Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
40.Menikah


__ADS_3

"Kenapa kau mendorong ku hah?" Evan menendang kaki Arlan.


"Semua orang sudah masuk. Cepat masuk, kasihan papah mu menunggu!" ujar Arlan terus mendorong Evan.


Evan mendengus kesal, lelaki ini mengatur mimik wajahnya terlebih dahulu sebelum masuk. Dengan langkah berat dan menahan malu, Evan berjalan di karpet merah menuju mimbar gereja.


Di sana sudah ada pak Theo yang nampak gagah dengan setelah jasnya. Senyumnya lebar menanti sang anak naik keatas mimbar.


"Kau sangat tampan dan berkharisma Van. Mamah mu pasti bangga karena sudah melahirkan mu," bisik pak Theo.


"Diamlah pah, jangan bawa nama mamah di sini. Dasar laki-laki tidak setia!" cibir Evan.


"Heh kau ini. Sudah, berdiri yang tampan. Sebentar lagi Via akan masuk," ujar pak Theo.


Mata elang milik Evan terus memandang pintu gereja yang sudah tertutup sejak Evan dan Arlan masuk tadi. Para tamu juga tidak sabar untuk melihat sang calon mempelai wanitanya.


Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lebar. Silau putih dari gaun pengantin nan indah membuat semua orang penasaran termasuk Evan.


Sambil menggenggam sebuket bunga, Via melangkah dengan anggun menuju altar pernikahan. Mata Evan lekat memandang Via yang terlihat sangat cantik dalam balutan gaun putih tak berlengan dan menampakkan sedikit belahan dadanya. Riasan tipis dan rambut yang di tata sedemikian rupa di tambah mahkota kecil sebagai pelengkapnya.


Sial, Evan benar-benar terhipnotis dengan kecantikan Via. Bagaimana tidak, wanita yang biasa di kenal Evan petakilan dan tidak bisa diam ternyata bisa secantik ini sekarang.


"Oh cantiknya!" pak Theo memuji Via.


Pak Theo tersenyum sendiri ketika melihat anak laki-lakinya terus memandang kearah Via. Senyum manis Via, membuat Evan semakin galau memikirkannya karena dalam hitungan menit wanita itu akan segara menjadi ibu tirinya.


Bahkan, beberapa orang tamu dengan sangat memotret Via. Mereka sangat kagum dengan kecantikan wanita ini.


Pak Theo melangkah maju, mengulurkan tangan menyambut Via. Senyum mereka berdua nampak bahagia, berbeda dengan Evan yang kini menunjukkan wajah dinginnya.


"Lalu, apa gunanya aku berada di sini?" Evan menggerutu sendiri. Melihat sang papah sudah menggandeng tangan Via, Evan pun berniat untuk turun dari mimbar.


"Heh, mau kemana kau?" tanya pak Theo dengan menekan semua gigi tuanya.


"Ya mau duduk, ngapain di sini?'' tanya Evan bingung.


"Acaranya bisa kita mulai sekarang pak Theo?" tanya Pastor.


"Tentu saja, semakin cepat semakin baik!" jawab pak Theo lalu menyerahkan tangan Via pada Evan.


Evan kebingungan, namun tidak dengan Via, "Loh pah, apa maksudnya?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Papah sudah tua nak, sekarang wakil kan papah untuk menikah," jawab pak Theo membuat Evan syok dan benar-benar syok.


"Hah....?" wajah Evan mendadak gugup, panik dan linglung.


"Bisa kita mulai acaranya?" sekali lagi Pastor bertanya.


Buru-buru pak Theo menarik tangan anaknya, Evan yang bingung hanya bisa menurut dengan papahnya.


"Mari menikah sayang!" ucap Via membuat Evan semakin kebingungan. Sedangkan pak Theo sudah duduk manis di samping Arlan.


Tidak hanya Evan, Arlan sendiri syok melihatnya. Yang Arlan tahu hari ini adalah hari pernikahan Via daak Theo bukan Evan dan Via. Evan dan Arlan saling pandang untuk mencari jawaban.


Baru saja Arlan hendak bertanya, Pak Theo langsung memberinya aba-aba untuk diam.


