Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
59.Aku Serius!


__ADS_3

"Kerja semakin bersemangat sayang," ucap Evan dengan senyum lebarnya.


"Kerja memang harus semangat. Jika tidak tenggelam saja di laut!" sahut Via yang sekarang bekerja sebagai Asisten pribadi suaminya sendiri sedangkan mami Gitta sekarang menggantikan posisi Via.


"Kau ini memang tidak bisa di ajak romantis!"


"Lah apanya yang romantis? apa aku salah?"


"Ya salah, aku semakin semangat bekerja karena sekarang di temani oleh istri tercinta,"


"Hilih, waktu itu saja mengusir ku!" kata Via.


Evan bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja istrinya yang berjarak satu meter saja dari mejanya.


"Lepas, jika ada karyawan yang lihat bagaimana?" Via berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Sayang, di jam seperti ini sebenarnya sangat bagus untuk kita bercocok tanam!" bisik Evan.


"Kenapa di otak mu isinya mesum semua hah?"


Evan mengendus leher jenjang milik istrinya, hidung mancung pria itu terus menggelitik di sana.


"Bee, geli....!"


"Geli apa geli,...?" goda Evan.


Evan terus mengganggu Via, menciumi leher istrinya yang sekarang sudah membuat Evan candu.


"M-m-maaf pak.....!" ucap seorang karyawan yang menyelonong masuk.


Evan langsung melepaskan sang istri sedang Via langsung menutup wajahnya menahan malu.


"Kalau masuk ketuk pintu dulu. Apa kau mau aku pecat?" sentak Evan.

__ADS_1


"T-tapi pak, biasanya juga saya tidak ketuk pintu!"


Evan salah tingkah, pria tersebut langsung mengambil berkas yang di pegang karyawan tersebut.


"Sudah ku ambil dan akan ku baca nanti. Jadi, keluar sana!" usir Evan, karyawan tersebut bergegas keluar.


Pintu sudah kembali tertutup, Via benar-benar malu atas kejadian tadi.


"Apa ku bilang, aku malu....!" ujar Via merengek.


"Sebaiknya kita tidak usah bekerja. Ayo ikut aku!" kata Evan langsung membawa istrinya pergi.


Rasanya malu juga, karena sekarang Evan terus menggandeng tangan istrinya. Via belum terbiasa, apa lagi tatapan karyawan terus memandang kearah mereka.


"Kita mau kemana?" tanya Via penasaran.


"Bikin anak...!" seru Evan langsung melajukan mobilnya.


"Bee, yang benar saja?"


"Ada yang salah dengan isi kepala mu!" ujar Via.


"Ya, sejak menikah dengan mu otak ku isinya cuma ranjang saja," sahut Evan membuat Via berbelang kepala.


Tanpa sengaja Evan melihat mobil Randi yang berhenti di salah satu toko kue yang berada tak jauh dari perusahaan.


"Lihat bajingan itu, jalan sama perempuan yang berbeda lagi," kata Evan menunjuk Randi di depan.


"Biarkan saja, selama dia tidak mengganggu kita sebaiknya kita juga jangan mengganggu dia."


"Coba saja kalau dia berani mengganggu, akan ku patahkan batang uratnya!"


Via memutar bola mata jengah, wanita ini hafal betul kemana suaminya akan membawanya pergi. Ini arah apartemen yang sempat di tinggali Via kemarin.

__ADS_1


Langkah Evan begitu lebar, membuat Via sedikit kesusahan mengimbangi. Baru saja hendak masuk lift, Lili menyapa mereka.


"Evan.....!" sapa Lili menghentikan langkah suami istri tersebut.


"Oh, hai Lili...!" Via menyapa Lili.


"Aku tidak menyapa mu, aku menyapa Evan!" ketus Lili.


"Sayang, jangan pedulikan dia. Ayo cepat. Aku sudah tidak tahan lagi...!" kata Evan langsung menarik Via masuk kedalam lift.


Lili tercengang, wanita ini mencerna kata-kata Evan yang barusan keluar dari mulutnya.


"Aku sudah tidak tahan lagi...!" Lili mengulangi perkataan Evan, "apa maksudnya ini? apa mereka akan melakukan.....?"


Lili bergeleng kepala tidak percaya, wanita ini berusaha mengejar Evan dan Via namun sayang sudah kehilangan jejak.


Sementara itu, Evan dan Via yang baru saja masuk kedalam apartemen langsung melakukan ciuman panas. Via mengalungkan kedua tangannya di leher Evan, sedangkan tangan Evan sibuk melepas kancing kemeja milik istrinya dan juga melepas pengait bra.


Melihat suaminya yang begitu bersemangat, Via tak mau kalah. Wanita ini juga melepas jas dan kancing kemeja suaminya.


"Sentuh milik ku sayang...!" bisik Evan.


Tidak sabaran, Evan langsung mengarahkan tangan istrinya untuk meremas adiknya. Mereka saling meremas, rintihan dan lenguhan memenuhi setiap sudut ruangan.


Dari depan pintu pada akhirnya mereka sekarang sudah berada di atas ranjang.


"Aku minum obat kuat tadi pagi. Kau akan merasakan banyak kenikmatan hari ini sayang!" batin Evan yang licik. Via tidak tahu jika suaminya mengkonsumsi obat kuat tadi pagi sebelum berangkat bekerja.


"Kenapa kau seperti orang rakus seperti ini?" tanya Via bingung.


"Aku hanya rakus pada mu. Mari kita nikmati hari ini," ujar Evan terus menggoyang istrinya, "merintihlah sayang, aku suka mendengar suara manja mu!" bisik Evan, "terus sayang, yang keras. Teruslah, ini sangat nikmat!"


Untung saja apartemen ini kosong, jadi tidak akan ada yang mendengar suara kenikmatan dari pasangan suami istri ini.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Via, Evan juga banyak belajar tentang hubungan di atas ranjang. Pria ini tidak mau egois, sebisa mungkin Evan akan membuat istri merasa puas dan nikmat sama seperti dirinya agar sang istri tidak merasa bosan jika di ajak berhubungan. Begitulah pikir Evan!


__ADS_2