
"Semoga Via belum bangun!" mulut Evan terus berkomat kamit berdoa agar istrinya yang di tinggal pas tidur tadi semoga saja belum bangun.
Setibanya di rumah, Evan langsung masuk. Langkah Evan yang lebar terhenti ketika melihat Via dan pak Theo berdiri di atas tangga sambil memegang ponsel.
"Sayang, sudah bangun?" wajah Evan seperti orang bodoh.
"Kalian semua, ikat bajingan ini di sini...!" titah pak Theo sambil menunjuk tangga.
"Heh, apa-apaan ini hah?"
Evan berontak ketika beberapa orang memegang tubuhnya dan langsung menggantungnya di atas anak tangga.
"Pah, apa ini pah? sayang, itu hanya bercanda. Arlan sialan itu penyebabnya!"
"Kau ingin menggantung aku dan papah. Sebelum kami yang di gantung, kau yang harus di gantung terlebih dahulu!" ucap Via geram.
"Mami gak ikutan loh. Ini masalah kalian bertiga...!" ujar mami Gitta yang lebih senang merekam Evan yang sekarang terikat dan tergantung di atas tangga.
"Sayang turun aku. Aku suami mu, apa kau mau kualat pada ku hah?"
"Ini bulu-bulunya nona...!"
Anak buah pak Theo memberikan bulu-bulu pada Via.
"Untuk apa itu woooiii....?"
Via menatap tajam ke arah suaminya.
"Rasakan kau....!" teriak Via yang menggelitiki telapak kaki suaminya menggunakan bulu-bulu yang sudah di ikat ke gagang sapu.
"Ampun....!" teriak Evan.
__ADS_1
"Sini, gantian papah!" kata pak Theo.
Via dan pak Theo bergantian mengerjai Evan.
Sumpah serapah Evan mengutuk kelakuan Arlan yang sudah menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Evan terus meminta maaf pada istri dan papahnya.
"Apa rasanya di gantung hah?" tanya Via.
"Tidak enak sayang. Turunkan aku...!" mohon Evan.
"Dasar tidak tahu diri, sudah di carikan istri masih mau menggantung papahnya ini. Kau pikir papah jemuran apa hah?"
"Ampun pah, Evan hanya bercanda. Arlan yang sudah melebihkan!"
Cukup sudah hukuman untuk Evan, pria ini kembali di turunkan. Via langsung menjewer kuping suaminya.
"Tidak ada jatah!" seru Via menjewer kuping suaminya.
"Dasar otak keras!" seru pak Theo bergeleng kepala dengan kelakuan anak dan menantunya.
Evan dan Via kembali ke kamar, begitu juga dengan pak Theo dan mami Gitta. Seru juga mengerjai Evan, mami Gitta senang berada di kehangatan keluarga ini. Mami Gitta terus tertawa terbahak-bahak ketika melihat rekaman video yang di ambilnya tadi.
Siang telah berganti malam, selesai makan malam Pak Theo memanggil Evan masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ada apa pah?" tanya Evan.
"Kau apakan perempuan itu?" tanya pak Theo.
"Hanya membereskannya saja. Dia berani menantang ku!"
"Sekali saja kau menyakiti Via, papah sendiri yang akan membuat hidup mu sama seperti orang-orang yang kau bereskan!" ancam pak Theo.
__ADS_1
"Sebenarnya Evan atau Via anak papah?"
"Tentu saja papah membela Via, meskipun dia hanya menantu di keluarga ini tapi papah sudah menganggapnya sebagai anak sendiri,"
"Apa karena Via anak dari mantan kekasih papah?" canda Evan.
"Ah, tidak juga. Itu karena Via sedang mengandung keturunan dari keluarga kita."
"Jangan lupa pah, Evan adalah pemilik bibit!"
"Jangan beritahu Via jika papah adalah mantan ibunya. Malu papah!"
"Oh, punya rasa malu juga!" seru Evan.
"Anak sialan!" umpat pak Theo geram, "pergi sana,...!"
Evan hanya menaikan kedua pundaknya lalu kembali ke kamarnya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Evan.
"Pinggang ku nyeri,...!"
Evan naik keatas tempat tidur lalu mengusap pinggang istrinya. Meskipun ada keributan tadi sore namun Evan tetap memperhatikan istrinya.
"Jangan nakal anak daddy. Kasihan mommy,...!" bisik Evan pada anaknya yang masih di dalam perut.
***Mampir yuk di novel tamat cuma 70 bab saja***
Cerita keluarga tentang orangtua yang membenci anaknya namun pada akhirnya anak-anaknya yang bergantian membenci orangtuanya😁
__ADS_1