Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
44.Pergilah


__ADS_3

Mata Evan kembali tak berkedip ketika melihat Via yang baru saja selesai di rias. Gaun berwana gold melekat indah di tubuh istrinya. Namun sayang, sampai detik ini Evan belum bisa mengatakan perasaannya.


Via terlihat sangat cantik dan anggun, Evan benar-benar terhipnotis dengan kecantikan Via. Meskipun Rania sangat cantik bahkan kecantikan Via masih berada di bawah Rania, tetap saja Evan lebih kagum melihat Via.


"Van, kau kenapa?" tegur Via mengejutkan Evan.


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Evan dengan wajah gugupnya.


"Bilang saja aku cantik ya kan?" ujar Via.


"Kata siapa kau cantik hah?"


"Ya,...ya,...hanya mantan mu yang cantik. Aku ini kah hanya perempuan dari kalangan biasa, mengenakan gaun seperti ini membuat ku merasa jika diri ku paling cantik. Seharusnya aku memuji diri ku sendiri, bukan bertanya pada mu!" ucap Via lalu mengangkat gaunnya untuk pergi ke gedung resepsi.


Evan merasa bersalah, pria ini sudah menyinggung perasaan Via. Kesannya memang bercanda, namun perkataan Via yang terakhir menunjukkan dengan jelas jika wanita itu sangat kecewa dengan Evan.


Buru-buru Evan mengejar Via, melihat wanita ini sedikit kesusahan berjalan.


"Biar aku bantu," ujar Evan, "Kenapa kau tidak minta bantuan untuk membawa gaun mu ini?"


Via menepis tangan Evan, "Tidak usah Van. Aku bisa sendiri," ujar Via kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Selain kerasa kepala, ternyata kau ini mudah tersinggung juga ya?" kata Evan menghentikan langkah Via.


"Aku sama sekali tidak seperti itu. Aku sadar diri, aku tidak secantik orang lain. Lalu, apa salahnya jika aku mengatakan kebenaran? Mungkin, khayalan ku yang terlalu tinggi untuk bersanding dengan mu. Seharusnya aku tidak menyetujui rencana papah mu."


Via kembali melanjutkan langkahnya, Evan yang benar-benar tidak peka hanya diam saja. Setibanya di gedung, Via berdiri sedih menatap pintu yang menjulang tinggi ini.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Evan.


"Berpura-puralah untuk malam ini Van. Aku tidak ingin mengecewakan papah mu!" pinta Via membuat Evan terdiam.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu," ucap Evan.


"Kita bahas nanti saja. Mari masuk, semua orang sudah menunggu kita," ujar Via.


Pintu di buka, Evan dan Via masuk kedalam ruangan dengan riuh tepuk tangan dari tamu. Via hanya memandang ke depan, wanita ini juga tidak terlalu erat menggandeng tangan Evan.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, Rania memandang penuh rasa cemburu pada Evan dan Via. Rania memang sangat cantik jika di banding Via, hal ini lah yang membuat hati Via sedikit goyah.


Mereka duduk di kursi pelaminan, pak Theo memandang penuh rasa bahagia pada anaknya.


"Akhirnya Evan menikah juga ya om?" ujar Arlan.

__ADS_1


"Em, jika tidak seperti ini, bajingan itu tidak akan mau menikah!" kata pak Theo.


"Rencana om memang luar biasa. Patut di beri penghargaan," canda Arlan membuat pak Theo tertawa.


"Hallo om, selamat malam," sapa Rania yang tiba-tiba berdiri di samping Arlan.


Seketika senyum bahagia pak Theo menghilang berubah menjadi dingin.


"Siapa yang mengundang dia?" tanya pak Theo berbisik pada Arlan.


"Sepertinya Evan om!" jawab Arlan mulai ketakutan.


"Mau apa kau di sini?" tanya pak Theo menatap tidak suka pada Rania. Pak Theo tahu betul jika perempuan ini lah yang menyebabkan anaknya berubah.


"Om apa kabar?" tanya Rania dengan sopannya, "Ini Rania om,"


"Aku tidak peduli siapa kau. Jangan pernah mengusik atau pun mengganggu anak ku lagi," ujar pak Theo geram. Pria paruh baya langsung membuang pandangan.


"Pergilah,....!" ujar Arlan mengusir Rania.


Mau tidak mau Rania kembali kemejanya, rasanya cukup sakit juga ketika melihat Evan bersanding dengan perempuan lain. Apa lagi Evan dan Via sangat pandai bermain drama, mereka terlihat romantis di atas sana.

__ADS_1


"Mereka pasangan yang cocok, tapi akan lebih dan sangat cocok lagi jika aku yang berada di samping Evan!" ucap Rania tidak tahu diri.


__ADS_2