Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
37.Aku Minta Maaf


__ADS_3

Dengan malas Evan membuka pintu kamarnya, pria ini sangat terkejut karena bukan Arlan yang datang melainkan Rania. Tentu saja bukan Arlan, karena Evan baru beberapa menit yang lalu menghubungi sahabatnya itu.


Tanpa memiliki rasa malu dan bersalah, Rania langsung memeluk Evan. Evan kaget, buru-buru lelaki ini mendorong tubuh Rania.


"Aku sangat merindukanmu Van," ucap Rania.


"Pergilah, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," usir Evan. Wajahnya masih tetap sama, dingin dan tak bersahabat.


"Van, aku minta maaf!"


"Pergilah, aku tidak ingin suami mu salah paham nanti," sekali lagi Evan mengusir Rania.


"Aku sudah bercerai Van. Ku sangka dia laki-laki terbaik, nyatanya kau lah yang paling terbaik untuk ku," ucap Rania berusaha meruntuhkan pertahankan Evan.


"Tidak ada hubungannya dengan aku. Pergilah, aku tidak ingin melihat mu!" tegas Evan langsung menutup pintu kamarnya.


Entah kesialan apa yang menimpa Evan hari ini, seharusnya dia bahagia melihat papahnya akan menikah. Namun, nyatanya hati Evan galau tanpa alasan, semakin galau lagi ketika masa lalunya tiba-tiba muncul begitu saja.


"Tuhan, kenapa kau suka sekali melihat ku galau?"


Baru juga Evan hendak mendaratkan pantatnya di sofa, bel kembali berbunyi. Dengan perasaan kesal, Evan menendang sofa tersebut. Ternyata Arlan, Evan celingukan sedang mencari seseorang.

__ADS_1


"Heh, siapa yang kau cari?" tanya Arlan penasaran.


"Rania, baru saja dia dari sini," jawab Alan langsung menarik Arlan masuk kedalam kamarnya.


"Kok aneh, kenapa tiba-tiba dia muncul di hotel ini. Ada apa sebenarnya?" tanya Arlan lagi, karena pria ini sangat penasaran.


"Aku juga tidak tahu!" seru Evan.


"Sama suaminya?"


"Tidak, dia bilang sudah bercerai...!"


"Apanya yang bagus?" tanya Evan bingung.


"Kau dan Rania tidak ada kata putus. Kalian bisa melanjutkan hubungan lagi. Kau masih mencintainya kan?"


"Apa kata mu?" sentak Evan, "enak saja. Kau pikir aku mau makan barang sisa seperti itu terlebih lagi dia sudah menyakiti ku."


"Van, ku pikir kau masih mencintainya!"


"Dari mana otak mu mendapatkan kesimpulan seperti itu?" tanya Evan geram.

__ADS_1


"Ya karena selama ini kau tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Ku pikir kau masih mencintainya."


"Enak saja, dari pada aku kembali berhubungan dengan dia, lebih baik aku merebut Via dari papah."


"Lah, kenapa tidak Lili saja? dia kan Jomblo!"


"Saran mu tidak ada yang masuk sama sekali. Mau dia sudah bercerai, mau anaknya sepuluh atau apa pun itu, aku tidak akan mungkin kembali pada orang yang sudah menyakiti ku!"


"Jangan seperti itu Van, mana tahu hati jika dia sudah memilih. Kau dan Rania hampir tujuh tahun menjalani hubungan. Jika kredit mobil, mungkin sudah dapat dua mobil kali ya,"


"Ah, sudahlah. Jangan bahas dia, aku sedang galau!" ujar Evan.


"Galau karena Rania?" tanya Arlan memastikan.


Evan menghembuskan nafas kasar, "Bukan, tapi karena pernikahan papah ku," jawab Evan lesu.


"Lah kenapa, ini kabar bahagia. Itu artinya sebentar lagi gelar anak tunggal, tampan dan kaya raya akan segara musnah. Kau akan segera memiliki seorang adik dari Via," tutur Arlan membuat Evan semakin kesal dan emosi.


"Menjijikkan, tahun depan usia ku tiga puluh tahun. Sungguh menjijikan jika aku harus memiliki seorang adik,"


"Namanya juga takdir Van. Yang sabar ya, pertebal lagi kulit wajah mu agar kau kuat menahan omongan orang!" ujar Arlan langsung mendapatkan bogem mentah di kakinya.

__ADS_1


__ADS_2