
"Kau yang benar saja Lili, jangan mengada-ada...?" Rania tidak percaya dengan cerita yang baru saja di ceritakan Lili.
"Aku serius Ran, Evan bilang dia sudah tidak tahan. Aku bukan perempuan polos dan bodoh, jika seorang laki-laki mengatakan hal seperti itu kau juga pasti tahu apa yang akan terjadi."
"Tidak, kau bilang Via itu calon ibu tiri Evan. Itu artinya mereka hanya di jodohkan pak Theo, mereka tidak saling mencintai. Mana mungkin Evan seperti itu," Rania masih tetap tidak percaya.
"Rania...Rania,...kau saja yang bodoh. Kau bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Evan dan mengkhianati dia tanpa pesan. Bahkan, hanya karena kau Evan menjadi dingin pada semua perempuan. Menyebalkan!"
"Jika dia dingin pada semua perempuan,lalu kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu tadi?" tanya Rania masih tetap tidak percaya.
"Aku yakin jika Evan hanya memanasi ku saja. Aku tahu betul jika Evan tidak menyukai Via,"
"Dari mana kau tahu?"
"Sewaktu aku masih bekerja di perusahaan Evan, mereka selalu saja berdebat. Jadi, aku rasa Evan belum menyentuh Via!"
"Aku harus menyingkirkan Via!" seru Rania.
"Bagus, singkirkan saja. Kau yang akan di benci Evan, lalu aku yang akan menikmati hasilnya!" batin Lili tertawa senang.
__ADS_1
"Heh, kenapa kau tersenyum sendiri? Evan tidak akan mungkin mau dengan kau. Aku adalah cinta pertama Evan!" ucap Rania dengan bangganya.
"Kau boleh bangga jika kau adalah cinta pertama Evan. Tapi, kita lihat saja nanti siapa yang akan berada di samping Evan!" ujar Lili tak mau kalah.
Sementara itu, Sinta dan Kiran yang baru saja tiba di kontrakan terus mengumpat Via dan Evan juga pak Theo. Tujuan utama mereka datang kesana adalah uang, karena uang yang di berikan pak Theo beberapa waktu lalu sudah habis.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang bu?" tanya Kiran, "aku sangat menginginkan Evan bu. Dia pasti bisa membuat hidup ku menjadi ratu,"
"Tidak mudah untuk masuk kedalam keluarga kaya seperti pak Theo. Di banding Via, kau lah yang lebih pantas bersanding dengan Evan."
"Tapi, Evan sudah tahu jika kita pernah jahat pada Via. Dia pasti tidak akan percaya pada kita. Apa yang harus kita lakukan?"
Kiran terus merengek meminta pada ibunya agar dirinya bisa menggantikan posisi Via. Namun, sampai detik ini mereka belum menemukan ide juga.
Beda lagi dengan Evan dan Via yang sekarang sedang berbahagia. Pasangan suami istri itu belum lagi mengenakan pakaian dan Via juga masih berada di dalam pelukan suaminya.
"Aku hanya ingin cepat memiliki anak. Semoga dia cepat hadir di sini," ucap Evan sambil mengusap perut datar milik istrinya.
"Berdoa saja. Kita juga tidak bisa memaksa apa yang kita inginkan."
__ADS_1
"Sayang, apa kita harus merencanakan liburan lagi ya...?"
"Untuk apa?" tanya Via penasaran.
"Liburan khusus untuk membuat anak. Masalah pekerjaan, ada papah!"
"Kau ini, ada-ada saja. Nikmat saja, jangan terlalu grusa grusu!"
"Uh, aku sangat mencintaimu sekarang," ucap Evan.
"Ah masa....?" goda Via.
"Benar sayang....!"
"Apa ini alasan mu menyuruh Randi untuk mengejar ku, agar aku tidak jadi menikah dengan papah mu?"
"Hehe,...sebenarnya aku merasa cemburu. Tapi, aku tidak bisa mengungkapkannya!" Evan tersenyum cengir.
"Bersikap ramah lah pada semua orang. Wajah mu tampan, jangan kau tunjukan wajah jelek mu yang suka membuat orang lain terutama karyawan takut untuk menyapa mu!" Via menasehati suaminya.
__ADS_1
"Baiklah sayang. Apa pun kata mu akan ku turuti," ujar Evan langsung memeluk istrinya erat.