
Evan benar-benar tidak bisa menahan tangis haru bahagianya ketika anak pertamanya di angkat dari perut sang istri. Tangannya bergetar hingga Evan tidak mampu untuk menggendong buah hati pertamanya.
Tidak henti-hentinya Evan mengecup dan menciumi seluruh wajah Via. Memberi semangat pada istrinya yang nampak lemas dengan wajah pucat. Tangis bayi mungil itu memenuhi sudut ruangan lalu di sambung lagi dengan tangis kedua dari bayi kedua.
Lemah sudah kaki Evan, laki-laki ini berpikir keras bagaimana bisa seorang perempuan yang sebagian di pandang lemah bisa menanggung beban seperti ini. Melahirkan dua orang anak manusia, sungguh Evan benar-benar lemas di buatnya.
Ah, tidak. Bukan hanya dua ternyata, Dokter, perawat dan Evan di buat syok ketika Dokter mengatakan masih ada satu anak lagi yang tertinggal. Semuanya benar-benar di buat syok dengan keajaiban Tuhan ini.
"Bagaimana bisa tiga Dok?" tanya Evan tidak mengerti, "Selama ini kah hanya dua. Kita tahu akan hal itu...!" Evan masih tidak percaya.
"Saya belum bisa menjelaskannya sekarang. Yang jelas ini adalah keajaiban Tuhan!" ujar Dokter lalu mengangkat satu anak terakhir dari dalam perut Via.
Riuh sudah ruangan ini, seharusnya Via melahirkan dua bayi kembar ternyata Tuhan memberi mereka tiga anak sekaligus dalam satu waktu.
Evan yang benar-benar lemas tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
"Sayang, tiga...!" ucap Evan dengan mengangkat tiga jarinya. Wajah Evan sudah tidak bisa di jelaskan lagi ekspresinya.
__ADS_1
"Kok bisa?" Via sendiri tidak percaya mendengarnya.
Semakin syok pasangan suami istri ini ketika melihat tiga bayi dalam gendongan tiga perawat.
"Anak pertama dan kedua berjenis kelamin laki-laki, dan yang ketiga perempuan!" kata Dokter memberitahu, "selamat untuk kalian berdua. Tuhan memberi lebih atas apa yang kalian impikan sebagai orangtua!" ucap Dokter.
Evan hanya mengangguk, tangannya terus menggenggam tangan istrinya yang sekarang sedang di lakukan tahan akhir.
"Apa tuan Evan ingin menggendong mereka?" tanya seorang perawat.
Evan menoleh kearah Via, lalu mengangguk.
Air mata yang sempat terhenti kini kembali mengalir dengan deras lagi.
"Anak Daddy. Sayang, lihatlah anak pertama kita...!" Evan memperlihatkan anak pertamanya pada Via.
Air mata wanita itu jatuh begitu saja padahal sejak masuk ke dalam ruangan operasi Via nampak terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Anak mommy. Bee, sekarang aku sudah memiliki keluarga yang lengkap!" kata Via dalam isak tangisnya.
Dokter yang masih menangani Via ikut terharu melihat pasangan suami istri yang sedang menangis ini.
"Dok, jangan baper Dok," ucap perawat di samping.
"Ah, tidak. Hanya terharu saja!"jawab Dokter.
Satu persatu Evan memperlihatkan wajah anak-anaknya pada Via. Ketika menggendong anak ketiga yang tidak pernah terpikirkan oleh Evan dan Via, sejenak Evan menatap wajah cantik mungil anaknya ini.
"Kau bersembunyi di mana sayang, kenapa kau tidak terlihat kemarin?" tanya Evan, "apa kedua kakak mu membully mu di dalam sana? katakan pada daddy nak, daddy akan memarahi kedua kakak mu!"
Hilang sudah suasana sedih di dalam ruangan ketika mendengar ucapan Evan membuat beberapa Dokter dan beberapa perawat tertawa. Begitu juga dengan Via yang langsung mengusap air matanya lalu tertawa.
Setelah semuanya selesai, perawat mulai bersiap-siap untuk memindahkan Via ke ruang rawat yang sudah di persiapkan.
Pintu ruangan terbuka, pak Theo, mami Gitta dan Arlan langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan langsung berdiri di depan Pintu.
__ADS_1