Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
14.Kenapa?


__ADS_3

Tidak jadi liburan, baik Via maupun Evan kembali bekerja seperti biasanya. Lili merasa sangat senang ketika melihat Evan datang ke kantor. Wanita itu bergegas menghampiri Evan yang baru saja turun dari mobilnya.


"Evan, kamu udah pulang?"


"Kenapa memangnya?" tanya Evan berlalu begitu saja. Dengan cepat Lili mengejar Evan.


"Katanya pergi ke kota B, mana oleh-oleh buat aku?" Lili meminta dengan wajah penuh harap.


"Gak ada, kamu pikir aku liburan di sana?"


Buru-buru Evan melajukan langkahnya. Lili mendengus kesal, Evan suka sekali mengacuhkannya.


Siang ini, Via mewakili perusahaan ada meeting dengan klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan Evan. Tanpa di sangka, orang yang di ajak meeting ada teman baik Via yang sempat hilang kontak selama enam tahun.


"Aku tidak tahu jika kau bekerja di perusahaan milik Evan. Apa kau karyawan baru di sana?" tanya Randi yang merasa senang bisa bertemu kembali dengan Via.


"Iya, baru. Jadi, kau kenal dekat ya dengan Evan?"


"Tidak terlalu dekat juga, sejak perusahaan keluarga kami saling bekerja sama saja,"


"Ya udah, nanti kita lanjut ngobrolnya. Sebaiknya kita bekerja dulu," ujar Via lalu mereka melakukan meeting bersama dua orang lainnya.


Kurang lebih satu jam mereka meeting, akhirnya selesai juga. Salah satu teman Via sudah kembali perusahaan begitu juga dnegan Sekretaris Randi. Sedangkan mereka berdua pergi makan siang untuk melanjutkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Apa kau sudah menikah?" tanya Via.


"Belum, jodohnya masih jauh! lalu, bagaimana dengan mu?" Randi bertanya balik.


"Belum, jodohku masih dingin," jawab Via melucu.


"Kau ini, ada-ada saja. Bagaimana kabar Kiran, sudah lama juga aku tidak mendengar kabar saudara tiri mu itu?"


"Beberapa hari yang lalu aku mengusir mereka. Jadi, aku tidak tahu di mana mereka sekarang,"


"Kenapa, apa dia masih jahat pada mu?"


Via membuang nafas kasar lalu menyeruput jusnya, "Kiran dan ibunya meminta uang untuk biaya operasi. Bahkan mereka mengancam ingin menjual rumah peninggalan ibu ku."


"Tidak sakit, hanya ingin mempercantik wajahnya agar bisa menjadi arti saja!" jawab Via jujur.


"Mereka memang jahat, tidak pernah berubah!" Randi geram mendengar cerita Via.


"Wah, enak sekali kau berduaan mendua ya...!" tiba-tiba terdengar suara Evan yang mengejutkan Via dan Randi.


"Loh, Evan!" ujar Randi juga membuat Evan terkejut.


"Dia teman ku, kenapa?" tanya Via tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Kalian berteman?" tanya Evan tidak percaya.


"Ya, dia adik kelas ku lalu setelah lulus sekolah aku melanjutkan pendidikan ke luar negeri jadi kami saling hilang kontak," Randi menjelaskan.


"Kenapa, mau mengadu?" tanya Via.


"Tidak, tapi kau jangan dekat-dekat!" ujar Evan membuat Randi bingung.


"Tunggu, apa maksudnya?" tanya Randi yang bingung.


"Via ini calon istri papah ku. Jadi, kalian harus sedikit menjaga jarak meskipun kalian berteman!" ucapan Evan semakin membuat Randi bingung namun tidak dengan Via yang terlihat santai.


"Calon istri om Theo maksudnya?" tanya Randi memastikan.


"Ya, kenapa? jika kau tidak percaya tanya saja sama Via. Dia calon ibu tiri ku!"


Syoklah Randi, pria ini langsung bertanya pada Via, "Apa itu benar?"


"Em, Evan calon anak ku!" seru Via.


Randi terduduk, pria itu langsung meneguk habis minumannya lalu pergi dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan.


"Wah, sepertinya teman mu itu suka sendiri," ujar Evan tertawa.

__ADS_1


"Biarkan saja. Semakin banyak yang tahu semakin bagus. Jadi, aku akan lebih mudah mendapatkan papah mu!" sahut Via kemudian pergi begitu saja.


__ADS_2