
"Via, istri ku yang paling cantik, apa kau ingin pergi jalan-jalan?" tanya Evan.
"Tidak, aku hanya ingin istirahat." tolak Via.
Ya, wanita ini sangat kelelahan. Penerbangan yang seharusnya cuma tiga jam harus terlambat dua jam karena faktor cuaca.
"Tujuan kita kesini untuk liburan, bukan untuk tidur. Apa kau mau aku mangsa lagi?"
"Van,.....!"
"Berani menyebut nama ku akan ku cabut urat leher mu!" ancam Evan.
"Ternyata kau ini lebih parah dari yang aku kira. Sifat asli mu ternyata seperti ini," ujar Via geram.
"Kau baru tahu...?"
Semakin dekat dengan Evan, Via tahu bagaimana sifat suaminya yang sesungguhnya sekarang.
"Aku merasa sebagai seorang perempuan yang tepat bagi mu," ujar Via.
"Kenapa begitu? tingkat percaya diri mu sangat tinggi sekali,"
"Kau yang dikenal dingin, cuek dan acuh bisa kembali bercanda berkat mengenal ku!" jawab Via dengan penuh percaya diri.
"Ya, papah tidak salah menjodohkan aku dengan kau. Tidak bisa ku bayangkan jika aku memiliki adik dari mu. Eeee....menggelikan!"
"Kau saja yang bodoh!" umpat Via.
"Kenapa kau mengatai ku bodoh hah?"
"Aku terus memberi mu kode tapi kenapa kau tidak peka?"
__ADS_1
"Begitu ya,....? sebenarnya,....!"
"Sebenarnya apa?" tanya Via penasaran.
"Gak jadi. Via, sekarang kita sudah menjadi suami istri, beri aku nama panggilan," pinta Evan.
"Hah...!" Via mulai bingung, "haruskah seperti itu?" tanya Via lagi.
Evan langsung memeluk Via dan merengek, "Aku kan suami mu, aku dan kau kan sudah melakukan anu,...jadi beri aku nama panggilan!"
"Tapi kau tidak mencintai ku, kau hanya melakukannya karena nafsu kan?"
"Tidak, aku mencintaimu!" seru Evan.
"Sejak kapan kau mencintai ku hah? yang ada kau selalu memusuhi ku!"
Evan menatap netra mata Via lalu berkata, "Aku tidak tahu kapan cinta itu datang. Tapi, sejak ada kau pasti ada aku di sana. Di kepala ku hanya ingin melihat mu!"
"Hiliiih....bohong!" seru Via, "kau bahkan suka menghina ku!"
"Ya saat aku melamar pekerjaan di kantor. Entah kenapa tiba-tiba papah mu mengajak ku bekerja sama."
"Dan kau tertarik begitu?"
"Ya, ku lihat kau tampan dan anak tunggal kaya raya. Jadi, apa salahnya jika aku mencoba?"
"Dasar....!!"
Evan menggelitiki istrinya, membuat Via terus berguling-guling di atas tempat tidur.
"Jika kau terus membuat ku geli, aku tidak akan memberikan panggilan sayang pada mu!" ancam Via membuat Evan langsung berhenti.
__ADS_1
"Aku lebih suka menggelitik di anu mu...!" bisik Evan langsung mendapatkan cubitan di perutnya.
"Apa kau mencintai ku?" tanya Evan menarik Via kedalam pelukannya.
"Tidak, aku hanya ingin harta mu saja!" jawab Via bercanda.
"Aku bertanya serius, jangan pernah tinggalkan aku seperti dia yang pernah meninggalkan aku!" ucap Evan dengan serius.
"Aku tidak akan meninggalkan mu. Jangan kau samakan setiap orang pada orang yang pernah menyakiti mu. Selain kau dan papah, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi."
"Kasihannya istri ku ini, jangan sedih sayang ku," ucap Evan mengusap wajah Via, "sepertinya aku menyesal sekarang!"
"Menyesal kenapa?" tanya Via.
"Ternyata masih ada perempuan yang baik. Untuk hidup bersama tidak harus menjalin hubungan yang sangat lama."
"Kau saja yang bodoh!" seru Via.
"Kau ini kenapa suka sekali mengatai ku bodoh?" Evan menjewer kuping istrinya.
"Ampun bee,...ampun...!"
"Kau mengatai ku lebah....!"
"Itu panggilan sayang ku pada mu!" ujar Via membuat Evan langsung terdiam berpikir.
"Mana ada panggilan seperti itu," ujar Evan.
"Ada, sekarang dan selamanya aku akan memanggil mu Bee. Lebah tampan ku....!" kata Via lalu Memeluk Evan.
"Terserah kau saja, asal itu membuat mu nyaman!"
__ADS_1
"Terimakasih suami ku. Aku mencintaimu setinggi gunung sedalam laut dan sebanyak harta mu!" canda Via membuat Evan bergeleng kepala.
Namanya juga pengantin baru, betah di kamar bahkan makan saja harus di antar ke kamar. Evan juga, pria ini terus menempel pada Via. Makan saja minta suapi dengan istri. Evan seperti menghidupkan kembali cinta yang selama ini telah mati.