Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
96.Tenanglah!


__ADS_3

Memasuki usia kandungan delapan bulan. Bertambah sulit tidur Via, terbatas juga gerakkan nya. Bahkan, untuk bangun saja Via harus di bantu oleh Evan. Evan juga selalu mengawasi keadaan sang istri.


Evan akan pergi jika ada kepentingan mendesak saja karena pria ini tidak mau meninggalkan istrinya seorang diri di rumah.


"Makan sedikit lagi sayang, kau baru makan beberapa sendok!" bujuk Evan karena istrinya ini mulai kurang mengkonsumsi makanan.


"Tidak bee, aku kenyang. Perut ku terasa begah padahal aku hanya makan sedikit!"


"Apa anak-anak kita tidak makan ya?" tanya Evan penasaran.


"Kau ini sangat lucu Van," ujar mami Gitta.


"Dia kadang lucu kadang juga menyebalkan!" seru pak Theo.


"Keturunan Theo ya begini, coba keturunan anak tetangga, mungkin tidak akan ada Evan yang seperti ini...!" sahut Evan membuat pak Theo geram.


"Mulut mu itu sesekali harus di beri pelajaran!" pak Theo benar-benar geram.

__ADS_1


"Sayang, kau kenapa?" tanya Evan panik ketika melihat wajah istrinya yang seperti orang menahan kesakitan.


"Bee, ada yang basah di bawah!" ujar Via memberitahu.


Evan buru-buru menunduk dan mendapati cairan mengalir di antara kedua kaki istrinya.


"Sayang, cairan apa ini?" tanya Evan bingung.


Mami Gitta yang yang panik langsung beranjak dari kursinya dan melihat apa tang yang baru saja di lihat Evan.


"Rembes, ketuban Via pecah. Cepat bawa ke rumah sakit!" kata mami Gitta panik hingga membuat Evan dan pak Theo ikutan panik.


"Sabar sayang, kita akan ke rumah sakit sekarang!" wajah Evan benar-benar panik.


"Yang kuat Via, yang kuat sayang!" mami Gitta mengusap wajah Via.


"Mami, ini baru delapan bulan. Kenapa ketubannya sudah pecah?" tanya Evan.

__ADS_1


"Mami juga tidak tahu. cepat sayang...!" mami Gitta menepuk pundak pak Theo yang sedang mengemudi.


Setibanya di rumah sakit, Via langsung di pindahkan ke brankar dan menuju ruangan persalinan yang sudah di persiapkan dari jauh hari. Setelah Dokter memeriksa keadaan Via, wanita ini tidak bisa melahirkan secara normal dan harus melakukan operasi sekarang juga demi menyelamatkan kedua anak yang sedang di kandung Via.


Panik lah Evan, tanpa terasa air mata pria ini keluar begitu saja. Baru juga kemarin bercanda dengan istrinya, kenapa hari ini Evan sudah di buat panik dan gelisah seperti ini.


"Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya Dok!" Evan menggenggam kedua tangan Dokter yang akan mengoperasi Via.


"Kita sama-sama berdoa untuk yang terbaik. Tuan Evan bisa menemani di dalam!" kata Dokter.


Setelah melakukan beberapa persiapan, operasi mulai di lakukan secepatnya.


Di luar ruangan, terlihat sekali wajah pak Theo sangat dingin. Sejak kenal dan menikah dengan pak Theo, baru sekarang mami Gitta melihat wajah serius dari lelaki paruh baya ini.


"Tenanglah, Via akan baik-baik saja!" mami Gitta menepuk pundak suaminya.


"Om, bagaimana keadaan Via?" tanya Arlan yang baru saja tiba di rumah sakit.

__ADS_1


"Belum tahu lagi, baik Dokter maupun Evan belum keluar sejak tadi," jawab pak Theo.


Arlan juga ikutan khawatir dan tegang. Pria ini memilih duduk di samping pak Theo untuk menunggu kabar selanjutnya.


__ADS_2