Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
47.Manisnya


__ADS_3

"Bagus Via, mari kita buat Evan merasa bersalah pada mu," ucap pak Theo dengan tawa renyahnya.


"Tapi, apa gak keterlaluan pah?" tanya Via yang merasa tidak enak hati pada Evan.


"Biarkan saja, sesekali Evan harus di beri pelajaran. Dia kalau bicara suka pedas."


Via menyeruput minumannya dengan santai, sedangkan suaminya sekarang sedang kelimpungan mencari. Via tidak ada dia apartemen, juga tidak ada di rumah lamanya. Karena Via sekarang ada di hotel yang berbeda atas permintaan pak Theo.


"Ah, sial!" umpat Evan, "ini mulut kenapa tidak bisa di rem sih?"


Evan memutar kemudinya, pria ini mencoba menghubungi Via namun ponsel wanita itu tidak aktif. Seharusnya, siang ini Evan dan Via berangkat bulan madu tapi nyatanya tidak jadi. Via menghilang, membuat Evan gelisah.


Menjelang sore, Evan pulang ke rumah. Pria ini mengendap-endap masuk kedalam rumah karena takut jika ketahuan sang papah.


"Loh, kok pulang Van?" tanya pak Theo yang pura-pura tidak tahu, "di mana Via? bukankah seharusnya kalian pergi bulan madu?"


Jleeeb,....


Evan menelan ludahnya kasar, bingung ingin mencari alasan apa karena jika papahnya tahu habis lah Evan.


"Di mana Via?" sekali lagi pak Theo bertanya dengan sorot mata tajam.


"Anu pah, Via pergi. Evan tidak tahu kemana dia pergi. Tapi pah, Evan sudah mencarinya. Evan pikir Via akan pulang ke rumah ini,"

__ADS_1


"Lelaki macam apa kau ini Van? kenapa sifat mu tidak berubah juga hah?" sentak pak Theo.


"Pah, ini bukan salah Evan. Ini salah papah, semua kerjaan papah dan Via. Jadi kenapa harus Evan yang di salahkan?"


"Via sebatang kara Van, berdosa jika kau menyakiti anak yatim piatu seperti dia," pak Theo menakuti anaknya sendiri.


Evan terdiam, pria ini mengaku salah karena sudah beberapa kali mengucapkan kata-kata yang membuat Via tersinggung.


"Evan pergi dulu pah!" pamit Evan dengan wajah lelahnya.


Sementara itu, Via yang sudah kembali ke apartemen merasa senang sekali. Wanita ini berguling-guling di atas tempat tidur.


"Sepertinya tidur jauh lebih enak!" ujar Via yang perlahan memejamkan mata.


Via benar-benar tertidur, bahkan kilauan senja yang masuk menembus dinding kaca sudah tidak dia pedulikan lagi. Sekali lagi, Evan mencoba pergi ke apartemen untuk memastikan jika Via ada di sana atau tidak.


Tanpa permisi lagi Evan masuk kedalam kamar dan mendapati Via sedang tidur.


Evan menarik nafas panjang, "Seharian aku bersusah payah mencari ternyata dia malah enakan tidur. Dasar perempuan...!"


Evan menghampiri tempat tidur, niat hati ingin memarahi sang istri namun niatnya langsung di urungkan ketika Evan melihat wajah polos istrinya.


"Mana tega aku memarahinya jika sedang tidur seperti ini," batin Evan bingung.

__ADS_1


Tangan lelaki ini mulai nakal, Evan tertarik mengusap wajah istrinya. Lengkungan senyum pria ini tidak bisa di jelaskan.


"Manisnya....!" puji Evan dalam hatinya.


Via merasa ada yang mengganggu tidurnya langsung terbangun. Wanita ini sangat terkejut ketika mendapati Evan sudah duduk di sampingnya.


"Mau apa kau?" tanya Via yang langsung menjauh dari suaminya.


"Aku mencari mu, maafkan kata-kata yang sudah melukai hati mu!" ucap Evan.


"Menjauh dari ku Van. Sudah ku bilang kita tidak ada kecocokan. Untuk apa kau mencari ku, aku tidak begitu penting,"


Evan terdiam, bingung sendiri dengan perasaannya.


"Jika ku tahu begini, lebih baik aku benar-benar menikah dengan papah mu saja. Lebih nyaman!"


Mata Evan langsung melotot tidak terima dengan ucapan istrinya.


"Apa cocoknya kau dan papah hah?"


"Lalu bagaimana dengan kita?" Via bertanya balik.


"Ya, dari pada kau menikah dengan papah lebih baik kau menikah dengan aku!" ujar Evan.

__ADS_1


"Meladeni mu tidak ada habisnya. Aku mau mandi...!" kata Via lalu turun dari atas tempat tidur.


Ponsel Evan berbunyi, ada notifikasi pesan masuk dan itu dari papahnya. Lagi-lagi Evan menghela nafas panjang lalu menyimpan kembali ponselnya.


__ADS_2