
"Milik siapa tempat ini?" tanya Via penasaran.
"Apartemen ini salah satu properti milik papah. Kau bisa tinggal di sini dari pada mencari kontrakan," jawab Evan.
"Tidak usah," tolak Via, "Aku akan mencari tempat tinggal yang lain saja."
"Wah, apa kau ingin melihat calon anak mu ini mati di gorok pak Theo?" tanya Evan membuat Via langsung tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana bisa seorang ayah menggorok anaknya sendiri? kau ini lucu!"
"Kau calon istrinya, papah ku sangat tergila-gila pada mu. Jika dia tahu kau terlantar di jalan, nyawa ku menjadi taruhannya!"
"Oh, mengerikan. Sebegitu cintanya kekasih hati ku itu," ucap Via membuat Evan semakin geram.
"Awas saja kau melakukan yang tidak-tidak sama papah ku. Akan ku kejar kau ke ujung bumi sekali pun!" ancam Evan.
"Tenang saja, aku hanya akan memberi papah mu secangkir kopi panas saja!" ujar Via langsung membuat Evan menjitak kepala Via geram.
"Coba saja, akan ku musnahkan kau!"
"Calon anak ku ini lucu juga ternyata!"
"Aku tidak peduli. Aku akan pergi, buang-buang waktu saja!"
Evan berlalu pergi, membuat tawa Via kembali pecah. Via kemudian melihat-lihat apartemen yang sangat mewah ini.
"Heh gila,sekaya apa sih mereka?" ujar Via tidak percaya.
Sementara itu, Evan yang baru saja kembali ke kantor membuat Lili bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Evan, kau dari mana saja?" tanya wanita itu sok khawatir.
"Aku ada urusan. Kenapa memangnya?" tanya Evan balik.
"Aku khawatir pada mu, kau tidak mengangkat telpon ku!"
"Sebaiknya kau bekerja, jangan mengganggu ku!" ujar Evan langsung masuk ke dalam ruangannya.
Lili kesal, wanita ini menghentakkan kakinya kembali ke meja.
"Gak dulu gak sekarang sama aja!" ucap Lili yang geram dengan sikap Evan.
Keesokan harinya, seperti biasa Via langsung berangkat bekerja tanpa mampir ke rumah Evan. Evan sendiri yang sudah terbiasa dengan kehadiran Via di rumahnya hampir setiap pagi namun pagi kali ini terasa sepi. Pak Theo yang sekarang berada di luar negeri kemungkinan akan kembali dalam waktu satu bulan.
Selesai sarapan Evan langsung berangkat ke kantor. Seperti biasa juga Lili akan menunggu Evan di loby. Sebenarnya, Evan merasa risih namun mau bagaimana lagi jika dirinya mempekerjakan Lili hanya ingin membuktikan jika Evan adalah laki-laki normal.
"Ngapin kamu di sini?" bukannya menjawab sapaan Lili Evan malah bertanya dengan dinginnya.
"Aku menunggu kamu!" jawab Lili dengan wajah gugupnya.
"Tugas mu di sini hanya bekerja, bukan menunggu ku," Evan berkata dengan tegasnya.
"Selamat pagi calon anak ku," sapa Via semakin membuat wajah Evan masam.
Evan menarik nafas panjang, "Ya Tuhan, apa lagi ini?" lirih Evan pasrah.
"Pesan dari papah mu!" ujar Via sambil menunjukan ponselnya.
Evan mengambil ponsel Via lalu membaca pesan tersebut.
__ADS_1
"Besok?" tanya Evan pada Via.
"Em, tiga hari."
"Kenapa lama sekali?" protes Evan.
"Calon suami ku bilang, setelah kita menghadiri acara peresmian, kita juga harus menghadiri acara peletakan batu pertama untuk pembangunan hotel selanjutnya," jelas Via.
"Apa kau akan ikut?" tanya Evan.
"Oh, tentu saja!" jawab Via yang merasa senang.
"Kalian ingin pergi ke mana?" tanya Lili yang penasaran.
"Besok kami akan pergi perjalanan bisnis, kenapa?" tanya Evan.
"Seharusnya Via tidak perlu pergi. Aku yang lebih pantas pergi karena aku adalah Sekretaris mu," ucap Lili dengan percaya diri.
"Yah, kalau begitu pergilah. Aku juga bisa bersantai," sahut Lili.
"Enak saja kau ingin bersantai. Kita pergi bersama!" ujar Evan berlalu begitu saja.
"Dasar perempuan tidak tahu diri...!" umpat Lili pada Via.
"Apa kita pernah memiliki masalah sebelumnya?" tanya Via dengan wajah santainya.
"Awas saja kau!" ancam Lili kemudian pergi menyusul Evan.
Via bergeleng kepala, sejak hari pertama Lili masuk bekerja Via sudah bisa merasakan jika Lili tidak menyukainya.
__ADS_1