tidak ada bibit dari papah mu, mana mungkin kau terlahir sangat tampan seperti ini," ujar Via lalu menarik kursi dan duduk.


Senyum Evan melebar, pria ini juga menarik kursi dan duduk di hadapan Via.


"Apa benar aku ini tampan?" tanya Evan dengan suara kecilnya.


"Jika tidak tampan, mana aku mau!" jawab Via membuat Evan bingung.


"Apa sih kau ini, tidak nyambung!"


"Diam kau!" sentak Via, "aku datang kesini untuk menikmati makan siang ku. Bukan untuk berdebat dengan mu!"


"Aku yang traktir. Tenang saja, kau kan miskin!"


"Mulut mu ini, lihat saja nanti. Akan ku balas kau!" ucap Via geram, "aku sudah mematahkan apa kata orang yang mengatakan jika kau ini dingin, cuek dan acuh. Nyatanya seperti nenek-nenek yang kehilangan gigi,"


"Wah mulut kau ini, eeeee.....!" ingin sekali Evan menggerus mulut Via yang bicara sangat tajam itu.

__ADS_1


__ADS_2