Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
78.Tenang


__ADS_3

"Yang mana, gudang yang mana?" tanya Evan benar-benar sudah tidak sabar lagi untuk menemukan istrinya.


Arlan menggaruk kepalanya tak gatal, di sini ada tiga gedung seperti bangunan yang mangkrak.


"Maaf tuan, sepertinya bangunan yang di belakang," ujar anak buah pak Theo.


Tak membuang waktu lagi, Evan langsung bergegas pergi kebelakang. Lebih emosi lagi ketika bangunan tinggi ini memiliki banyak ruangan.


"Benar-benar ingin mati di tangan ku!" ucap Evan yang sangat geram.


Mencari ke sana ke mari, pada akhirnya Evan mendengar gelak tawa beberapa orang di sudut ruangan paling ujung.


"Tenang, santai dan jangan gegabah!" ucap Arlan.


"Kenapa kalian masih di sini hah, cepat tangkap mereka semua!" titah Evan.


Evan dan Arlan juga beberapa anak buah yang mereka bawa langsung menerobos masuk begitu saja.


"Bajingan.......!!" teriak Evan marah besar ketika melihat Randi hendak melayangkan pukulan ke tubuh istrinya.

__ADS_1


Paniklah Sinta dan Kiran, Evan juga langsung menghajar Randi. Sedangkan anak buah Evan menangkap Sinta dan Kiran yang berusaha kabur. Di tempat itu tidak ada orang suruhan Kiran dan Randi karena tugas mereka memang sudah selesai untuk menculik Via.


Evan terus menghajar Randi, lelaki ini benar-benar marah besar bahkan tenaga Randi saja tidak sanggup untuk melawan Evan.


"Van sudah, serahkan pada ku. Via, dia butuh pertolongan!" kata Arlan membuat tinju Evan melayang di udara.


Evan menoleh ke arah istrinya yang tertunduk tak berdaya.


"Sayang....!" Evan langsung menghampiri Via, melepas ikatan istrinya lalu segera membawa sang istri keluar, "bawa mereka semua!" titah Evan sebelum pergi.


Evan langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Evan terus menangisi keadaan Via yang sudah babak belur. Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah sakit, Via langsung mendapatkan penanganan dari Dokter.


Tak berapa lama Mami Gitta dan pak Theo tiba di rumah sakit.


"Bagaimana Van?" tanya pak Theo yang sebenarnya sudah sangat panik memikirkan menantu dan calon cucunya.


"Masih dalam penangan Dokter pah. Mereka sudah menyakiti Via,"

__ADS_1


"Sabar Van. Sabar, Via dan anak mu akan baik-baik saja!" mami Gitta menepuk pundak Evan.


"Siapa dalangnya Van?" tanya pak Theo penasaran.


"Ibu tirinya dan Randi," jawab Evan dengan mata merahnya.


"Bajingan.....!" umpat pak Theo marah. Pria paruh baya itu langsung menghubungi seseorang, "hancurkan keluarga Adwinanta sekarang juga!" titah pak Theo pada seseorang di sebarang sana.


Tak berapa lama, Dokter meminta pihak keluarga untuk masuk. Dokter mengatakan jika kandungan Via baik-baik saja. Via mengalami syok dan beberapa luka di wajahnya.


Evan meraih tangan istrinya, pria ini mengusap matanya yang sudah berair. Evan tidak tega ketika melihat wajah istrinya benar-benar babak belur.


"Mereka memukul Via hingga seperti ini," mami Gitta ngeri sendiri melihat wajah Via.


"Ini pasti sangat sakit, maaf jika aku terlambat sayang!" ucap Evan dengan suara bergetar, "harusnya aku tidak Mengizinkan kau pergi. Maaf jika aku sudah membuat mu susah dengan permintaan ku," Evan menyesal karena sudah bersikap seperti anak kecil tadi pagi.


"Jangan menyalahkan diri Van, mungkin saja mereka sudah merencanakan ini sejak jauh hari," kata pak Theo.


"Tolong jaga Via mi, Evan akan pergi sebentar," pinta Evan mengusap air matanya kasar.

__ADS_1


"Pergilah, cepat kembali," kata mami Gitta.


Evan pergi, sedangkan Via yang masih belum sadarkan diri di jaga oleh Mami Gitta dan pak Theo.


__ADS_2