Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
26.Mau Apa kau?


__ADS_3

Dua hari kemudian, Evan dan Via sudah kembali bekerja seperti biasanya. Wajah Lili masam ketika saling berpapasan dengan Via. Wanita ini sejak tadi sudah berdiri di loby untuk menunggu kedatangan Evan.


Ketika melihat mobil Evan, wanita ini langsung menunjukkan wajah seolah marah pada Evan. Evan cuek, pria ini melangkah santai menuju ruangannya. Tanpa izin, Lili juga ikut masuk ke dalam ruangan Evan.


"Mau apa kau?" tanya Evan tidak suka.


"Aku tidak suka melihat mu dekat dengan Via. Van, jaga perasaan ku!"


Evan terperangah, pria ini bingung dengan perkataan Lili, "Siapa kau, kenapa aku harus menjaga perasaan mu?" Evan tertawa geli.


"Aku menyukai mu Van. Aku cemburu ketika melihat kau selalu menempel pada Via. Sadar Van, dia calon istri dari papah mu!"


"Aku tahu dia calon ibuku, aku sadar akan hal itu. Lalu kenapa kau yang repot?"


"Ku tegaskan sekali lagi Van, aku menyukai mu. Aku cemburu melihat kau dekat dengan Via!"


"Aku tidak pernah menyukai mu," ucap Evan dengan wajah dinginnya, "sejak dulu hingga sekarang aku hanya mengaggap mu seorang teman. Bukankah kau tahu akan hal itu?"


"Sekali saja Van, ku mohon mengerti dengan perasaan ku. Coba buka hati mu, kita bisa mencoba hubungan ini," Lili memohon.


"Keluarlah Lili. Ini kantor, aku tidak ingin membahasnya!" usir Evan.

__ADS_1


"Aku tidak mau, kau harus memberi ku kepastian!" tolak Lili melangkah maju hendak meraih tangan Evan namun dengan cepat Evan menepis tangan wanita itu.


"Sudah berapa kali aku tegaskan pada mu. Aku tidak menyukai mu, jadi jangan berharap banyak pada ku."


"Van,....!"


"Keluarlah,...!" usir Evan semakin menunjukkan wajah dinginnya.


Lili menghentakkan kakinya,wanita ini keluar dengan perasaan marah.


"Sialan, ide Arlan untuk mempekerjakan Lili di kantor ini ternyata malah membuat ku tersiksa!" Evan kesal sendiri pada sahabatnya.


Evan mencoba menghubungi supir papahnya yang mengatakan jika Via dan pak Theo sedang melihat-lihat gedung untuk resepsi pernikahan.


"Mereka semakin serius saja! sialan!" umpat Evan lalu melajukan mobilnya.


Ternyata Evan bertemu dengan Randi, Randi sedikit menatap tidak suka pada Evan.


"Kemana saja kau dengan Via kemarin?" tanya Randi kesal.


"Mengantar Via berziarah ke makam ibu!" jawab Evan dengan santainya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang pada ku. Seharusnya biarkan aku yang mengantar Via," protes Randi.


"Aku lupa pada mu!" seru Evan membuat hati Randi semakin panas.


"Kau sendiri yang menyuruhku untuk mengejar Via. Lalu kenapa kau yang semakin dekat padanya?" tanya Randi geram.


"Aku hanya menjalankan perintah papah ku."


"Kau kan bisa menolak, lagian papah mu juga lucu. Kenapa dia yang sudah tua lebih memilih Via sebagai pasangannya?"


"Aku juga tidak tahu, bahkan sekarang mereka sedang pergi melihat gedung untuk pernikahan!" ujar Evan membuat mata Randi terbelalak lebar.


"Van, kau anaknya. Kau harusnya bisa mencegah pernikahan mereka!"


"Aku lebih baik diam, dari pada aku harus di tendang dari keluarga ku!" ujar Evan.


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Randi mulai bingung.


"Ah, untuk ini maaf. Aku tidak bisa membantu. Kau yang menyukai Via jadi kau sendiri yang harusnya berjuang!" ucap Evan lalu pamit pergi.


"Sialan!" umpat Randi kesal.

__ADS_1


__ADS_2