
"Mau kemana lagi, sudah malam?" tanya Via merasa curiga pada Evan.
"Aku ingin menyelesaikan masalah ini dulu,"
"Tapi ini sudah sangat malam, apa tidak bisa besok saja?"
"Sayang, aku hanya ingin melihat racun apa yang sudah di masukan Rania kedalam minuman itu. Istirahatlah, aku hanya sebentar," Evan mengusap rambut istrinya.
"Em, cepatlah pulang!" mau tidak mau Via mengizinkan suaminya untuk pergi.
Menembus dinginnya angin malam, Evan melajukan mobilnya menuju gudang yang,berada di lantai bawah tanah kantornya.
Evan langsung menutup hidungnya ketika salah seorang anak buah membukakan pintu besi tersebut. Evan mual, pria ini hendak muntah ketika melihat banyak kotoran manusia yang berceceran di dalam gudang.
"Bersihkan!" titah Evan.
Beberapa anak buahnya menarik selang panjang lalu menyemprotkan air ke arah Rania yang sudah lemas tak berdaya.
"Bajingan kau Evan....!" umpat Rania dengan sisa tenaganya.
"Kau memasukan obat pencahar dalam minuman istri ku. Sebagai seorang perempuan, di mana letak hati mu hah? tega-teganya kau ingin meracuni perempuan lain yang sedang mengandung!"
"Karena aku tidak suka melihat dia bersama mu. Buka mata mu Van, aku mencintai mu!"
__ADS_1
Evan terkekeh geli mendengarnya, wajah pria ini semakin dingin.
"Aku sudah membuka mata ku lebar-lebar. Ternyata aku telah menjadi bodoh hanya karena kau khianati dulu. Rania, Bagi ku kau hanyalah koran bekas!"
"Aku membenci mu Evan...!" teriak Rania histeris.
"Dulu, kau sama sekali tidak memperjuangkan ku. Bajingan kau Evan!"
"Kau yang menyakiti tapi seolah kau yang tersakiti. Rania, untuk apa aku memperjuangkan seseorang yang lebih memilih menikah dengan laki-laki lain. Aku tahu, pada saat itu usaha keluarga ku di ambang kebangkrutan. Seharusnya kau memberi ku semangat, bukan meninggalkan ku!" tutur Evan panjang lebar.
Seakan hilang rasa malunya, Rania terus menyalahkan Evan. Evan tidak peduli, pria ini langsung keluar ketika melihat Rania mengeluarkan kotoran lagi. Tidak bisa di bayangkan oleh Evan jika jalan hidupnya akan seperti ini.
Setibanya di rumah, Evan langsung pergi membersihkan diri. Di lihatnya Via sudah tidur namun wanita itu nampak gelisah dalam tidurnya.
"Selamat tidur istriku, selamat tidur anak-anak daddy," ucap Evan mengecup kening dan perut buncit istrinya.
Jarum jam terus berputar, kilauan sinar matahari masuk menembus ventilasi dan dinding kaca yang sudah tidak tertutup tirai.
Via tiba-tiba terbangun dan langsung pergi ke kamar mandi. Wanita ini muntah-muntah, tubuhnya lemas tak berdaya. Evan yang mendengar suara istrinya langsung bangun dan menyusul sang istri ke kamar mandi.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Evan panik.
"Aku sangat lemas, gendong aku bee!" kata Via dengan suara seraknya.
__ADS_1
Hebat sekali bukan, ternyata sekarang gantian Via yang merasakan ngidam. Sedangkan Evan pagi ini tidak merasakan apa pun.
Seperti anak kecil, Via minta gendong. Untung saja Evan memiliki tulang yang kuat, demi kenyamanan istrinya Evan rela menggendong Via ke sana ke mari agar merasa baikan.
"Apa aku berat?" tanya Via.
"Tidak, yang penting kau nyaman."
"Kepala ku sangat pusing, aku tidak bisa membuka mata ku," kata Via memberitahu.
"Aku akan menggendong mu. Anak-anak kita ini sangat nakal!"
Setengah jam berlalu, Via belum turun juga dari gendongan. Sudah hampir pukul tujuh pagi Evan dan Via belum turun juga untuk sarapan.
Tok...tok....
Mami Gitta mencoba memanggil pasangan suami istri itu. Ketika Evan membuka pintu, mami Gitta sangat terkejut ketika melihat Via yang bergelayut manja seperti anak kecil di leher suaminya.
"Heh, kenapa?" tanya mami Gitta merasa lucu.
"Via muntah-muntah mi. Kepalanya pusing dan dia merasa nyaman jika di gendong seperti ini," jelas Evan.
"Aaa,...kalau begitu mami akan membuatkan susu dan mengambilkan sarapan untuk kalian!" kata mami Gitta bergegas kembali turun.
__ADS_1