Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
102.Dasar Bodoh!


__ADS_3

Evan langsung menutup hidung dan menahan mual yang mengaduk perutnya ketika melihat tumpukan emas berwarna kuning di dalam popok kedua anak laki-lakinya.


Lelaki ini hanya bisa celingukan mencari siapa pun yang ada di sekitarnya karena mami Gitta dan Via sedang pergi keluar untuk membeli pakaian pesta yang akan di kenakan baby Ray, Zay, dan Kay di satu bulannya mereka nanti.


"Apa yang harus aku lakukan?" Evan menggaruk kepalanya tak gatal, "kenapa kau membuang emas mu di waktu yang kurang tepat ini hah?"


Evan berkacak pinggang, meskipun pria ini sudah pernah belajar cara membersihkan kotoran bayi namun praktek secara langsungnya belum pernah di lakukan Evan.


"Ada apa Van?" tanya pak Theo.


"Kedua anak nakal ini buang emas pah. Tolong panggilkan bibi sebentar pah!"


"Semua pembantu tidak ada Van. Mereka sibuk untuk mengurus acara pesta,"


"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Dasar bodoh! kau kan daddy-nya, bersihkan mereka cepat. Nanti iritasi...!" pak Theo menendang kaki Evan.


"Bagaimana jika kita berbagi tugas saja pah. Papah yang membersihkannya nanti Evan yang akan memakaikan popok baru dan celananya."


Buuukkk....


Lagi-lagi pak Theo menendang kaki Evan hingga membuat Evan merintih kesakitan.


"Bagi satu-satu, papah akan mengurus Zay!" ujar pak Theo yang dengan cekatan langsung membersihkan cucunya.

__ADS_1


Evan menarik nafas panjang, perutnya kembali mual melihat luberan emas murni itu. Mau tidak mau Evan mengikuti cara sang papah yang sudah lebih dulu membersihkan baby Zay.


"Cucu opa, sudah wangi...!" Pak Theo mencium gemas baby Zay.


"Cuma Kay yang penurut, dia kebanggaan ku!" ujar Evan.


Plaaak....


Pak Theo menjitak kepala Evan.


"Apa sih pah, suka sekali menyiksa ku!"


"Jangan suka membedakan anak!" kata pak Theo.


Baru juga selesai dengan tugasnya, ketiga anak Evan menangis.


"Heh, kau apakan anak-anak ku hah? kau membentaknya kah?"


Via yang baru saja datang tidak terima ketika mendengar omelan Evan. Buru-buru Via mengambil baby Zay dari gendongan Evan yang saat ini sudah menangis sangat keras. Mami Gitta yang baru datang juga langsung mengambil baby Zay yang juga menangis. Sedangkan baby Kay di gendong pak Theo.


"Baru ku tinggal sekali kau sudah memarahi mereka. Dasar keterlaluan!" omel Via.


"Mereka buang hajat tidak menangis, eh pas haus langsung menangis. Suka sekali mengerjai orangtua!" gerutu Evan.


"Namanya juga bayi, kau yang sudah dewasa harusnya paham!" sahut Via benar-benar kesal pada suaminya.

__ADS_1


"Van,...Van,...gaya mu minta enam. Di kasih tiga aja sudah pontang panting!" cibir pak Theo.


"Jadi suami jangan mau ngadonnya aja, ngurus anak harus telaten dan sabar!" sambung mami Gitta.


"Kenapa jadi menyalahkan aku?"


"Sayang, seharusnya kau bangga pada ku. Aku membersihkan kotoran mereka tadi,"


"Heleeeh,...papah yang bantu kamu. Kamu mah mintanya papah semua yang ngerjain!" tukas pak Theo.


"Orangtua satu ini suka sekali nyambung!" Evan geram sendiri.


Via melirik jam dinding, jam masih menunjukkan pukul dua siang. Cukup melelahkan untuk hari ini, ingin rasanya Via pergi tidur.


Baby Zay dan Kay juga sudah kembali tertidur sedangkan baby Ray masih betah melek.


"Istirahatlah, biar aku yang menjaga Ray!"


"Terimakasih!" ucap Via langsung menyerahkan baby Ray pada suaminya.


Via langsung merebahkan tubuhnya begitu saja, tak lama kemudian wanita ini langsung terlelap. Evan yang melihat wajah lelah Via sebenarnya merasa kasihan namun bagaimana lagi, sudah tugas mereka seperti ini.


**** Mampir yuk di dua karya otor yang baru****


__ADS_1



__ADS_2