
Malam pertama menjadi orangtua, Evan dan Via benar-benar di buat sibuk dengan ketiga anak mereka. Untung saja mami Gitta sangat gesit dalam membantu Via dan Evan.
Hebatnya lagi, jika satu menangis maka dua lainnya akan ikut menangis. Baru beberapa jam gelar panggilan Daddy di sematkan pada Evan, pria ini sudah mengacak rambutnya frustasi.
Pak Theo yang sebenarnya memiliki pengalaman sebagai seorang ayah juga ikutan pusing di buatnya.Evan dapat melihat dengan jelas wajah lelah sang istri. Pukul satu malam ketiga anak mereka bangun secara bersamaan.
"Ku pikir hanya di dalam perut saja mereka suka mengerjai kita. Ternyata setalah lahir lebih parah lagi," ujar Evan lalu menarik nafas panjang.
"Makanya, kalau punya mulut di jaga. Kau belum merasa jadi orangtua, belum ada dua puluh empat jam kau sudah mengeluh seperti ini," ucap pak Theo mengejek anaknya sendiri.
"Kau meminta enam, Tuhan memberi mu tiga. Jadi, menurut mu ini kesalahan siapa?" tanya Via mulai geram dengan suaminya.
"Lebih enak mengadonnya sayang!" seru Evan.
Pak Theo bergeleng kepala mendengar ucapan anaknya sendiri.
Anak pertama sudah kembali tidur, mami Gitta merebahkannya kembali ke dalam box bayi. Masih ada dua lagi yang sekarang sedang meminum susu. Anak nomor dua berada dalam gendongan Evan sedangkan yang perempuan sedang minum asi ibunya.
__ADS_1
Pukul dua malam lewat sedikit, ketiga bayi mungil itu sudah tidur. Evan langsung merenggangkan otot-ototnya yang sudah sangat kaku.
"Istirahat lah sayang, biar aku yang menjaga mereka!" Evan mengusap wajah istrinya.
Mami Gitta dan pak Theo juga sedang beristirahat di sofa. Sebagai suami yang baik, pak Theo memijat lengan mami Gitta yang terasa pegal.
Evan sendiri memilih tidur di samping sang istri karena ranjang Via berukuran cukup besar.
"Lihatlah mi, Evan baru saja menyuruh ku untuk beristirahat. Malah dia duluan yang tidur!" kata Via merasa lucu dengan suaminya.
"Mau enaknya saja!" seru pak Theo.
Malam semakin larut, semua orang di ruangan ini tertidur lelap. Baru juga dua jam tidur, ketiga bayi mungil tersebut bangun secara bersamaan.
Evan sangat lelah dan juga mengantuk, tapi melihat wajah istrinya yang begitu semangat memberi asi pada ketiga anaknya, Evan kembali bersemangat lagi.
"Papah akan pulang sebentar," ujar pak Theo.
__ADS_1
"Jangan lupa bilang sama bibi untuk mengirim makanan untuk kita," pesan mami Gitta.
"Kenapa tidak pesan saja?" protes Evan.
"Belajar dari pengalaman Van!" seru pak Theo.
"Bisakah kau jangan banyak protes, aku benar-benar lelah mendengar ocehan mu sejak tadi malam!" keluh Via.
"Iya,...iya,...gitu aja marah!" ujar Evan.
Pak Theo kemudian pulang untuk sekedar mengambil perlengkapan yang tertinggal meskipun sore ini mereka sudah di perbolehkan untuk pulang. Meskipun Via melahirkan belum cukup bulan, namun ketiga anak-anak mereka sehat tanpa kurang satu apa pun.
"Cepat beri nama Van, mami bingung ingin memanggil mereka?"
"Zayyan Kevlar Avisha , Rayyan Kevlar Avisha, dan Kaivia Kevlar Avisha," jawab Evan bingung sendiri ketika menyebut nama ketiga anaknya.
"Jadi, kita semua bisa memanggil mereka Zay, Ray, dan Kay!" timpal Via benar-benar membuat mami Gitta pusing sendiri.
__ADS_1
"Terserah kalian saja, mami pusing tidak bisa membedakannya!"
Evan dan Via hanya bisa tertawa, jangankan orang lain, mereka sendiri mulai pusing membedakan anak-anak mereka sendiri meskipun Dokter sudah memberi tanda gelang bertuliskan angka.