Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
80.Aku Lapar


__ADS_3

"Sebaiknya papah dan mami pulang beristirahat. Biar aku yang menjaga Via," kata Evan yang tidak tega melihat wajah lelah papahnya.


"Ya sudah, kalau begitu papah pulang dulu. Jaga Via,...!" pesan pak Theo.


Mereka akhirnya pulang, tinggallah Evan seorang diri menjaga istrinya yang belum sadarkan diri juga.


Evan memandang wajah memar istrinya, rahang pria ini masih mengepal keras menahan amarah.


"Aku haus...!" lirih Via mengejutkan Evan.


"Sayang, kau sudah sadar!" Evan buru-buru mengambil air minum untuk istrinya.


Evan membenarkan posisi Via yang meminta untuk duduk.


"Minum dulu,...!" kata Evan, "apa itu sangat sakit?" tanya Evan dengan polosnya.


"Aku baik-baik saja, tapi wajah ku sangat lelah!" keluh Via yang tak berani menyentuh wajahnya.


"Anak kita baik-baik saja. Maaf, karena permintaan ku kau harus seperti ini," ucap Evan kembali merasa bersalah.


"Namanya musibah, tidak akan ada yang tahu datangnya. Senyum lah, jangan menyalahkan diri mu bee," Via menggenggam tangan suaminya.


"Jika dalam waktu dua puluh empat jam aku tidak bisa menemukan mu. Sudah ku pastikan kepala ku akan tergantung di bawah jembatan!" kata Evan membuat Via tertawa.

__ADS_1


"Terimakasih sudah menyelamatkan ku bee!" ucap Via.


"Aku tidak suka melihat mu dalam masalah. Jadi, sebisa mungkin kau harus menghindari masalah," ujar Evan.


"Oh, apa ini alasan mu yang dulu selalu membantu ku?" tanya Via.


Itu kan karena kau calon ibu ku!" kilah Evan.


"Bee, aku lapar. Mereka tidak memberi ku makan!"


Evan melirik jam yang melingkar di tangannya, masih pukul satu malam.


"Tunggu sebentar!" kata Evan langsung beranjak dari duduknya. Tak berapa lama Evan kembali masuk lagi.


"Dari mana?" tanya Via penasaran.


"Apa ada cermin?" tanya Via membuat Evan bingung.


"Untuk...?" tanya Evan.


"Aku ingin melihat wajah ku," jawab Via lalu Evan mengambil cermin kecil dari dalam laci nakas.


Via melihat wajahnya yang babak belur, warna kemerahan mendominasi di wajahnya.

__ADS_1


"Wajah ku bengkak, aku sangat jelek!" ucap Via.


"Yang penting aku tetap cinta!" seru Evan.


"Ku pikir kau akan menendang ku dan menikah lagi," kata Via menggoda suaminya, "ngomong-ngomong, bagaimana kabar mereka. Kiran dan Randi?" tanya Via yang baru ingat.


"Aku sudah melempar mereka ke penjara. Kau tenang saja, mulai sekarang mereka tidak akan mengganggu mu lagi," jawab Evan.


Tiba-tiba wajah Via terlihat murung, wanita ini ingat lagi apa yang di katakan Sinta tadi siang.


"Ternyata, aku dan Kiran bukan saudara Tiri," ucap Via memberitahu suaminya.


"Maksudnya?" tanya Evan tidak mengerti.


"Ku pikir Kiran anak tante Sinta dengan laki-laki lain sebelum menikah dengan ayah. Ternyata, Kiran adalah anak kandung tante Sinta dan ayah. Kami satu ayah beda ibu."


"Kenapa seperti itu?"


"Sebelum menikah dengan ibu, tante Sinta pernah menjalin hubungan dengan ayah dan hamil. Ibu sudah merusak hubungan mereka!"


"Jangan menelan informasi mentah-mentah, mereka adalah orang jahat. Siapa tahu itu hanya ingin membuat mu sakit hati saja."


"Entahlah, aku tidak tahu. Aku tidak ingin peduli lagi. Sekarang aku hanya ingin fokus pada keluarga kecil kita, menunggu kelahiran anak kita ini."

__ADS_1


Pintu ruangan di ketuk, Evan membuka lalu mengambil makanan yang dia pesan. Evan menyuapi istrinya makan dengan sangat hati-hati, karena bibir Via masih sangat perih jika terkena sesuatu.


Selesai makan, Via kembali beristirahat. Begitu juga dengan Evan yang tertidur sambil duduk dengan menggenggam tangan istrinya.


__ADS_2