
Lingerie yang berwarna merah maroon itu sangat indah membalut tubuh Via. Dua gundukan tebal dan hutan yang sedikit lebat dapat di lihat Evan dengan jelas meskipun terlindung kain tipis itu.
"Sayang,....!" Evan menelan ludahnya kasar.
Via menghampiri suaminya, merangkul leher Evan lalu menggoda lelaki itu.
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Via dengan suara manjanya.
Evan terus mengangguk, adiknya sudah sejak tadi menegang. Sudah lama Evan tidak menyentuh sarang favoritnya, tanpa permisi lagi Evan mulai merabanya.
"Sangat halus dan lembut!" ucap Evan yang sudah tidak tahan lagi.
Laki-laki ini langsung memagut bibir istrinya, meremas manja dua bukit indah yang selama ini sangat di rindukannya.
"Kunci dulu pintunya...!" ujar Via sesaat melepaskan ciumannya.
Dengan langkah secepat kilat, Evan langsung mengunci pintu kamarnya lalu kembali pada istrinya.
Mereka kembali berciuman, panas sekali. Evan merakus malam ini, begitu juga dengan Via.
Jari lentik wanita itu sibuk melepas kancing kemeja suaminya yang belum sempat berganti pakaian. Jari kekar Evan sibuk berjelajah mengabsen tempat favoritnya.
"Aku sudah tidak tahan lagi...!" bisik Evan buru-buru melepas celananya.
Evan juga melepas lingerie yang di kenakan sang istri. Sekarang tubuh mereka sudah sama polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Baru saja Evan mengambil langkah untuk memasukan adiknya, salah satu anaknya tiba-tiba menangis hingga membuat Evan dan Via terkejut.
Via mendorong tubuh Evan lalu membalut dirinya dengan selimut. Via memberikan satu botol susu pada baby Kay, sedangkan kedua anak lainnya masih terlelap tidur.
Evan yang saat ini sedang berguling-guling di atas tempat tidur tidak bisa berbuat banyak selain menunggu istrinya.
Tidak butuh waktu lama, baby Kay kembali tertidur. Via kembali ke ranjang, membuat senyum Evan kembali mekar.
"Tidur sayang, bangunkan lagi dong...!" ujar Evan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mereka kembali melanjutkan permainan ranjang, Evan tidak mau menunggu lebih lama lagi, pria ini bersiap-siap untuk memasukan juniornya.
Lagi-lagi, aktivitas panas mereka terganggu karena baby Ray bangun dan menangis. Via langsung memberikan sebotol susu untuk anaknya. Untuk beberapa saat Via menunggu sang anak kembali tertidur.
"Sabar Van, sabar....!" Evan mengusap dadanya.
"Sudah tidur, mau lanjut atau bagaimana?" tanya Via.
__ADS_1
"Aku sudah hampir mati kelaparan kau malah ingin menundanya. Tega sekali...!" kata Evan tetapi tangannya malah sibuk bergerayang.
Tidak mau menunggu lama lagi, pasangan suami istri yang sudah lama tidak pernah bercinta ini langsung melakukan aksi goyangannya. Berbagai macam gaya di lakukan Evan, bunyi cepak-cepak jeder pun terdengar indah malam ini. Rintihan, lenguhan manja nan menggoda semakin panas terjadi.
Evan benar-benar membayar apa yang sudah lama ia impikan. Hingga pada akhirnya, mereka melakukan puncak bersama-sama, saling menegang, meremas dan mencengkram.
Untuk beberapa saat, Evan dan Via saling memandang dengan nafas yang tidak beraturan. Evan kemudian menggendong Via ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri sebelum tidur.
"Istirahat lah sayang. Maaf sudah membuat mu lelah malam ini," ucap Evan sambil mengusap lembut wajah istrinya.
"Hanya Zay yang tidak bangun, di begitu nyenyak!"
"Anak yang pengertian, aku akan memberinya hadiah besok," ujar Evan.
"Beri aku hadiah juga bee!" rengek Via sambil memeluk suaminya.
"Iya,...iya...tidurlah, sudah larut malam!"
Puas sekali rasanya, malam ini bisa tidur dan bermimpi indah. Entahlah, rasanya kebahagiaan Evan telah lengkap malam ini. Malam ini, ketiga bayi kembar itu sangat pengertian. Mereka tidak bangun karena paham jika kedua orangtua mereka butuh istirahat.
Malam telah berganti pagi, Evan dan Via bangun dengan wajah segar. Pasangan suami istri ini saling membantu memandikan anak-anak mereka setelah itu baru mereka yang bergantian untuk mandi. Begitu lah aktivitas Evan dan Via setiap hari, Evan sudah terbiasa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.
"Papah dan mami mau kemana?" tanya Evan bingung ketika melihat tumpukan koper.
"Lalu kami bagaimana?" tanya Evan panik.
