
Sejak Via di nyatakan hamil, entah kenapa sikap Evan terlihat lebih manja dari pada istrinya. Wajahnya sudah sangat jarang tersenyum, membuat para karyawan sungkan untuk menyapanya.
Terkadang, Via merasa tidak enak hati pada orang yang menyapa suaminya namun hanya di tanggapi dengan wajah dingin suaminya.
Meskipun sedang hamil, Via lebih senang mengekor di belakang suaminya pergi bekerja. Begitu juga dengan Evan yang selalu mengekor kemana pun istrinya pergi.
"Suami mu semakin tampan saja jika tidak senyum!" tegur Arlan.
"Aku geli mendengar kata-kata mu!" sahut Evan.
"Aku juga heran kenapa dia suami ku sekarang jauh lebih pendiam dari biasanya!" kata Via sambil memilih menu makan siang, "aku stik daging saja!" ujar Via.
"Kau harus banyak makan sayuran sayang. Jangan makan daging terus!" tegur Evan.
"Aku harus banyak makan daging agar anak mu berdaging,"
"Pesan yang ini saja!" kata Evan menunjuk menu salad sayur.
"Sepertinya menikah itu ribet. Persoalan makan saja harus beradu debat dulu," ucap Arlan bergeleng kepala.
"Kalau begitu, kau saja yang makan!" rajuk Via.
"Pesankan saja, dari pada anak dan istri mu kelaparan," Arlan berada di pihak Via.
"Ya,...ya,...baiklah!" seru Evan membuat senyum Via mengembang lebar.
__ADS_1
Mau sekeras apa pun Evan, pada akhirnya akan luluh juga pada istrinya. Selesai makan siang bertiga, Via meminta suaminya untuk mengantarnya melihat rumahnya yang sudah beberapa waktu ini di tempati oleh Sinta dan Kiran.
"Apa ini, kenapa di segel?" Via terkejut ketika mendapati rumah peninggalan otangtuanya di segel.
"Mereka sudah menggadaikan rumah ini," kata Evan membaut Via panik.
"Tapikan sertifikatnya ada pada ku!"
"Pasti mereka sudah memalsukannya!"
"Sialan!" umpat Via, "di beri hati minta ginjal. Awas saja!"
Evan langsung menghubungi seseorang untuk menyelidiki perihal rumah dan keberadaan Sinta dan Kiran sekarang.
Mau tidak mau Via pulang meski dalam hatinya sudah sesak menahan amarah. Sepanjang perjalanan pulang Via hanya diam, membuat Evan sedikit kurang nyaman.
"Kenapa berhenti?" tanya Via.
"Beli kue sebentar. Biasanya kau sangat suka kue nastar!"
Via menghembuskan nafas pelan, "Aku sedang tidak berselera!" ucap Via sedih.
"Yakin tidak berselera? di dalam banyak macam kue enak loh!"
"Aku benar-benar tidak berselera. Tapi, jika kau memaksa apa boleh buat!"
__ADS_1
Evan tersenyum lalu mengusap rambut istrinya.
"Membuat mu senang itu sangat gampang," kata Evan lalu mengajak Via turun untuk memilih kue.
Cukup lama mereka berada di dalam, banyak macam jenis kue yang di pilih Via. Evan hanya bisa bergeleng kepala, semudah ini kah membujuk istrinya.
"Ternyata membujuk perempuan yang sedang sedih itu gampang. Bawa saja membeli makanan, pasti dia akan kembali senang," batin Evan sambil membayar kue yang di pilih istrinya.
Mereka kembali ke mobil, Evan menawarkan kembali apa yang di inginkan Via.
"Kenapa aku terus, apa kau tidak ingin makan sesuatu bee?" tanya Via.
"Sebenarnya ada," jawab Evan.
"Apa itu?" tanya Via penasaran.
"Aku hanya ingin memakan mu malam ini. Sejak kau di nyatakan hamil, aku tidak berani menyentuh mu," kata Evan dengan sorot mata penuh hasrat.
"Aduh, aku juga tidak berani. Kau dengar sendiri apa kata Dokter beberapa waktu lalu," Via bingung sendiri.
"Ada baiknya kita pergi ke rumah sakit dan berkonsultasi lagi. Sayang, apa kau tega melihat suami mu ini kelaparan?"
Melihat wajah melas suaminya, Via hanya menggaruk kepala tak gatal.
"Baiklah, ada baiknya kita berkonsultasi terlebih dahulu," kata Via membuat suaminya senang meskipun Via sedikit malu jika harus berkonsultasi masalah hubungan intim.
__ADS_1