Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
83.Selamat Tuan


__ADS_3

"Ku dengar, Evan memasukan Randi kedalam penjara," kata Lili memberitahu Rania, "setahu ku, Randi itu teman lama Via,"


"Yang benar saja, masalahnya apa?"


"Kayanya sih menculik Via,"


Rania terdiam, wanita ini merasa iri apa yang sudah di lakukan Evan untuk Via.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Lili.


"Sebenarnya Evan laki-laki baik. Jika dia sudah mencintai seseorang, apa pun akan di lakukannya,"


"Dan jangan bilang jika sekarang kau menyesal!"


"Aku adalah cinta pertama Evan. Mustahil bagi Evan tidak memiliki rasa pada ku," ucap Rania dengan bangganya.


"Cihhh,....!" Lili berdecih mencibir Rania, "percaya diri sekali kau ini."


"Lili,...Lili,...di banding kau, aku adalah orang yang paling lama memiliki kenangan bersama Evan. Cinta mu saja terus di tolak Evan, jadi kesimpulannya Evan tidak akan pernah jatuh cinta pada mu!"

__ADS_1


"Mari bersaing secara sehat. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan Via terlebih dahulu baru kita bersaing!"


"Baiklah. Bersiap untuk kalah Lili, Evan hanya akan melihat pada ku!" sekali lagi Rania membanggakan dirinya.


Rasanya Lili hendak muntah, Rania terus saja membanggakan diri dengan kenangan yang dia miliki. Selalu mengandalkan kata cinta pertama agar nyali Lili ciut.


Sudah tiga minggu sejak kejadian penculikan Via, kehidupan Evan dan Via kembali berjalan seperti biasanya. Pak Theo juga memberi Evan jatah libur bekerja sampai Via melahirkan nanti.


Hari ini, Evan dan Via akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan Kandungan Via yang sudah memasuki bulan ke empat. Masih tetap sama, Evan lah yang masih mengalami gejala ibu hamil.


"Sayang sekali mami tidak bisa ikut, suami ku yang tercinta ini tidak ingin jauh dari mami," ujar mami Gitta membuat Via tertawa geli.


"Mulut mu ini memang perlu di beri pelajaran!" kata pak Theo geram.


"Kenapa kau tidak ikut sarapan Van?" tanya mami Gitta.


"Biasalah mi....!" seru Via.


"Tidak berselera mi. Sejak Via hamil aku suka memilih makanan!" jawab Evan lesu.

__ADS_1


Selesai sarapan, pak Theo dan mami Gitta langsung berangkat ke kantor Sedangkan Evan dan Via sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


Butuh waktu dua puluh menit perjalanan menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan sudah empat kali berhenti karena Evan merasa mual dan terus muntah-muntah.


Ingin rasanya Evan jungkir balik, sumpah demi apa pun pria ini sudah tidak sanggup lagi jika harus seperti ini. Setelah di rasa enakan, pak supir kembali melanjutkan perjalanan lagi.


Setibanya di rumah sakit, Evan dan Via langsung melakukan konsultasi beberapa saat. Setelah itu Via melakukan USG untuk melihat perkembangan sang anak.


Evan dengan saksama mendengarkan penjelasan Dokter. Sungguh mengejutkan bagi Evan dan Via ketika Dokter menyatakan jika Via sedang mengandung dua anak.


"Maksudnya kembar gitu Dok?" tanya Evan tidak percaya.


"Ya, selamat tuan!"


"Bukankah beberapa waktu lalu hanya ada satu Dok? kenapa bisa menemukan kembar?" tanya Via juga tidak percaya.


"Bisa saja janin yang satunya bersembunyi dan baru nampak sekarang," jelas Dokter.


"Ah, itu tidak mungkin. Pasti saja ini hasil goyangan ku setiap malam!" ucap Evan tanpa malu.

__ADS_1


Wajah Via bagai di lempar telur busuk, wanita ini berusaha menahan malu di depan Dokter apa lagi Dokter Via adalah perempuan karena Evan tidak ingin istrinya di tangani oleh Dokter pria.


__ADS_2