Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
19.Bukan Urusanmu


__ADS_3

"Mau apa kau ke sini?" tanya Via memandang tidak suka pada Kiran yang datang ke tempat kerjanya.


"Sombong sekali kau ini ya," ujar Kiran, "aku datang kesini hanya ingin memberitahu mu jika ibu sakit!"


"Lalu aku harus apa?" tanya Via acuh.


"Dimana rasa empati mu Via?" tanya Kiran kesal, "ibu ku sakit, kami tinggal di jalanan. Tega sekali kau mengusir kami," ucap Kiran dengan nada yang sedikit tinggi hingga membuat karyawan lainnya mendengar.


Via melirik manusia yang berada di sekitarnya, sudah pasti kedatangan Kiran akan menjelekan namanya.


"Kau tidak punya hati Via, kau tega mengusir ibu yang sudah merawat dan membesarkan mu!" Kiran mengeluarkan air mata kesedihan yang sengaja di buat-buatnya.


Via tertawa garing lalu berkata, "Seharusnya kau ingat Kiran, jika bukan karena ibu mu merebut ayah ku dari ibu ku, tidak akan mungkin ibu ku meninggal secepat itu!"


Pias, wajah Kiran langsung pias mendadak malu.


"Meskipun kita masih kecil, aku masih ingat betul bagaimana ibu mu dan ayah ku bercinta di dalam kamar rumah kami. Haha,...apa kau merasa paling tersakiti sekarang?" tanya Via membungkam mulut Kiran.


"Kau sepertinya sangat suka mengganggu via. Apa yang salah dalam otak mu Kiran?" tiba-tiba Randi muncul dari belakang mereka.

__ADS_1


Karyawan kantor yang baru saja selesai makan siang tidak tertarik untuk melanjutkan pekerjaan. Mereka lebih tertarik untuk menonton sedikit drama siang ini.


"Randi,...!" lirih Kiran terkejut. Wanita ini pernah menyukai Randi namun nyatanya Randi lebih menyukai Via.


"Sebelum kau malu, maka pergilah sekarang!" usir Via dengan santainya.


Kiran yang sudah sangat malu langsung pergi begitu saja. Bukan malu pada karyawan, melainkan pada Randi yang pernah dia suka dulu.


"Apa dia melukai mu?" tanya Randi.


"Tidak, aku baik-baik saja!" jawab Via.


"Berhenti memutar ku. Kepala ku pusing!" ujar Via.


"Hehe,...maaf. Aku takutnya seperti dulu. Apa kau masih ingat jika kening mu pernah terluka akibat di lempar batu oleh Kiran?"


"Em, lalu aku harus bagaimana sekarang?" tanya Via membuat Randi bingung sendiri mencari jawaban.


"Wah, mesra sekali ya," tegur Evan yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Via memutar bola matanya malas, "Jika kami mesra, kau mau apa?" tanya Via membuat darah Evan langsung naik turun.


"Seharusnya kau bisa menjaga sikap mu karena sebentar lagi kau akan segera menikah dengan papah ku. Apa kau tidak malu?"


"Wah, perhatian sekali calon anakku ini. Terimakasih," ucap Via menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Via, apa kau sibuk sekarang?" tanya Randi.


"Sangat tidak Ran, kenapa? apa kau ingin bernostalgia dengan masa-masa kita dulu?" tanya Via dengan sengaja.


Randi tersenyum, "Tentu saja. Jika kau tidak sibuk, aku ingin mengajak mu pergi ke tempat biasa kita dulu," ujar Randi membuat mata Evan langsung melebar.


"Hai,ini masih jam kerja. Mau pergi kemana kau?" tanya Evan.


"Potong saja gaji ku. Aku ingin menghabiskan waktu bersama teman lama ku," jawab Via membuat Evan geram.


Via dan Randi kemudian pergi, meninggalkan Evan yang seperti cacing kepanasan.


"Van, siapa laki-laki tadi. sepertinya sangat akrab dengan Via?" tanya Lili yang ternyata sejak tadi memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Bukan urusan mu. Kembali bekerja!" ucap Evan yang masih kesal.


__ADS_2