
Siang telah berganti malam, seharian ini Evan tidak melihat Via. Dalam benak Evan mulai merasa penasaran dimana sang calon ibu itu berada. Selesai makan malam, Evan berniat mencari angin segar di luar. Pria ini berjalan-jalan di sekitar area hotel.
Buug.....
"Ah, maaf...!"
"Tidak apa-apa, aku terburu-buru!" ucap Via dengan senyum khasnya.
"Barang-barang mu jadi berantakan semua," ujar Rania ikut membantu Via memungut barang-barang yang jatuh berserakan.
"Sepertinya kau harus menggunakan mata mu lebih tajam lagi. Kenapa kau suka sekali menabrak orang?" suara dingin dan berat mengejutkan Rania dan Via.
"Evan,....!" seru kedua wanita itu bersamaan.
Rania menoleh kearah Via, "Kau kenal dengan Evan?" tanya wanita itu mulai penasaran.
"Ya, aku kenal!" jawab Via tegas, "apa kau teman Evan?" Via bertanya balik.
"D-dia,...dia....!" Rania bingung ingin menjawab apa, "oh, dia kekasih ku!" kata Rania sungguh sangat mengejutkan Via dan juga Evan.
Evan mengambil barang Via yang masih berada di tangan Rania lalu menarik tangan Via.
"Jangan asal bicara di depan calon istri ku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa jadi, jaga bicara mu!" ucap Evan dengan wajah dingin menatap tidak suka pada Rania.
__ADS_1
Lelaki itu menarik Via untuk pergi. Via yang masih bingung mencoba mencerna satu persatu ucapan Evan.
"Van, itu mantan yang kau maksud?" tanya Via penasaran, "kau mengundang dia kah?"
"Enak saja, aku juga tidak tahu kenapa dia bisa ada di sini," ujar Evan.
"Van, mantan mu sangat cantik ya!" puji Via yang tangannya masih di pegang Evan.
"Masih cantikan kau. Jadi, ku harap kau jangan cemburu!"
"Heh, siapa yang cemburu hah?" tanya Via mengejutkan Evan. Pria ini langsung melepaskan tangan Via.
"Em, maaf. Aku terbawa suasana!"
"Van, kau sepertinya sangat membenci dia. Siapa namanya?"
"Aku pergi ke makan ayah ku untuk meminta restu. Memangnya kenapa?" tanya Via penasaran.
"Tidak, kembali ke kamar mu. Besok kau akan menikah, kau harus beristirahat sekarang,"
"Kau juga harus beristirahat Van. Kau terlihat sangat lelah!"
"Jangan pedulikan aku. Pergilah!" Evan bersikap acuh pada Via. Tanpa menoleh kearah Via, Evan berlalu pergi.
__ADS_1
Malam semakin larut, Evan berusaha memejamkan matanya. Namun, tetap saja pria ini tidak bisa tidur. Pada akhirnya Evan memilih keluar kamar berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel agar nanti dia bisa segera tidur.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Evan yang tidak sengaja melihat Via yang duduk di dekat kolam renang.
"Aku tidak bisa tidur!" jawab Via.
Evan duduk di samping Via, "Kenapa?" tanya pria itu.
"Van, apa benar perempuan yang menabrak ku tadi itu masih memiliki hubungan dengan mu?" tanya Via penasaran.
"Tidak, dia hanya mengada-ada. Memangnya kenapa?" Evan bertanya balik.
"Penasaran aja sih. Kok dia berani mengaku seperti itu?"
"Katanya dia sudah bercerai, makanya dia berani berkata seperti itu,"
"Apa kau masih memiliki perasaan padanya Van?" tanya Via lagi.
"Tidak, masih banyak perempuan lain yang lebih pentas bersama ku. Jadi, kenapa harus kembali dengan dia?"
"Ku pikir kau masih mencintainya. Ah, sudahlah. Aku mengantuk, sekarang aku mau tidur dengan nyenyak!" ujar Via langsung bangkit dari duduknya.
Via meninggalkan Evan yang kebingungan seorang diri. Laki-laki menggaruk kepalanya tak gatal.
__ADS_1
"Lah, kenapa aku jadi curhat dengan dia?"
Evan melirik jam yang melingkar di tangannya dan buru-buru kembali ke kamar untuk segera beristirahat.