
Evan merintih perih ketika Via mengobati luka di wajahnya. Tidak saling bicara, sesekali Evan melirik wajah istrinya yang begitu dekat tanpa jarak.
"Jangan dengarkan ucapan Randi. Dia hanya ingin membuat kau sakit hati," ucap Evan.
Via tersenyum tipis, "Aku sudah biasa di hina. Tidak masalah bagi ku," kata Via berbohong.
Evan menatap mata istrinya, jelas sekali jika Via sedang berbohong.
"Makanan sudah datang, aku akan mengambilnya sebentar!" ujar Via langsung beranjak dari tempat duduknya.
Via langsung menyiapkan makanan, mereka kemudian makan berdua meskipun Evan merasa sangat perih di sudut bibirnya namun dirinya tidak mau merepotkan Via.
Selesai makan Via juga langsung membersihkan meja makan dan piring kotor. Mata Evan lekat memandang istrinya yang sejak tadi mondar mandir.
Setelah pekerjaannya selesai, Via pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan wajah dan menggosok gigi sebelum tidur. Evan juga, pria ini terus mengekor di belakang Via.
"Aku akan tidur di sofa, kau tidur saja di tempat tidur," ujar Via.
"Kita suami istri, kenapa harus tidur terpisah seperti ini?" tanya Evan tidak terima.
Via menatap wajah suaminya, malam ini suasana hati Via sedang tidak baik-baik saja.
"Ya sudah, kalau begitu kita tidur seperti tadi malam!" ucap Via langsung naik keatas tempat tidur.
Evan tidak banyak protes lagi, pria ini juga naik ke atas tempat tidur.
Via memunggungi Evan, tanpa terasa air mata Via jatuh menetes ketika mengingat ucapan Randi di restoran. Evan tidak tahu jika istri sedang menangis, pria ini hanya bisa memandang punggung dan rambut istrinya.
Malam ini kurang asik, tidak ada obrolan di atas tempat tidur seperti malam pertama mereka tidur bersama. Evan bingung sendiri jadinya.
Malam semakin larut, keduanya sudah terlelap tidur. Jarum jam terus berputar, hingga menunjukkan pukul tiga dini hari. Via yang merasa haus dan sesak mencoba membuka matanya. Betapa terkejutnya Via ketika mendapati dirinya sedang berada dalam pelukan sang suami.
Gusar, Via langsung menjauh dari Evan hingga membuat suaminya terbangun.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Evan dengan suara seraknya.
"Siapa yang mengizinkan mu memeluk ku hah?" tanya Via panik.
"Kita tidur berpelukan?" tanya Evan balik, "dingin, maklum lagi hujan!" timpal Evan.
"Evan,...aku akan mencekik mu sekarang!" ujar Via hendak mencekik suaminya namun Evan malah memeluknya erat.
"Cekik aku kalau bisa!" ujar Evan.
"Lepaskan aku!" pinta Via yang benar-benar gugup.
Hei,...tiba-tiba saja wajah mereka berada sangat dekat. Evan menelan ludah kasarnya, mata yang semula mengantuk mendadak segar.
Evan merengkuh leher Via, mendekatkan bibirnya lalu tanpa permisi lagi Evan langsung meraup bibir manis milik istrinya.
Via mencoba berontak, namun tangan kekar Evan menahan tubuh istrinya. Evan terus *******, menikmati setiap detail bibir milik istrinya. Via yang belum pernah berciuman mana tahu apa yang harus di lakukannya.
Evan melepas ciuman mereka, buru-buru Via bergeser dari suaminya. Via menyentuh dada yang bedegub kencang. Tak ada kata yang keluar dari mulut wanita ini begitu juga dengan Evan.
"Van, kau mau apa?" tanya Via semakin panik.
"Kau sudah membangun ku, kau harus tanggung jawab!" ujar Evan lagi-lagi meraup bibir istrinya.
