Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
79.Pegang Dia!


__ADS_3

Evan melepas jaket dan membuangnya sembarang ketika masuk kedalam gudang yang berada di bawah perusahaannya. Ketika Evan melihat Randi, emosi pria itu kembali naik. Evan tidak peduli dengan Randi yang sudah tak berdaya, lagi-lagi Evan menghajar Randi hingga membuat Randi muntah darah.


Randi sudah tergeletak tak sadarkan diri, Arlan dan beberapa anak buah hanya berdiri menonton.


"Kirim bajingan itu ke penjara!" titah Evan.


Arlan dan salah seorang anak buah langsung menyeret Randi keluar dari gudang. Sekarang hanya tersisa Sinta dan Kiran yang sama seperti Via tadi, terikat di kursi.


Plaaaak....plaaaak.....


Evan memukul wajah Sinta dan Kiran bergantian. Tidak peduli jika mereka adalah seorang perempuan.


"Kalian sudah membuat wajah istri ku babak belur. Sudah berapa kali ku peringati untuk tidak mengusik istri ku hah?"


Suara Evan menggema di seluruh ruangan.


"Istri mu memang pantas menerimanya!" sahut Sinta dengan beraninya.


"Ya, Via pantas mati...!" teriak Kiran.

__ADS_1


"Ambilkan aku gunting!" titah Evan malah membuat Sinta dan Kiran panik.


"Mau apa kau hah?" tanya Kiran dengan wajah paniknya.


sreeeeet.....


Tanpa perasaan Evan menggunting sudut bibir Kiran. Wanita tersebut menjerit kesakitan begitu juga dengan Sinta yang syok melihat darah segar mengalir dari mulut anaknya.


Tidak banyak bicara, Evan juga memotong rambut Kiran dan Sinta sembarangan. Ibu dan anak itu berusaha berontak namun tetap saja tenaga mereka kalah kuat.


Evan juga mengambil pisau belati lalu menggoreskannya kedua pipi Kiran. Wanita ini terus menjerit kesakitan, memohon ampun pada Evan yang saat ini terlihat sangat kejam.


"Jangan lukai anak ku!" pinta Sinta terus menjerit histeris.


"Mau apa kau hah?" tanya Sinta.


"Pegang dia!" titah Evan pada anak buahnya.


Aaaaaa......

__ADS_1


Sinta menjerit kesakitan, menahan perih dan sesak ketika Evan dengan beringasnya mencabut kukunya satu persatu. Tidak hanya Sinta, Kiran juga sama di cabut kukunya. Keadaan ibu dan anak tersebut sudah tidak memiliki rupa lagi.


"Istri ku sedang hamil, untung saja anak ku tidak kenapa-kenapa. Tapi, aku harus membalasnya!" kata Evan.


Sinta dan Kiran memohon ampun, namun tetap saja Evan tidak peduli.


Evan berdiri, berkacak pinggang menatap ibu dan anak yang sedang menggeliat kesakitan.


"Selanjutnya, mau di apakan mereka tuan?" tanya salah seorang anak buah.


"Aku tidak ingin melihat mereka lagi. Jangan sampai mereka mengusik istri ku lagi. Buat mereka cacat lalu buang mereka jauh-jauh!" titah Evan kemudian pergi.


Sementara itu, pak Doni yang mendapatkan kabar mengenai Randi langsung pergi menuju kantor polisi. Perusahaannya sedang kacau di tambah lagi dengan masalah anaknya.


"Kenapa anak ku sampai babak belur begini?" tanya pak Doni panik.


"Anak om ini sudah melakukan tindak kejahatan. Randi sudah menculik dan menyakiti menantu dari keluarga Kevlar!" ujar Arlan memberitahu.


Syok lah pak Doni, hendak marah mau seperti apa lagi karena sekarang Randi saja sudah benar-benar babak belur di hajar Evan.

__ADS_1


"Maaf om, anak om harus mempertanggungjawabkan atas tindakannya. Saya pergi dulu, pengacara keluarga Kevlar akan mengurus ini semua!" ucap Arlan kemudian pergi begitu saja.


Pak Doni sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Pikirannya sekarang ada di mana-mana. Apa lagi sekarang ponselnya tidak berhenti berdering.


__ADS_2