Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
63.Dia Ini Kenapa?


__ADS_3

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Evan penasaran, karena sejak pagi Via terlihat diam saja.


"Aku baik-baik saja," jawab Via seperti memaksakan senyumnya.


"Sayang, pernikahan kita sudah berjalan dua bulan. Malam ini aku akan mengajak mu pergi ke suatu tempat," ujar Evan menghampiri meja istrinya.


"Terserah kau saja, aku menurut!" kata Via mengusap punggung tangan istrinya.


"Sudah siang, ayo kita pergi makan siang!" ajak Evan lalu pasangan suami istri itu berkemas.


Baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju loby, Via langsung mendengus kesal ketika melihat Kiran datang bersama ibunya.


"Kalian mau apa lagi hah?" tanya Via yang sudah lelah.


"Beri kami uang, kami kehabisan uang!" pinta Sinta.


"Kalian mau uang?" tanya Evan.


"Tentu saja, Via keluarga kami sudah seharusnya dia memberi kami uang!" ucap Kiran tanpa malu.


"Jika kalian ingin uang, sebaiknya kerja. Aku tegaskan pada kalian, jika sekali lagi datang menemui Via kalian akan tahu sendiri akibatnya!" ancam Evan lalu mengajak istrinya pergi.


Via masih terlihat tidak bersemangat, wanita ini bingung sendiri dengan keadaannya sekarang.


"Apa mereka terus seperti ini, suka memeras mu?" tanya Evan mulai penasaran dengan kehidupan Via sewaktu tinggal bersama Sinta dan Kiran.


"Em, ayah selalu memanjakan mereka. Sebenarnya, aku ingin sekali melihat mereka menderita sama seperti apa yang aku rasakan dulu. Ibu ku meninggal sebab mereka."


Evan mengusap rambut istrinya, laki-laki ini paham betul rasa sakit Via sekarang.

__ADS_1


"Jadi, apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Evan.


"Biarkan saja, aku yakin jika karma Tuhan tahu jalan pulang,"


Via terlihat sangat lesu, bahkan wanita ini hanya makan sedikit. Evan sebenarnya merasa ada yang beda dari istrinya namun berulang kali bertanya jawaban Via pasti sama.


"Setelah ini kita ada meeting bersama Randi," ujar Via memberitahu.


"Kenapa harus dia? biasanya juga papahnya!"


"Aku tidak tahu, hanya tiga puluh menit.",


Huffff....


Evan mendengus kesal, tapi mau bagaimana lagi? mereka harus profesional dalam bekerja.


Evan dan Via kemudian pergi ke tempat yang sudah di janjikan. Melihat Via, Randi sangat senang bahkan senyum pria ini melebar.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja!" jawab Via dengan wajah judesnya.


"Langsung saja, kami tidak punya banyak waktu!" ucap Evan dengan wajah dinginnya.


Sekretaris Randi memulai meeting, Evan dan Via sesekali menanggapi memberi saran atau kritikan dengan serius tapi Randi sejak tadi malah asyik mencuri pandang ke arah Via.


"Kau nampak pucat, apa suami mu ini tidak memberi mu makan?" tiba-tiba Randi bertanya di luar pekerjaan.


"Kita sedang meeting, apa kau bisa serius?" tegur Via benar-benar ilfil dengan sikap Randi sekarang.


"Meeting selesai, sayang ayo pergi." ujar Evan yang malas berdebat.

__ADS_1


Randi berusaha menahan dan hendak mengejar Via dan Evan namun ponselnya berbunyi membuat Randi langsung mengurungkan niatnya.


"Dari awal aku bertemu dengan manusia itu, aku memang sudah tidak menyukainya. Entah kenapa dia sangat suka mengganggu mu?" Evan mulai mengomel.


"Aku tidak tahu. Bee, aku lelah. Antarkan aku pulang," ujar Via.


Evan hanya menurut, mereka tidak kembali ke kantor melainkan langsung pulang kerumah. Ternyata Via sudah tertidur di perjalanan pulang, Evan tidak mau mengganggu tidur istrinya dan langsung menggendong Via menuju kamar.


"Duh, jadi pengen muda lagi," tegur bibi menggoda Evan.


"Eh bibi, bisa aja!" seru Evan kembali melanjutkan langkahnya.


Evan merebahkan Via di atas tempat tidur, pria ini juga melepaskan sepatu dan blazer istrinya agar tidak sesak.


"Dia ini kenapa? tidak seperti biasanya seperti ini...!" Evan mengusap kening istrinya yang tidak panas.


"Bee, aku ingin minum susu almond dan coklat Jepang!" ucap Via dengan mata terpejam.


"Sayang, apa kau sedang bermimpi?" Evan bingung.


"Aku bangun, hanya saja aku malas melihat wajah mu!" ujar Via membuat Evan terkejut.


"Heh, kau ini kenapa hah?"


"Cepat, jika tidak pergi dari kamar ini," usir Via.


"Eh, iya...iya. Tapi, coklat Jepang itu yang bagaimana?" tanya Evan tidak mengerti.


"Terserah apa pun itu yang penting berasal dari Jepang!" kata Via semakin membuat Evan bingung dan merasa aneh.

__ADS_1


Evan kemudian pergi untuk mencarikan apa yang di pinta oleh istrinya.


"Perempuan, kalau ada maunya ada-ada aja!" Evan bergeleng kepala.


__ADS_2