Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
70.Baiklah


__ADS_3

"Hati-hati sayang, jalannya yang pelan aja. Kasihan anak kita," ucap Evan yang menuntun istrinya menuju mobil.


"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan!"


"Aduh, jadi pengen muda lagi kalau lihat mereka!" ujar mami Gitta tersenyum sendiri melihat perlakuan Evan pada Via.


"Aku dulu tidak seperti itu sih. Evan ini sangat berlebihan!" kata pak Theo langsung mendapatkan lirikan tajam dari mami Gitta.


"Pantas saja istri mu lebih dulu berpulang. Aku yakin dia makan hati selama hidup dengan mu!"


"Mulut mu ini, kejam sekali...!" kata pak Theo gemas sendiri.


Mereka kemudian pulang, Evan dan Via tidak berada satu mobil dengan pak Theo dan mami Gitta. Sesekali Evan mengusap perut Via, pria ini masih sangat bahagia atas kabar kehamilan istrinya.


Setibanya di rumah, Evan langsung menyuruh istrinya untuk beristirahat. Tidak lupa meminta pada pembantunya untuk memasak makanan enak untuk makan siang.


"Sayang, aku pergi sebentar ya...!" izin Evan.


"Mau kemana bee?"


"Ada sedikit pekerjaan. Maaf jika harus meninggalkan mu sebentar!" ucap Evan yang sebenarnya tidak ingin pergi.

__ADS_1


Via tersenyum, "Pergilah, tapi jangan lama-lama,"


"Em, baiklah!"


Evan kemudian pergi, pria ini melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aura wajahnya terlihat marah, Evan akan membuat perhitungan pada Randi sebab tadi malam.


"Awas saja kau....!" ucap Evan yang tangannya sudah sangat gatal untuk menghajar Randi.


Evan pergi ke kantor Randi, dengan emosi pria ini masuk kedalam mobil. Keberuntungan bagi Evan, dirinya tidak perlu masuk ke dalam karena Randi baru saja keluar dari dalam lift bersama papahnya.


Buukkkkk.....


Randi yang di pukul Evan langsung jatuh kebelakang. Tentu saja hal tersebut membuat Randi dan papahnya terkejut begitu juga dengan karyawan lainnya.


"Siapa pun itu, jauhkan mereka!" titah papah Randi yang benar-benar panik.


Security dan beberapa karyawan melerai Evan dan Randi.


Randi yang merintih kesakitan tidak bisa berdiri karena di hajat Evan yang benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Evan, kenapa kau memukul anak ku?" tanya Pak Doni.

__ADS_1


"Randi sudah memukul istri sampai pingsan tadi malam. Untung saja istri dan calon anak ku baik-baik saja. Jika tidak, akan ku pastikan dia akan menerima akibatnya!"


Pak Doni terkejut, menoleh kearah Randi, "Sebab inikah pak Theo membatalkan kerjasama kita?" lunglai sudah pak Doni.


"Aku tidak sengaja memukul Via. Aku juga tidak tahu jika dia senang hamil," kata Randi mulai panik.


"Sudah berapa kali aku memperingati mu untuk tidak mengganggu istri ku. Maaf om, anak om ini sangat suka mengusik rumah tangga ku. Jadi, harus di beri pelajaran!" ujar Evan membuat pak Doni menarik nafas panjang.


"Om benar-benar minta maaf atas nama Randi. Setahu om, Randi dan Via adalah teman."


Evan tidak peduli, melihat wajah lebam Randi membuat hatinya sedikit puas. Evan pergi begitu saja, sedangkan pak Doni terus mengomel pada anaknya.


"Pah, Randi benar-benar tidak sengaja. Randi juga tidak tahu jika Via sedang hamil," Randi mencoba menjelaskan semuanya.


"Lihat akibat ulah mu Ran, imbasnya pada pekerjaan kita. Kau memukul seorang perempuan, ini sangat salah!"


"Randi benar-benar tidak sengaja pah. Randi hanya ingin memukul Evan,"


"Sebelum bertindak seharusnya kau memikirkan akibatnya. Perusahaan kita sudah lama bekerjasama dengan perusahaan keluarga mereka. Lihatlah, sekarang semuanya kacau!"


Pak Doni marah, pria paruh baya itu langsung pergi meninggalkan anaknya tanpa merasa kasihan dengan wajah lebam Randi.

__ADS_1


"Aaaaa....sial....!!" umpat Randi kesal.


__ADS_2