
"Cukuplah, aku tidak ingin menyakiti mu. Aku di sini hanya untuk membantu Kiran dan ibunya!" kata Randi kembali ke posisi awal berdiri.
Pintu terbuka, Sinta masuk dengan senyum kepuasan di hatinya. Wanita tersebut datang-datang langsung menjambak rambut Via dan terus memukul wajah Via sampai Via tak berdaya.
"Aku sangat membenci mu. Wajah mu sangat mirip dengan ibu mu. Kalian adalah benalu dalam hidup ku!" ucap Sinta penuh penekanan.
"Kalian lah benalu dalam hidup ku!" jawab Via dengan beraninya.
Plaaaak,...
Lagi-lagi Sinta memukul wajah Via, darah segar kembali mengalir dari hidung Via.
"Jika dulu ibu mu tidak menikah dengan ayah mu. Tidak mungkin aku akan menghancurkan dia. Ibu mu lah yang memulai terlebih dahulu, bukan aku!" teriak Sinta melupakan emosinya.
Sedangkan Randi hanya diam saja melihat Via kesakitan. Laki-laki itu terus menonton drama di depannya.
"Itu masa lalu kalian, tidak ada hubungannya dengan ku!" tegas Via.
"Apa kau tahu, jika aku dan ayah mu sudah menjalin hubungan selama lima tahun? lalu ibu datang dan merebut ayah mu dari ku. Dia meninggalkan ku, menikah dengan mu ibu berbahagia di atas penderitaan dan rasa sakit ku. Lalu, apa salahnya jika aku datang merusak keluarga mu hah?" tutur Sinta panjang lebar. Dari sini Via paham kenapa Sinta bisa menikah dengan ayahnya dulu.
__ADS_1
"Bukankah kau juga menikah dan melahirkan Kiran, lalu kenapa kau mengusik keluarga ku hah?"
"Apa kau tahu, kau dan Kiran itu sebenarnya satu ayah. Ayah mu meninggalkan ku di saat aku sedang hamil Kiran...!"
Syok lah Via, wanita ini tidak pernah tahu jika Kiran sebenarnya adalah anak kandung dari ayah Via.
"Jadi, apa salah jika aku membenci mu?" tanya Kiran mencibir.
Via hanya bisa menangis, wanita ini benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Miris sekali cerita keluarga kalian. Aku tidak berniat ikut campur!" kata Randi hanya duduk manis sambil menghidupkan sebatang rokoknya.
"Berikan Evan pada ku, maka aku akan membiarkan kau dan anak mu ini hidup," ucap Kiran membuat mata Via melebar.
Plaaaak,....
Kiran tidak terima, wanita itu kembali memukul wajah Via berulang kali.
"Kau tidak pantas untuk bahagia, kau tidak pantas bersanding dengan laki-laki kaya. Kau harus sama menderitanya seperti ibu mu yang sudah merebut semua kebahagiaan ku!" ucap Sinta kembali mengamuk.
__ADS_1
Sedangkan Evan, sepanjang perjalanan mencari istri pria ini terus berdoa agar sang istri baik-baik saja. Arlan sudah berusaha menenangkan Evan.
"Cepat sedikit....!" sentak Evan membuat anak buahnya yang menyetir langsung menaikan gas.
"Berapa lama lagi?" tanya Arlan.
"Sebentar lagi tuan, menurut informasi mereka membawa nona Via ke perbatasan kota!"
"Brengsek, siapa yang sudah berani menculik istri kesayangan ku?" Evan mengepalkan tangannya marah.
"Jangan sampai tebakan ku benar!" batin Arlan.
Kembali ke gudang, Randi berdiri menghampiri Via yang sudah lemas.
"Apa kau sadar jika kau sudah membuat harga diri ku jatuh?" tanya Randi, "terutama Evan, dia bahkan sudah sangat membuat harga diri juga jatuh."
"Sebenarnya, aku sudah lama tahu jika kau bukan laki-laki baik. Tapi, sikap baik mu pada ku yang membuat aku ingin berteman dengan mu!" sahut Via dengan beraninya.
"Tante, mau kita apakan dia?" tanya Randi membuat Via panik.
__ADS_1
"Kalau bisa, buat dia secepatnya menyusul ayah dan ibunya!" jawab Sinta dengan entengnya.
"Biarkan saja dia di gudang ini, toh ini gudang tua sudah pastinya tidak akan ada yang menemukan Via. Jadi,dia akan mati secara perlahan!" usul Kiran.