
Bulan telah berganti, tidak terasa kini usia kandungan Via sudah memasuki tujuh bulan. Semakin membuncit perut Via, membuat wanita ini mulai kesulitan untuk melakukan aktivitas.
Sejak kejadian Rania malam itu, sudah tidak ada lagi orang-orang yang mengganggu rumah tangga Evan dan Via. Lili juga seketika hilang kabar dan tidak pernah muncul lagi setelah malam itu.
"Sayang, kau mau kemana hah?" Evan panik ketika melihat istrinya menuruni anak tangga.
"Aku bosan di kamar. Aku ingin turun ke bawah, duduk di taman!"
"Saran mami, sebaiknya kalian pindah ke kamar bawah saja. Kasihan Via, takut kenapa-kenapa jika harus turun naik anak tangga!"
"Punya suami tapi tidak ada pemikirannya sama sekali," pak Theo mencibir anaknya sendiri.
"Evan kan tidak tahu, kenapa jadi menyalahkan?"
"Yang kau tahu apa? bikin aja tahunya tapi tidak mengerti dengan kesusahan istrinya!"
Evan menarik nafas panjang, laki-laki ini memilih diam karena percuma saja. Evan akan selalu salah di rumah ini.
"Jangan dengarkan papah. Ayo ku gendong!" ujar Evan lalu menggendong Via, "kau sangat berat sayang!"
"Jika kau tidak membuat ku seperti ini, maka aku tidak akan berat!"
"Aku kan hanya bercanda, kau kenapa sensi sekali?"
__ADS_1
"Bee, boleh aku minta sesuatu pada mu?" Via mengedipkan sebelah mata pada suaminya.
"Apa, apa kau meminta ku untuk menguras lautan lagi?" tanya Evan membuat Via tertawa.
"Sini,....!"
Evan mendekatkan telinganya lalu Via membisikkan sesuatu pada suaminya itu.
"Em, iya....iya...demi mu apa pun akan aku lakukan. Asal jangan meminta ku untuk menikah lagi," kata Evan.
"Memangnya kau mau menikah lagi?"
"Jika kau mengizinkan, apa salahnya?"
Meskipun sedang hamil besar, Via masih kuat untuk menonjok lengan otot suaminya.
"Punya satu saja kau sudah pusing, bergaya ingin menikah lagi," ucap pak Theo yang baru saja mendaratkan pantatnya di sofa.
"Yang pentingkan adil!" seru Evan.
"Ceraikan aku dulu. Lebih baik aku menjanda seumur hidup dari pada harus kau madu!" ujar Via.
"Laki-laki kalau merasa kurang ya begitu. Nafsu nya saja yang di besarkan!" sambung mami Gitta.
__ADS_1
"Sana, jangan menyentuh ku!" rajuk Via, "aku tidak jadi meminta yang tadi,"
"Aku kan hanya bercanda, gitu aja marah!"
Begini lah keseharian keluarga pak Theo. Sejak kehadiran Via dan mami Gitta di rumah ini, pak Theo merasa hidupnya jauh lebih menyenangkan di banding sebelumnya.
Tidak mau melihat istrinya kesusahan naik turun anak tangga, untuk sementara Evan dan Via akan tidur di kamar bawah. Meskipun tidak seluas kamar Evan.
"Entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran dengan Kiran dan ibunya. Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka!"
"Untuk apa kau mengingat mereka?" tanya Evan tidak suka.
"Itu, si mantan mu juga tiba-tiba menghilang sejak malam itu. Kau apa kan dia?" Via bertanya balik, jauh dari dalam hati Via juga penasaran kenapa tiba-tiba orang-orang yang sudah berbuat jahat padanya menghilang semua.
"Aku tidak tahu, mungkin saja sudah di panggil Tuhan!" jawab Evan acuh.
"Husss....! tidak boleh berkata seperti itu," tegur Via.
"Lagian kau ini kenapa tiba-tiba ingat dengan mereka?"
"Cuma penasaran aja. Biar bagaimana pun Kiran adalah anak kandung dari ayah ku. Baik buruknya masih saudara sedarah juga!"
"Apa dia pernah menganggap mu saudara?" tanya Evan dengan wajah dinginnya, "Jika dia saudara mu, kenapa dulu dia menculik mu dan menyiksa mu?"
__ADS_1
Evan marah, pria ini langsung keluar dari kamar meninggalkan Via di kamar. Via hanya diam menatap punggung suaminya, wanita ini juga tidak tahu kenapa dirinya bisa memikirkan Kiran.