Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
15.Via Tunggu


__ADS_3

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Via membuat Evan sedikit gugup.


"Lah, kamu ngapain bawa koper segala?" Evan malah bertanya balik.


"Aku akan pulang ke rumah, tidak enak tinggal di sini lama-lama,"


Tiba-tiba ponsel Via berbunyi, ternyata pak Theo yang menelpon untuk memintanya segera menjemput di bandara. Tentu saja Via sedikit bingung, karena pak Theo pulang mendadak.


"Kenapa papah menelpon mu?" tanya Evan penasaran.


"Calon suami ku minta jemput. Kenapa?"


"Papah pulang?"


"Kenapa kau banyak tanya sekali?"


"Aku kan hanya bertanya, lagia kenapa papah lebih memilih menelpon mu dari pada aku?"


"Karena aku calon istrinya!" jawab Via lalu memasukan kembali kopernya kemudian pergi begitu saja.


Evan mengepalkan kedua tangannya geram, ingin sekali pria itu mencabik-cabik mulut Via.


"Via tunggu!" seru Evan yang mengejar dari belakang.


"Kenapa sih, aku buru-buru?" tanya Via kesal.


"Loh, Evan. Kok ada di sini?" tiba-tiba suara Lili menghentikan langkah Evan dan Via.

__ADS_1


"Dan kau mau apa di sini, mengikuti ku?" tanya Evan yang masih kesal dengan Via.


"Aku bertemu dengan teman ku. Dia tinggal di lantai delapan!"


"Oh, bukan urusan ku!"


"Dan kau Via, kenapa kau ada di sini bersama Evan?" tanya Lili curiga.


"Ya karena aku tinggal di sini. kenapa?"


Lili termenung sejenak, bagaimana bisa Via tinggal di Apartemen mewah seperti ini.


"Sudahlah, aku akan pergi." Via berlalu tanpa menghiraukan Lili dan Evan.


"Via tunggu!" seru Evan.


"Evan kau mau kemana lagi?" tanya Lili menghentikan langkah Evan karena wanita itu menarik tangan Evan.


"Aku dan Via harus menjemput papah. Jangan ganggu aku!" ujar Evan langsung berlari kecil mengejar Via.


Lili syok, terkejut mendengar perkataan Evan dan sikap Evan yang sangat mengacuhkannya.


"Dasar brengsek!" umpat Lili.


Jadinya, Evan dan Via pergi bersama. Via hanya diam saja begitu juga dengan Evan yang menunjukkan wajah dinginnya.


"Kenapa harus papah ku?" tanya Evan membuka suara.

__ADS_1


"Karena papah mu kaya raya!" jawab Via membuat Evan kesal.


"Randi cukup kaya, kenapa kau tidak bersama dengannya saja?"


"Bagaimana jika aku ingin bersama mu?" tanya Via langsung membuat Evan menghentikan mobilnya.


"Kau perempuan gila. Keluar dari mobil ku!" usir Evan.


Tidak masalah, Via langsung keluar dari mobil Evan tanpa mengarahkan sepatah katapun. Evan melanjutkan perjalanannya untuk menjemput sang papah tanpa Via.


Setibanya di bandara, Evan melihat papahnya yang baru saja keluar dari bandara. Evan menghampiri laki-laki paruh baya yang masih nampak gagah dengan kacamata hitamnya.


"Di mana Via?" tanya Theo celingukan.


Matilah Evan, pria ini langsung menggaruk kepalanya tak gatal.


"Aku tidak tahu, dia meminta ku untuk menjemput papah!" bohong Evan.


Tiba-tiba ponsel Theo berdering, satu pesan masuk dari Via terpampang nyata di sana.


"Dasar bajingan!" umpat Theo marah, "teganya kau menurunkan seorang perempuan di pinggir jalan!" Theo mengetak kepala anaknya.


"Pah, papah sadar gak jika Via hanya memanfaatkan papah saja?"


"Papah jauh lebih tahu tentang Via. Bukan kau!"


Theo marah, pria paruh baya itu lebih memilih pulang naik taxi. Habislah Evan, pria ini langsung mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Perempuan sial!" umpatnya.


Sedangkan Via, wanita ini malah asyik bersantai di salah satu cafe seorang diri. Via tertawa, wanita ini sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada Evan.


__ADS_2