"Apanya bagaimana?" Via bertanya pada suaminya.
"Siapa yang akan membantu mu mengurus mereka sayang?"
"Evan, kalian berdua harus belajar mandiri. Mami paham jika mengurus tiga anak itu tidak akan mudah, tapi kalian harus banyak belajar sekarang. Lagian, mami dan papah hanya pergi dua minggu!"
Evan menarik nafas panjang, pria ini menoleh ke arah anaknya yang saat ini sedang tiduran santai di dalam stroller lalu menoleh lagi pada istrinya.
"Aku bisa, aku pasti bisa. Aku ibunya, jangan meremehkan ku!" ucap Via.
"Ya, kita bisa.Mami dan papah pergi sana...!" Evan malah mengusir mami Gitta dan pak Theo.
Tidak mau membuang waktu, mami Gitta dan pak Theo kemudian pergi. Tidak lupa mereka mencium si kembar terlebih dahulu. Pak Theo terus melambaikan tangan sambil mengejek Evan. Evan sungguh geram dengan sikap papahnya ini.
"Ternyata seru juga mengerjai Evan....!" ujar pak Theo cekikikan.
"Evan takut Via tidak bisa mengurus anak-anaknya. Padahal selama ini ketika dia bekerja Via sudah terbiasa mengurus Zay, Ray dan Kay seorang diri. Aku salut pada Via, dia bukan perempuan manja dan banyak menuntut," tutur mami Gitta.
__ADS_1
"Semoga saja Evan bisa lebih dewasa lagi. Perginya kita berlibur ini, aku harap dia bisa bersikap adil dan semakin bertanggung jawab," ucap pak Theo penuh harap.
"Haha,...mari pergi berlibur sayang....!" seru mami Gitta yang sangat bahagia.
"Mari menikmati hari indah kita sayang.....!" balas pak Theo.
Sementara itu, Evan mencoba merayu Via agar mau menggunakan jasa baby sitter agar istrinya tidak kelelahan. Namun, Via tetap menolak penawaran suaminya. Wanita ini hanya ingin fokus merawat anak serta suaminya tanpa bantuan orang luar.
"Aku salut pada mu sayang, kau mampu melakukan segalanya di luar pemikiran ku,"
"Sudah seharusnya begitu, aku bahagia dengan keluarga ku yang sekarang. Memiliki suami yang baik meskipun terkadang menyebalkan, memiliki tiga anak tampan dan cantik juga orangtua yang sangat baik pada ku. Lalu, kenapa aku harus mengeluh atas nikmat Tuhan ini?"
"Mengeluh itu wajar sayang, capek ya istirahat, ngantuk ya tidur dan lapar ya makan. Hidup jangan di buat susah, meskipun banyak masalah."
"Enak sekali kalau bicara, kita tidak tahu bagaimana rasanya kekurangan materi. Jangan terlalu membanggakan diri mu wahai suami ku,"
Evan memeluk istri dari belakang, memandang anak-anak mereka yang saat ini sedang tidur. Masih tidak percaya jika dirinya bisa membuat mahakarya yang ada di depannya ini.
"Sayang, terimakasih telah menjadi istri ku. Terimakasih sudah melahirkan anak-anak kita, terimakasih untuk segala kebahagiaan ini," ucap Evan mencium pipi istrinya.
"Terimakasih juga suami ku, meskipun kita di satukan dengan cara tak biasa, tapi aku akan selalu mengenangnya. Cerita cinta kita sangat lucu, membuat ku tidak bisa melupakannya."
"Aku masih tidak percaya jika wanita yang ku anggap sebagai calon ibuku tapi malah menikah dengan ku. Kau dan papah sangat licik."
"Tapi, kau yang menentang ku sebenarnya kau menyukai ku kan?" tebak Via membuat Evan malu.
"Tidak ada...!"
"Jangan bohong, aku tahu itu.Dulu kau sangat suka mengekor di belakang ku."
"Sayang, jangan di ingatkan. Aku malu...!" rengek Evan.
Via tertawa, tawanya keras sekali hingga membuat anak-anaknya terbangun. Evan dan Via saling pandang lalu menggendong anak-anak mereka.
Kebahagiaan mana lagi yang Evan cari? Evan sudah memiliki segalanya, materi yang cukup, istri yang baik dan anak-anak yang lucu. Begitu juga dengan pak Theo, bisa dengan tenang menikmati masa tuanya setelah melihat Evan menikah. Sedangkan Arlan, lelaki itu masih betah menjomblo dan belum tertarik untuk menikah.
Lihatlah Evan, lelaki ini bisa menggendong dua anaknya sekali gus. Via memuji kekuatan suaminya, mereka benar-benar menikmati hari-hari menjadi orangtua. Lelah sudah pasti, tetapi Evan dan Via sudah terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang.
***TAMAT***
Mampir yuk di novel BARU YUK😊😊😊
__ADS_1