Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
23.Pulang Sana


__ADS_3

"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Via mulai merasa canggung.


"Ini sudah sangat malam. Akan bahaya jika aku berkendara malam-malam!"


"Tidak, lebih bahaya lagi jika kita berdua seperti ini,"


"Kenapa kau begitu repot?" tanya Evan, "sebentar lagi kau akan menjadi ibu ku, kita akan tinggal serumah. Anggap saja ini membiasakan diri,"


"Aku tidak mau, pulang sana!" usir Via.


"Dasar makhluk tidak tahu terimakasih. Aku sudah bersusah payah menggendong mu dari bawah sampai ke sini kau malah mengusir ku!"


Via langsung menelan ludahnya kasar, wanita ini mendadak panik ketika mendengar perkataan Evan.


"Kau bilang aku merangkak tadi...!" ujar Via.


Geramnya Evan, ingin sekali pria ini mencakar wajah Via, "Kau benar-benar tidak cocok menjadi ibu ku!"


"Jika menjadi istri mu bagaimana?" tanya Via mengedipkan sebelah matanya.


"Sekali lagi aku melihat mata mu seperti itu, akan ku congkel bola mata mu!" ujar Evan mendadak salah tingkah.


"Lagian umur sudah hampir kepala tiga, kenapa kau belum menikah juga?"

__ADS_1


"Tidurlah, sudah malam! aku akan tidur di sofa ini," Evan mencari alasan agar tidak menjawab pertanyaan Via.


"Jawab dulu, baru aku akan tidur," tekan Via, "Kau sangat dekat dengan Lili, kenapa kau tidak menikah dengan dia saja?"


"Apa, dengan Lili? hih, menggelikan!" Evan bergidik ngeri.


"Kenapa, dia sangat cantik. Lagian jika di lihat dia sangat menyukai mu. Apa salahnya?"


"Aku tidak suka perempuan seperti itu,"


"Apa kau penyuka sesama jenis?" tanya Via membuat Evan langsung melempar bantal sofa ke arah Via.


"Tadi kau sakit, sekarang kau membuat ku jengkel. Sebenarnya kau ini makhluk apa sih?" Evan mulai kesal.


"Lagian, apa kau tidak kasihan pada papah mu. Umur mu sudah tua tapi kau belum menikah juga. Mumpung masih ada orangtua, beliau pasti ingin melihat anaknya bahagia. Jika habis umur, menyesallah kau!" tutur Via panjang lebar.


"Tidak, ini hanya perumpamaan!" seru Via, "ah sudahlah, aku lelah dan ingin tidur. Terserah kau mau berbuat apa!"


Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, Evan hanya bisa menatap punggung Via dari belakang. Malam sudah sangat larut, kedua manusia itu tertidur.


Pagi sekali, Evan di terkejut melihat Via yang begitu sibuk sedang mempersiapkan sesuatu. Lelaki itu bangun, Evan melihat Via sudah berpakaian sangat rapi.


"Mau kemana kau pagi seperti ini?" tanya Evan penasaran.

__ADS_1


"Aku harus pergi ke malam ibu ku," ujar Via.


"Ini masih sangat pagi, kenapa tidak nanti saja?"


"Jika berangkat nanti, aku akan ketinggalan bus."


"Hah, bus. Memangnya ibu mu di makamkan di mana?" Evan semakin penasaran.


"Di kota S. Sebelum meninggal ibu ku berpesan tidak mau di makamkan di kota ini. Kota penuh kesakitan untuknya. Jadi, ibu ku di makamkan di kota kelahirannya," jelas Via.


"Kau pergi seorang diri?"


"Lalu dengan siapa aku harus pergi?" tanya Via lagi, "aku sudah meminta izin pada papah mu."


"Tunggu aku sebentar, aku akan mengantar mu!" ujar Evan membuat Via terkejut.


"Tidak usah Van, perjalanannya cukup jauh. Aku bisa sendiri," tolak Via.


"Jika kau kenapa-kenapa di jalan aku akan di panggang oleh papah ku!"


"Tapi kan, aku sudah meminta izin pada papah mu dan aku bilang hanya pergi sendiri."


"Banyak sekali tapi kau. Kau adalah calon ibu dari adik-adik ku kelak. Jadi wajar jika aku menjaga mu!"

__ADS_1


"Jika aku calon ibu dari anak-anak mu kelak bagaimana?" tanya Via berkelakar.


Evan hanya diam, lelaki ini lagi-lagi salah tingkah. Buru-buru Evan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Via terus tertawa geli melihat sikap Evan.


__ADS_2