Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
25.Kenapa?


__ADS_3

Via hanya duduk terdiam di depan makam ibunya. Benaknya menjerit kerinduan yang tak bisa dia ucapkan. Evan tidak ikut masuk kedalam makam karena laki-laki ini mengerti jika Via butuh waktu untuk sendiri.


Tak berapa lama Via keluar dari area pemakaman. Jelas terlihat jika mata wanita ini sedikit sembab.


"Kau bisa menangis juga ternyata!" cibir Evan.


"Sialan!" umpat Via, "orang lagi sedih juga!"


"Aku sangat lapar, semiskin apa dirimu sehingga kau tidak memberi ku makan?" keluh Evan sambil memegang perutnya.


"Yang menyuruh mu untuk ikut siapa hah?" tanya Via kesal.


Paniklah Evan, lagi-lagi nama sang papah menjadi tumbal. Tak ingin beradu mulut terlalu lama, Evan dan Via pergi untuk mencari makan siang.


"Apa kita akan langsung pulang?" tanya Evan.


"Biasanya aku akan menginap satu malam. Jika kau ingin pulang, pulanglah dulu,"


"Wah,...enak saja kau ini. Berangkat berdua pulang juga harus berdua!" protes Evan.


"Hih, kau suka ya dekat-dekat pada ku?"

__ADS_1


"Hah, aku?" tunjuk Evan pada dirinya sendiri, "aku sebenarnya tidak suka pada perempuan centil seperti kau!"


"Kalau tidak suka, kenapa kau selalu menempel pada ku?" tanya Via langsung membuat Evan membuang pandangannya.


Via terkekeh geli, wanita ini kembali melanjutkan makannya. Sementara itu, Randi yang datang menjemput Via untuk makan siang merasa kecewa karena tidak dapat menemui Via.


"Jika kau suka pada Via, seharusnya kau bisa membuat dia menjauh dari Evan dan papahnya. Teman macam apa sih kau ini?" Lili berkata sangat sinis pada Randi.


"Kenapa kau berkata seperti itu, apa kau cemburu melihat mereka?" tanya Randi.


"Hih, kau juga pasti cemburu kan?"


"Dasar perempuan menyebalkan!" seru Randi kemudian pergi. .


Menjelang sore, Via dan Evan mencari hotel untuk tempat menginap mereka malam ini. Via merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang sangat empuk tersebut.


"Ya ampun, pergi sama Evan sama sekali tidak mengeluarkan uang. Hotel aja dia pilih yang mahal!" ucap wanita ini merasa senang.


Via langsung membersihkan diri, begitu juga dengan Evan. Menjelang malam mereka keluar bersama-sama.


Via mengajak Evan pergi ke pusat kota, tentu saja di sana sangat ramai dan terdapat banyak penjual makanan.

__ADS_1


"Kau suka pergi ke tempat ramai seperti ini?" tanya Evan.


"Ya, berbeda seperti kau yang suka berdiam diri di dalam gua!" sahut Via.


"Kau ini, lama-lama suka sekali mengejek ku. Papah ku bisa mati terkena serangan jantung nanti."


"Jahatnya mulut mu, kau mendoakan papah mu ya?"


"Enak saja. Jika kau terus bersikap petakilan seperti ini, papah ku bisa mati cepat nanti,"


"Lah kenapa, aku memang seperti ini. Jika kau tidak suka ya skip saja!"


Evan gemas sendiri dengan Via, wanita ini tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.


"Jauh kan aku dari jodoh seperti ini Tuhan!" Evan berdoa memohon.


"Dekatkan jodoh kami Tuhan!" balas Via.


"Heh, apa maksud mu hah? kau mau aku laporkan pada papah ku?" ancam Evan.


"Lapor saja, aku tidak takut!" Via tertawa mengejek Evan. Wanita itu langsung keluar dari mobil setelah Evan memarkirnya beberapa saat.

__ADS_1


"Dasar perempuan aneh!" Evan semakin geram dengan sikap Via.


__ADS_2