
Setelah pekerjaan kota S selesai, Evan dan Via ternyata masih harus pergi ke Kota B yang akan memakan waktu selama dua minggu. Pada awalnya Evan menolak keputusan sang papah namun nyatanya Evan harus menurut juga.
"Jadi, kau akan pergi berdua saja dengan Via?" tanya Lili yang sangat terkejut.
"Ya, kau harus kembali untuk menggantikan pekerjaan ku yang lain," ujar Evan yang terlihat biasa saja.
"Evan, kenapa harus Via? kenapa tidak aku saja yang pergi bersama mu?" protes Lili.
"Ini permintaan papah ku, kenapa kau yang harus mengatur?" tanya Evan yang mulai tidak suka dengan sikap Lili.
"Aku Sekretaris mu, sudah sepantasnya aku mendampingi mu kemana pun kau pergi,"
"Sekarang aku akan bertanya pada mu, siapa yang menggaji mu? kenapa kau banyak bicara?" tanya Evan membuat Lili terdiam sejenak.
"Tapi Evan, kenapa kau harus pergi dengannya?"
"Kau ini kenapa?" tanya Evan meninggikan suaranya, "Aku dan Via pergi bekerja. Kenapa pemikiran mu seolah kau tidak mengizinkan aku pergi bersamanya?"
"Aku hanya khawatir pada mu!"
__ADS_1
"Apa yang kau khawatirkan?" tanya Evan, "Aku sudah biasa melakukan pekerjaan di luar kantor. Via tangan kanan papah ku, jadi wajar jika dia menemani ku."
"Tapi, bukannya kau tidak menyukai dia?"
"Ini masalah pekerjaan. Bukan masalah pribadi. Jika kau sudah tidak betah bekerja dengan ku, kau bisa mengundur diri," ucap Evan berlalu pergi.
Lili menghentakkan kakinya tidak terima. Evan dan Via akan melakukan penerbangan ke kota B sedangkan dirinya harus kembali ke kota K seorang diri bersama supir.
"Kakek-kakek itu harus segera di singkirkan. Jika tidak dia akan menjadi penghalang aku untuk mendapatkan Evan!" ucap Lili yang benar-benar kesal.
Sementara itu, Via yang sudah bersiap untuk berangkat ke bandara masih harus menunggu Evan yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya. Via juga sebenarnya malas sekali untuk melakukan pekerjaan yang harus di ekori oleh Evan.
"Kenapa juga aku harus pergi dengan mu?"
"Diam kau!" sentak Evan, "Jika bukan karena permintaan papah, aku tidak akan mau pergi bersama mu!"
"Kenapa kau tidak pergi bersama Lili saja dan biarkan aku kembali pulang?"
"Dari pada bersama Lili, lebih baik aku pergi bersama mu!" sahut Evan.
__ADS_1
"Bukankah dia teman baik mu, kenapa kau seperti tidak menyukainya?" Via mulai penasaran.
Evan tidak menjawab, laki-laki ini langsung masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Via.
"Evan jawab!" paksa Via.
"Apa yang harus aku jawab?"
"Pertanyaan ku yang tadi,"
"Tidak mau, siapa kau yang berani memaksa ku?"
"Aku calon ibu mu. Setidaknya, sebagai seorang ibu aku harus tahu apa yang sedang di rasakan oleh calon anak ku ini," kata Via sangat membuat Evan geli.
"Kita berselisih umur tiga tahun, kau lebih pantas menjadi adik ku dari pada ibu ku. Menggelikan!"
Via tertawa, berita yang dia dengar Evan adalah laki-laki dingin dan cuek pada semua wanita. Namun nyatanya, setelah mengenal Evan sedikit banyak Via tahu karakter Evan yang sebenarnya butuh teman bicara.
"Anggap saja ini pergi liburan. Calon suami ku itu memang baik, membiarkan aku pergi bersama anaknya yang tampan ini," ucap Via yang membuat Evan ingin sekali menjambak rambut Via.
__ADS_1