
"Van,...!" sapa Lili menghentikan langkah Evan yang hendak masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya pria itu acuh.
"Sore ini ada meeting di bersama Randi dan beberapa karyawannya,"
"Em, ingatkan saja aku nanti," ujar Evan berlalu masuk kedalam ruangan.
Lili mengepalkan kedua tangannya geram, Evan sangat dingin padanya bahkan sikapnya sangat acuh.
"Giliran bersama Via saja kau banyak bicara. Jika dengan ku, kau hanya berbicara seperlunya!" ucap Lili geram.
Lili yang sudah tidak tahan lagi langsung pergi meninggalkan mejanya untuk menemui Via. Suatu kebetulan ketika mereka bertemu di lift. Lili langsung menarik tangan Via menuju atap gedung.
Via tidak melawan, wanita ini mengikuti kemana Lili pergi dengan santainya dan tanpa banyak bertanya. Setibanya di atap, Lili langsung melepaskan tangan Via.
"Aku peringatkan pada mu untuk menjauhi Evan!" ucap Lili dengan wajah angkuhnya.
__ADS_1
Via terkekeh lucu mendengar peringatan dari Lili, "Memangnya kau siapa?" tanya Via, "apa kau calon istri Evan?"
"Untuk sekarang aku memang bukan istri Evan. Tapi, sebentar lagi aku akan menjadi istrinya," jawab Lili penuh percaya diri.
"Itu artinya kau akan menjadi menantu ku dong!" seru Via.
"Jangan harap, jika aku sudah menikah dengan Evan. Aku akan menendang mu keluar!"
Via tertawa, keras sekali tawanya, "Lucunya kau ini. Bangun Li, kau tidur terlalu miring!" ejek Via membuat Lili naik darah.
"Aku serius Via. Jika kau tidak mengikuti ucapan ku, akan ku buat kau celaka!" ancam Lili.
Via menantang Lili, tentu saja hal ini membuat Lili ketakutan. Buru-buru wanita ini pergi dengan wajah ketakutan apa lagi sorot mata Via sangat tajam.
Melihat Lili yang berlari ketakutan, tawa Via kembali pecah. Via bergeleng kepala melihat tingkah Lili. Wanita itu juga memutuskan untuk kembali turun.
"Evan,.....!" dengan penuh drama Lili masuk kedalam ruangan Evan dan langsung memeluk pria itu. Sontak saja hal tersebut membuat Evan merasa risih lalu mendorong tubuh Lili.
__ADS_1
"Kenapa kau memeluk ku hah?" bentak Evan.
"Via mengancam ku, aku di ancam oleh Via!" adunya dengan air mata yang di buat-buat.
"Untuk apa dia mengancam mu, Via. bukan seperti itu?"
"Dia meminta ku untuk mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Sedangkan aku tidak mau mengikuti permintaannya. Jadi, dia mengancam ku!" Lili memutar balikan fakta, bahkan wanita ini mencoba memfitnah Via.
Evan mengerutkan keningnya heran, "Apa kau yakin?" tanya Evan tidak percaya.
"Van, kita sudah kenal sejak lama. Selama ini pertemanan kita baik-baik saja. Dari awal sepertinya Via tidak menyukai ku!"
"Jangan asal fitnah kau Lili," ujar Evan.
"Aku tidak fitnah Van. Ini kebenaran. Selama ini kau melihat sendiri sikap Via yang suka bicara sembarangan dan tidak sopan!" Lili semakin menyudutkan Via.
Wanita ini terus mengeluarkan air mata kepalsuannya. Membuat Evan berpikir sesaat mempertimbangkan sikap Via dengan ucapan Lili.
__ADS_1
"Ikut aku....!" Evan menarik tangan Lili keluar menuju ruangan papahnya.
"Habis kau Via, aku akan membuat mu di tendang hari ini juga!" batin Lili tertawa. Apa lagi sekarang Evan memegang tangannya tanpa melepaskan. Jadi, hal ini membuat Lili yakin jika Evan pasti akan membela dan berpihak padanya.