
"Apa ini, kenapa ada tiga? anak siapa yang satunya ini?" tanya pak Theo bingung.
"Ya anak Evan lah pah. Masa iya anak tetangga. Cucu papah, tiga...!" jawab Evan kembali mengangkat ke tiga jarinya.
"Masih juga bercanda, serius Van!" kata Arlan tidak percaya.
"Tanya aja sama Dokter!" seru Evan.
"Benar pak, nyonya Via melahirkan anak kembar tiga...!" ucap Dokter membuat pak Theo dan mami Gitta syok.
Mimi Gitta langsung mengusap dadanya tidak percaya. Sekali lagi wanita ini memperhatikan wajah ketiga bayi mungil tersebut.
"Mirip Evan semua!" seru mami Gitta.
Dokter dan perawat tidak mau berlama-lama berdiri di depan pintu, mereka langsung memindahkan Via dan ketiga anaknya ke ruang rawat.
"Van, ini serius kan?" tanya pak Theo sekali lagi memastikan.
"Serius pah. Nanti Dokter akan memeriksa kembali riwayat kehamilan Via!"
"The best Van. Kau sangat luar biasa, sekali goyang langsung tiga!" ucap Arlan mengangkat kedua jempolnya.
"Tidak mungkin sekali goyang, pasti hampir setiap malam!" sahut pak Theo.
"Tentu saja, makanya nikah. Kau akan tahu bagaimana rasanya di goyang setiap malam!" timpal Evan.
__ADS_1
"Ih, ini kenapa bahasnya seperti ini. Malu ah...!" tegur mami Gitta.
Wajah tegang pak Theo kini sudah kembali seperti semula. Melihat ketiga cucunya, pak Theo bingung ingin menggendong yang mana dulu.
"Mami mau gendong yang gadis aja deh!" ujar mami Gitta lalu di bantu seorang perawat untuk menggendong anak perempuan Evan.
Terlihat sekali senyum Via terus memancar sejak tadi. Wanita ini bahagia luar biasa meskipun anak-anaknya lahir jauh dari perkiraan. Melihat orang-orang di sekitarnya bahagia, Via merasa bersyukur.
"Kita akan menyelenggarakan pesta besar untuk ketiga krucul ini,...!" ujar pak Theo yang saat ini sedang menggendong cucu pertamanya.
"Lihatlah bee, dia begitu mirip dengan mu. Jadi, aku ini dapat apanya hah?" Via kesal sendiri ketika melihat wajah anak-anaknya yang tidak ada miripnya dengan Via.
"Sudah ku bilang jika bibit ku unggul, pupuk ku berkualitas!" ucap Evan dengan bangganya.
"Gimana gak unggul, pasti di siram setiap malam. Siraman cinta dan penuh kasih sayang!" sahut mami Gitta membuat semua orang tertawa di dalam ruangan.
"Van, setelah ini kau harus berpuasa sangat lama loh Van!" ujar pak Theo membuat Evan bingung.
"Maksudnya pah?"
"Maaf tuan Evan, silahkan ikut saya ke ruangan. Saya akan menjelaskan apa saja yang harus di perhatikan saat masa pemulihan setelah melahirkan!"
Evan menyerahkan anaknya pada perawat lalu mengikuti Dokter ke ruangan. Di sana, Evan hanya duduk diam sambil mendengarkan penjelasan Dokter yang membuat Evan lemas.
Dengan langkah gontai Evan kembali ke ruangan istrinya. Pak Theo menyenggol mami Gitta.
__ADS_1
"Lihat dia, pasti sekarang sedang merana!" ucap pak Theo.
"Heh, ada apa dengan mu Van? kenapa wajah mu seperti kerutan pantat sapi seperti ini?" tanya Arlan.
"Bee, apa kata Dokter?" tanya Via penasaran. Wanita ini mulai panik karena Via takut dirinya kenapa-kenapa.
"Sayang,....!" Evan langsung merengek memeluk istrinya.
"Eh, kenapa bee?" Via pun semakin bingung.
"Biarkan saja Via. Jangan hiraukan dia!" kata pak Theo.
"Om, Evan kenapa?" tanya Arlan yang penasaran.
"Diam kau!" sentak Evan pada Arlan, "jomblo di larang tahu, lagian kau mana mengerti soal beginian!"
Arlan langsung diam duduk manis sambil menikmati beberapa buah-buahan di atas meja. Sedangkan Evan yang tidak bisa menjelaskan apa kata Dokter hanya bisa menatap Via dengan wajah melasnya.
"Siapa nama ketiga jagoan mu ini Van?" tanya Arlan penasaran.
"Besok saja ku beritahu, penulis kita belum ada ide untuk anak-anak ku. Katanya dia ingin meminta pendapat dengan para pembaca setia ku dulu,"
"Em,...begitu ya...!" seru Arlan.
"Duh, dua jagoan opa dan satu ratunya opa. Semoga kalian semua tidak meniru sifat daddy dan mommy kalian ya...!" kata pak Theo membuat Evan dan Via saling pandang tidak terima.
__ADS_1
"Lalu mirip sifat papah gitu?" tanya Evan.
"Hih, kalau bisa jangan meniru sifat kalian bertiga!" seru mami Gitta menolak keras.