Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
42.Aku Pergi Dulu


__ADS_3

Pak Theo menyeruput teh hangat yang baru saja di hidangkan dengan penuh kenikmatan. Via sedang melihat-lihat beberapa gambar pernikahan saat di gereja tadi pagi. Sedangkan Evan terus memandang dua orang bergantian yang sudah mempermainkannya.


"Apa kalian pikir ini lucu?" tanya Evan sedikit meninggikan suaranya.


"Sabar Van,...!" Arlan menepuk pundak Evan.


"Jika tidak lucu, kenapa kau tidak menolak saja tadi?" dengan santainya pak Theo bertanya hal seperti itu pada anaknya.


"Pah, kalian merencanakan semuanya. Tapi kenapa hanya Evan yang berpikir jika papah akan menikah dengan Via? lalu, kenapa semua tamu terlihat santai dan.....!" Evan tidak sanggup lagi melanjutkan pertanyaannya.


"Itu sih kau sendiri yang bodoh!" ujar Via mengejek suaminya.


"Kenapa aku yang bodoh? lagian, kalian mengundang semua tamu tanpa sepengetahuan ku, lalu kenapa aku tidak tahu mengenai undangan?" tanya Evan penasaran. Seharusnya jika ada undangan, pria ini pasti akan tahu jika namanya yang tertulis bukan nama papahnya.


"Van,...Van,...zaman sudah canggih. Kenapa harus repot-repot mencetak undangan?" ujar pak Theo.


"Kami menggunakan undangan digital. Semuanya terkirim melalui pesan. Apa kau tidak tahu akan hal itu?" tanya Via.


"Tidak, ini tidak sah. Kalian mengerjai ku, mempermainkan pernikahan!"

__ADS_1


"Kalau begitu, silahkan kau batalkan pernikahan ini," ujar Via kemudian beranjak dari duduknya dan langsung pergi.


"Yah, ngambek!" seru Arlan.


"Pah, kenapa papah memutuskan sendiri untuk hal penting seperti ini? Papah sama saja mempermainkan hidup Evan. Evan bisa sendiri mencari pasangan,"


"Sampai kapan kau akan mencari Van. Via perempuan baik, papah sudah mengenal Via cukup lama."


"Maksudnya bukan itu om, ini masalah cinta, masalah hati om," Arlan angkat bicara.


"Jika Via tidak menyukai mu, sejak awal dia sudah menolak rencana papah. Di lihat dari sikap mu selama ini, kau sangat suka mengganggu Via. Mustahil jika kau tidak memiliki perasaan padanya!" tutur pak Theo terlihat serius.


Tanpa pamit, Evan pergi menyusul Via yang sudah kembali ke kamarnya yang berada di lantai tiga.


"Evan,....!" tiba-tiba Rania menarik tangan Evan.


"Mau apa lagi sih? kenapa kau masih ada di sini hah?" tanya Evan kesal.


"Van, aku hanya ingin menjelaskan sesuatu pada mu!" ujar Rania tanpa memiliki rasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Rania. Hubungan kita sudah selesai sejak kau memutuskan untuk pergi dari hidup ku!" tegas Evan.


Tiba-tiba Rania melihat Via yang sedang berjalan keluar dari lift. Buru-buru wanita itu memeluk Evan.


Evan yang terkejut dan tidak tahu jika ada Via, mencoba melepaskan pelukan Rania.


"Wah, sedang nostalgia ya?" sapa Via sangat mengejutkan Evan. Lelaki itu langsung mendorong Rania dengan kasarnya.


"Aku bisa menjelaskannya,...!" Evan terlihat gugup dan panik.


"Aku pergi dulu,...!" ujar Via yang sudah kehilangan selera. Maksud hati turun kembali untuk menyusul Evan dan pak Theo yang masih mengobrol di restoran hotel. Tapi, pemandangan tadi membuat Via menjadi patah semangat.


"Van, kau mau kemana?" lagi-lagi Rania menarik tangan Evan yang hendak mengejar Via.


"Jangan temui aku lagi,...!" ucap Evan menepis kasar tangan Rania.


Evan mengejar Via yang ternyata sudah masuk kedalam lift. Evan mengumpat kesal, pria ini melihat dengan jelas wajah dingin yang di tunjukan Via barusan.


"Astaga, kenapa wajahnya sangat mengerikan tadi?" Evan berkeringat panas dingin.

__ADS_1


__ADS_2