Tangan nakal Evan mulai berkelana, membuat lenguhan kecil keluar dari bibir Via. Evan terus memagut bibir istrinya, Via yang tidak tahu cara berciuman pada akhirnya membalas ciuman Evan. Mata Evan melebar, lelaki ini semakin liar bermain di mulut sang istri, lidah mereka saling bertautan, memagut dalam penuh kenikmatan.
Satu persatu kancing piyama Via sudah lepas. Wanita ini tidak sadar jika Evan juga sudah melepaskan celananya. Via terkejut ketika Evan menyentuh dua bukit kembar miliknya, baru saja Via hendak protes namun Evan langsung memperdalam ciumannya.
Hebatnya Evan, tak butuh waktu lama pakaian dirinya dan istrinya sudah melayang entah kemana.
"Van,....!" Via menyilangkan kedua tangan di dada.
"Diamlah!" bisik Evan lagi-lagi memagut bibir istrinya laku turun ke leher memberi tanda di sana. Rintihan manja kembali keluar dari bibir Via ketika Evan menyesap ****** berwarna pink.
__ADS_1
Basah, Via sudah basah. Wanita ini sudah tidak mampu lagi untuk menolak, Evan benar-benar sudah membuatnya mabuk cinta malam ini. Hasrat Via semakin memuncak ketika Evan bermain di area pusar dan sekitarnya.
"Aku sudah tidak tahan lagi," bisik Evan lalu bersiap-siap menancapkan junionya di gua milik sang istri.
Tanpa izin dan permisi lagi, Evan langsung mencoba memasukan adiknya namun gagal.
Via merintih kesakitan, wanita ini menggigit bibir bawahnya perih. Hentakan pertama dan kedua gagal, namun Evan tidak patah semangat.
Hentakan ketiga dan keempat gagal, sungguh rapat pintu gua ini. Baru lah di hentakan kelima Evan berhasil memasukan adiknya. Via merintih, buru-buru Evan memagut bibir istrinya kembali.
Membiarkan sang adik dan guanya saling beradaptasi, setelah Via merasa tenang barulah Evan bergoyang.
Tidak ada kata penolakan, keduanya larut dalam permainan. Di goyangkannya tubuh kekar keatas kebawa, membuat Via langsung menegang menikmati sesuatu yang keluar. Sepuluh jarinya mencakar punggung Evan, namun Evan tidak peduli.
Terus melakukan pergerakan, hingga pada akhirnya Evan dan Via bersama-sama melakukan puncak kenikmatan. Rintihan dan lenguhan kenikmatan menggebu di sudut kamar, Evan langsung tumbang di samping istrinya.
Nafas mereka tak beraturan, Via benar-benar kelelahan. Kemudian Evan memeluk Via dan berbisik, "Jangan di cuci, biarkan seperti ini. Dia akan tumbuh sendiri,"
Via hanya mengangguk, wanita ini menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Tidurlah, aku akan menjaga mu!" bisik Evan lagi, "Terimakasih istriku!" ucapnya pelan lalu mengecup kening Via.
Via kembali tertidur dalam pelukan Evan. Wanita benar-benar mati kutu dalam pelukan suaminya sendiri. Malam yang tak terduga, berkat haus dan sesak malah membuat Via jatuh dalam kenikmatan.
Silau matahari sudah membumbung tinggi, Via belum juga bangun sedangkan Evan sudah bangun sejak pagi namun pria ini tidak turun dari atas tempat tidur. Evan tersenyum-senyum sendiri melihat wajah sang istri. Lebih gila lagi ketika Evan mengintip karya yang dia buat dari leher hingga dada atas Via.
"Astaga, aku serakus ini ternyata!" batin Evan geli sendiri.
Via terbangun ketika merasakan sesuatu yang aneh di bibirnya. Ternyata Evan sejak tadi mengecup bibir istrinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Via dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mencium istri ku, apa lagi memangnya?" Evan bertanya balik.
__ADS_1
Via mengingat kejadian tadi malam, wanita ini langsung menarik selimut menutup seluruh tubuhnya. Via malu, apa lagi sekarang dirinya tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun.
"Evan,........!!!" teriaknya dari dalam selimut.