"Sekarang, tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Untuk kedua mempelai, di persilahkan untuk menjawab pertanyaan saya." Pastor memulai acara pernikahan. "Evano Kevlar Avisha, bersediakah saudara menikah dengan Viani Anastasya, mencintainya dengan setia seumur hidup dalam suka maupun duka? dalam senang mau pun susah? dalam sakit maupun sehat?"


Sekali lagi, Evan memandang wajah Via lalu menoleh kearah papahnya. Dengan santai dan senyum lebarnya pak Theo menganggukkan kepala.


"Ya, saya bersedia," jawab Evan tanpa sadar.


"Viani Anastasya, bersediakan saudara menikah dengan Evano Kevlar Avisha, mencintainya dengan setia seumur hidup? dalam suka maupun duka? dalam susah maupun senang? dalam sakit maupun sehat?"


Via tersenyum, cantik sekali, "Ya, saya bersedia," jawab Via tanpa ragu.


Pria itu sedikit linglung, bahkan Evan sendiri harus di bimbing saat acara tukar cincin. Tamu terus bertepuk tangan, memberikan ucapan selamat.


"Cepat teriak, cium...!" titah pak Theo pada Arlan.


"Oh, harus seperti itu ya om?" tanya Arlan.


"Cepat....!"


"Cium...cium...cium...!" Arlan bersorak, membuat tamu lainnya juga ikutan.


Evan benar-benar kesal dengan tingkah Arlan, pria ini akan memberi perhitungan. Via yang mendengar kata cium mendadak panik juga, namun tangannya masih di genggam erat oleh Evan.


"Berani mencium ku, akan ku tendang kau nanti," bisik Via penuh ancaman.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Evan bingung.


"Cukup cium kening ku saja. Itu sudah lebih dari cukup!"

__ADS_1


Even berdehem, mengatur nafasnya sendiri. Wajah meraka saling berhadapan, dengan perasaan bergetar Evan langsung mengecup kening Via.


Selesai, acara sudah selesai. Entah kenapa Evan tidak menemukan papahnya sekarang.


"Benar-benar minta hajar!" batin Evan yang sangat kesal, "Heh kau, beri aku penjelasan. Apa maksud dari semua ini?"


"Em, nanti saja di hotel!" jawab Via dengan santainya.


Mereka kembali ke hotel, Via sedikit kesusahan berjalan karena gaunnya. Evan yang tidak sabaran melihat istrinya yang kesusahan turun dari mobil langsung berbalik arah menghampiri Via.


"Kau ini sama saja dengan papah. Menyebalkan!" ujar Evan.


"Van, kau benar-benar menikah?" tanya Rania yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Oh tentu, apa kau tidak lihat?" Evan bertanya dengan sinisnya.


"Van,...kenapa kenapa seperti ini?" tanya Rania lagi seolah dirinya paling tersakiti.


"Aku mengundang mu untuk acara malam ini. Jangan lupa datang!" ujar Evan lalu menggendong Via dengan gagahnya.


Tentu saja hal ini membuat Via terkejut, wajahnya merona malu tak kuat memandang wajah tampan laki-laki yang baru saja menjadi suaminya ini.


"Dia akan menangis sampai ke akhirat. Dasar Arlan itu ya, bodoh!" umpat Evan.


"Siapa yang kau menangis sampai akhirat?" tanya Via penasaran.


"Tidak ada. Cepat turun, kau ini sangat berat!" ujar Evan.


"Tidak mau, antar aku ke kamar!" Via mengeratkan kedua tangan yang mengalung di leher Evan.


"Cepat jelaskan, apa maksud dari semua ini? kenapa kita yang menikah, kenapa bukan papah?" tanya Evan yang sudah tidak sabar mendengar penjelasannya.


"Minta penjelasan sama papah mu sana. Aku tidak ingin menjelaskan apa pun!" ujar Via menolak.


"Via,...cepat jawab jika tidak....!"


"Jika tidak apa?"


"Akan ku lempar kau dari atas balkon kamar nanti,"


"Di atas tempat tidur aja, itu jauh lebih empuk dan indah!" sahut Via semakin membuat Evan kesal dan meradang.

__ADS_1


***MOHON MAAF JIKA ADA KATA YANG SALAH***


__ADS_2