Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
69.Kau Pikir Enak?


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Via langsung mendapatkan penanganan dari Dokter. Evan mondar mandir di luar ruangan menunggu istrinya sambil mengumpat marah pada Randi.


Cukup lama Evan menunggu, pria ini sudah tidak sabar lagi untuk masuk melihat keadaan istrinya. Baru saja Evan hendak menerobos masuk, Dokter pun keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Evan benar-benar panik.


"Istri anda baik-baik saja. Sebaiknya kita bicara di dalam tuan," ujar Dokter.


Mereka langsung masuk kedalam ruangan, Evan juga langsung menghampiri istrinya yang masih belum sadarkan diri ini.


"Sayang......!" Evan melihat wajah pucat istrinya.


"Untuk pukulan yang mengenai kepala istri anda, kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan dan semua baik-baik saja," jelas Dokter membuat Evan merasa lega, "keadaan kandungannya pun juga sehat dan baik-baik saja!" timpal Dokter membuat Evan terkejut.


"Kandungan?" Evan mengulangi perkataan Dokter.


"Iya tuan, apa kalian belum tahu jika nyonya Via sedang mengandung?" tanya Dokter curiga jika Evan dan Via belum mengetahui jika Via sedang hamil.


"Maksud Dokter istri saya hamil gitu?" tanya Evan benar-benar syok.


"Ya, usia kandungannya sudah memasuki enam minggu,"


"Dokter tidak salah periksa?" tanya Evan memastikan.


"Tidak pak, ini hasil pemeriksaannya!" kata Dokter menunjukan buktinya.


Langsung lebar lah senyum Evan, di balik emosinya ada kabar baik yang membuat emosinya menjadi dingin.

__ADS_1


"Itu artinya, sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah. Benar begitukan Dokter?"


"Ya, selamat tuan. Selamat untuk kebahagiaannya!" ucap Dokter tersebut.


Girangnya bukan main, wajah Evan berseri-seri. Meskipun begitu, Evan tidak melupakan perbuatan Randi yang tadi. Via yang belum sadar juga pada akhirnya langsung di pindahkan ke ruang rawat.


Pak Theo dan mami Gitta juga langsung pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Evan.


"Kenapa menantu ku seperti ini hah?" tanya pak Theo marah, bahkan pria paruh baya ini mencengkram leher anaknya sendiri.


"Oh sayang, lepaskan Evan. Kasihan dia!" mami Gitta menarik suaminya.


Evan kemudian menceritakan apa yang sudah terjadi. Pak Theo mengepalkan tangannya marah dan langsung mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Putuskan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Adwinanta!" titah pak Theo pada seseorang di sebarang sana.


Evan dan mami Gitta saling lirik tidak percaya jika pak Theo akan bersikap setegas ini.


Mendengar suara istrinya, Evan langsung menghampiri Via.


"Sayang, kau sudah sadar. Apa ada yang sakit, terutama perut mu?" tanya Evan dengan wajah panik.


"Aku baik-baik saja. Kepala ku sedikit pusing!" jawab Via mencoba duduk. Evan kemudian membantunya.


"Oh syukurlah...!" ucap mami Gitta dan pak Theo bsrsamaan.


"Sayang, mulai sekarang kita harus berhati-hati. Apa lagi sekarang kau sedang mengandung," ucap Evan membuat Via, pak Theo dan mami Gitta terkejut.

__ADS_1


"Maksud mu apa bee?" tanya Via tidak mengerti.


"Sayang, sebentar lagi kita akan menjadi orangtua. Kau hamil, kau hamil anak ku sayang!" kata Evan memberitahu dengan senyum lebarnya.


"Hah, benarkah?" tanya Via tidak percaya.


"Itu artinya papah akan menjadi seorang kakek dong...!" ujar pak Theo.


"Dan mami akan di panggil oma dong...!"


"Iya, Evan serius. Via hamil, istri ku hamil....!" ucap Evan langsung memeluk istrinya.


Pak Theo dan mami Gitta juga saling berpelukan dan menari-nari.


"Aku mencintaimu sayang...!" ucap Evan, "Semoga kau hamil anak kembar enam...!" doa Evan langsung di aminkan pak Theo dan mami Gitta.


Sedangkan Via langsung mendengus kesal.


"Kau pikir enak apa...?" gerutu Via.


"Anak daddy, anak daddy. Cepat lahir....!" ucap Evan mengusap perut istrinya.


"Duh, oma akan menjadi oma yang paling cantik deh!" ucap mami Gitta.


Pak Theo merangkul pundak mami Gitta, "Kita tidak usah repot-repot membuat bayi. Ada Evan dan Via, toh sama saja," kata pak Theo.


"Kau benar suami ku. Lagian sama juga, sama-sama bayi,....!" sahut mami Gitta.

__ADS_1


"Istirahat sayang, kau butuh istirahat. Masalah bajingan itu, jangan kau pikirkan lagi," kata Evan.


Kebahagiaan malam itu membuat Evan merasa sangat bersyukur. Laki-laki ini semakin mencintai Via, bahkan Evan terus mendampingi istrinya. Pria ini terus menciumi wajah istrinya, tidak peduli depan orangtuanya sekalipun.


__ADS_2