Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
12.Dasar Kampung


__ADS_3

"Wah,...aku baru tahu jika keluarga mu memiliki villa sebagus ini," ujar Via yang sangat kagum dengan pemandangan laut yang bisa dia saksikan langsung dari villa.


"Kenapa, apa kau semakin tertarik untuk menikah dengan papah ku?" tanya Evan.


"Ya, papah mu sungguh kaya raya. Jika aku menikah dengannya, aku akan mendapatkan segalanya. Berbeda dengan kau, hanya menumpang nama orang tua saja!" cibir Via membuat Evan geram setengah mati.


"Perempuan stress!" umpat Evan, "Jika bukan karena papah, sudah ku pastikan kau akan ku buang ke lautan sana!" kata Evan lalu masuk ke dalam villa.


Puasnya rasanya Via tertawa, Evan yang mudah emosian namun bisa menahan marahnya membuat Via senang sekali menggoda pria itu.


Bukan main, selesai makan malam Evan yang sedang menelpon papahnya untuk menanyakan pekerjaan apa yang akan dia lakukan malah mendapatkan jawaban yang membuat Evan ingin melompat ke laut. Tidak ada pekerjaan, Theo sengaja mengatur liburan Evan bersama Via agar mereka bisa beristirahat dari pekerjaan katanya.


"Kenapa kau tertawa, apa kau merasa senang?" tanya Evan kesal.


"Ya, jika kau tidak suka kau boleh angkat kaki dari tempat ini," ujar Via yang seolah mengusir Evan.


Evan memutar bola matanya jengah, terkadang permintaan sang papahnya yang tidak masuk di akal ini bisa menyudutkannya.

__ADS_1


"Jika aku memilih pulang, papah akan membuang dan tidak menganggap ku sebagai anak," kata Evan yang benar-benar kesal.


"Kau ini, semakin marah semakin terlihat tampan. Sayang sekali tidak laku!" cibir Via semakin membuat Evan geram.


"Jaga mulut amis mu itu ya!" sentak Evan.


"Kau pikir aku ikan apa?"


"Jangan menatap ku, nanti kau malah berbalik jatuh cinta pada ku!" ujar Evan membuat tawa Via langsung pecah.


"Cinta, yang ada kau sendiri jatuh cinta dengan ku. Jangan, nanti kualat sama papah mu!" sahut Via yang tak bisa menahan tawanya.


"Kenapa di matikan?" tanya Evan penasaran, "Ibu tiri mu lagi?"


"Em, menyebalkan!" kata Via, "Aku ingin pergi, jangan ganggu aku!"


"Siapa juga yang ingin menggangu mu?" tanya Evan tak di pedulikan oleh Via yang melangkah pergi, "Hih, percaya diri sekali dia. Untung jodohnya papah, bukan jodoh ku!"

__ADS_1


Evan pergi ke tempat lain, rasanya lumayan juga mendapatkan liburan yang tak terduga meskipun harus bersama perempuan aneh kata Evan.


"Jalan-jalan dulu ah, sudah lama tidak pergi ke tempat ini," ujar Evan.


Via hanya menyusuri pinggiran pantai, cukup ramai di sana karena tak jauh dari villa terdapat perkampungan penduduk.


Malam menjelang, tenang rasanya ketika Via menikmati makan malam diiringi dengan bunyi debur ombak.Evan tidak peduli, lelaki ini hanya sibuk dengan makanan yang sengaja dia pesan khusus untuk dirinya.


"Dasar kampung!" cibir Evan yang melihat tingkah Via.


"Aku mendengar kata-kata yang keluar dari congor mu itu. Jangan sembarangan kau kalau bicara!" sahut Via membuat Evan salah tingkah.


"Kenapa, apa kau tidak terima?" tanya Evan.


"Dasar anak durhaka. Kau harus belajar menerima ku sebagai ibu mu!"


"Heh, ku doa kan jodoh mu dan papah ku kandas!" Evan berdoa.

__ADS_1


"Cih, mana tahu kau berjodoh dengan ku nanti," sahut Via langsung membuat Evan menirukan gaya hendak muntah.


__ADS_2