Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
85.Sebentar


__ADS_3

Uhuuuk....uhuuukk.....


Pak Theo langsung keselek makanan yang baru saja di masukan kedalam mulut. Bukan apa-apa, Evan memberitahu papahnya jika Via hamil anak kembar dan baru ketahuan sekarang.


Mami Gitta yang panik melihat pak Theo terus terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air mata. Sepasang suami istri itu tidak percaya dengan ucapan Evan barusan karena Via pernah menunjukan hasil USG sebelumnya dan hanya ada satu nyawa yang sedang di kandungnya.


"Jangan bohong kau Evan...!" kata pak Theo yang sudah tenang.


"Evan gak bohong pah. Kata Dokternya, bisa saja sang janin itu bersembunyi dan baru kelihatan sekarang," jelas Evan.


"Kita harus membuat pesta besar jika ini benar!" ujar mami Gitta.


"Pesta untuk apa mi?" tanya Via penasaran.


"Pesta atas kehamilan anak kalian!" timpal pak Theo, "setelah mereka lahir, papah janji akan menyerahkan semua warisan kepada mu Van."


"Jika Via hamil kembar tiga bagaimana pah?" tanya Evan bergurau.


"Mami dan papah akan menjadi baby sitter mereka!" seru mami Gitta.


"Ya, papah dan mami rela menjadi babu mereka!" timpal pak Theo.


"Sayang, sudah kau rekamkah?" tanya Evan pada istrinya.


"Sudah dong, Jadi kita ada bukti jika mami dan papah mengingkarinya!" kata Via dengan senyum lebarnya.


"Dasar licik!" umpat pak Theo.

__ADS_1


Selesai makan malam, pak Theo dan mami Gitta mulai sibuk menyiapkan acara untuk pesta kehamilan Via. Evan dan Via tang terlihat santai menyerahkan semuanya pada mami Gitta.


"Sayang, jika dua begini, apa masih boleh bercocok tanam?" tanya Evan mulai merasa gelisah.


"Aku tidak tahu bee. Kenapa kau tidak tanya tadi siang?"


"Sebentar, aku akan menelpon Dokter mu!" ujar Evan langsung mengambil ponselnya untuk meminta ilmu.


"Oh Tuhan, kenapa isi kepala suami ku seperti ini?" keluh Via yang rasanya ingin berguling-guling di atas tempat tidur.


Evan menurut telpon dengan senyum yang lebar di wajahnya. Hanya untuk menggoda sang istri, jika pagi dan siang Evan akan terlihat seperti orang menyedihkan, jika malam pria ini akan nampak segar bugar.


Waktu cepat berlalu, malam sudah berganti pagi. Yang membuat Evan dan Via kaget, malam ini adalah acara pesta atas kehamilan Via.


Evan hanya bisa bergeleng kepala dengan kelakuan mami dan papahnya.


"Terserah mereka yang penting mereka bahagia!" sahut Evan.


Pesta besar yang di selenggarakan mami Gitta dan pak Theo adalah undangan terbuka untuk semua orang. Tidak lupa mereka mengundang anak-anak dari beberapa panti asuhan.


Evan salut dengan mami Gitta yang begitu perhatian pada Via. Meskipun mami Gitta tidak pernah melahirkan namun wanita itu sangat antusias memberikan perhatian pada Via.


"Apa kau mau datang ke pesta ini?" tanya Lili menunjukkan berita di ponselnya pada Rania.


"Kita tidak di udang, mau masuk bagaimana?"


"Ini undangan terbuka.Jadi, kita bebas datang!" kata Lili membuat senyum Rania mengembang.

__ADS_1


Kedua wanita ini tinggal di apartemen yang sama karena Rania sekarang hanya bisa menumpang hidup pada Lili.


"Mari pergi bersama!" seru Rania.


Siang cepat berlalu, Via merasa bahagia karena baru sekarang dirinya merasakan kehangatan sebuah keluarga. Evan tidak memberikan istrinya berjalan kesana kemari. Mereka hanya duduk saja menikmati acara yang ada.


"Lihatlah, kue itu menggoda ku bee!" ujar Via sambil menatap susunan kue di meja catring.


"Sebentar, aku akan mengambilnya!" kata Evan langsung mengambilkan untuk istrinya.


Girang sekali Via, wanita ini juga minta suapi. Dengan senang hati Evan menuruti permintaan sang istri.


"Evan....!" sapa Rania mengejutkan suami istri tersebut.


"Mau apa kalian di sini?" tanya Evan tidak suka.


Rania menunjukkan senyum akrabnya, "Aku dan Lili datang hanya untuk memberikan ucapan selamat pada mu dan Via. Ku dengar, istri mu sedang mengandung anak kembar,"


"Tidak di butuhkan, sebaiknya kalian pergi...!" usir Evan membuat darah Rania langsung mendidih melihat ke arah Via.


"Van, kita berteman. Kami datang hanya untuk mengucapkan selamat saja!" ujar Lili.


"Dan aku tidak pernah menganggap kalian teman!" kata Evan dengan tegasnya, "pergilah!" usir pria itu.


Evan acuh, begitu juga dengan Via yang tidak peduli atau berkomentar apa pun. Melihat Evan yang sedang menyuapi Via, hati Rania semakin panas menahan kecemburuan.


"Awas saja!" batin Rania emosi.

__ADS_1


"Rania sepertinya cemburu, aku bisa mengomporinya nanti," batin Lili mulai mendapatkan ide licik.


__ADS_2