Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
32.Evan Bingung


__ADS_3

"Oh ya Van, kamu balik aja duluan ke kantor. Papah sama Via mau pergi," ujar pak Theo.


"Memangnya papah mau kemana?" tanya Evan penasaran.


"Mau lihat cincin pernikahan. Sepertinya sudah selesai di buat!" jawab pak Theo membuat Evan langsung menelan ludahnya kasar.


"Sudah sejauh ini, itu artinya kalian serius?" tanya Evan dengan bodohnya.


"Kau pikir kami anak kecil yang bermain-main," sahut Via.


"Pah, coba lihat lagi mata Via. Sepertinya tidak ada cinta untuk papah di sana,"


"Tahu apa kau soal cinta?" tanya pak Theo menatap tajam kearah anaknya, "pergi sana!" usir pak Theo.


Via dan pak Theo masuk ke dalam mobil dan langsung pergi. Sedangkan Evan celingukan bingung ingin kembali ke kantor menggunakan apa karena dia saja nebeng tadi.


"Ah, sialan!" umpat Evan kesal.


Sejauh ini, persiapan pernikahan sudah tinggal menunggu hari H, yang itu artinya masih ada sekitar dua mingguan lagi. Evan yang sudah berada di ruangannya bukan fokus pada pekerjaannya melainkan sibuk berpikir untuk menggagalkan pernikahan sang papah.

__ADS_1


"Bingung, jadi aku harus bagaimana? masa iya aku punya ibu tiri yang masih muda bahkan umurnya saja berada di bawah ku!"


Evan mengambil ponselnya, berniat ingin menghubungi Arlan namun tidak jadi.


"Bajingan itu sama saja, ide yang dia berikan pasti tidak masuk di akal semua!"


Evan mengacak rambutnya frustasi, pria ini melirik jam yang melingkar di tangannya lalu bergegas pergi. Evan membeli bunga mawar merah sebelum pergi ke makam sang mamah.


Pria tampan ini, dengan langkah lebar memasuki kawasan pemakaman yang terlihat seperti taman.


Evan melepas kacamatanya, meletakan sebuket bunga di atas makam mamahnya.


"Mah, ini Evan. Apa kabar mamah? Evan sedang pusing sekarang. Mah, papah akan menikah lagi, bagaimana menurut mamah? mamah harus satu hati sama Evan, karena papah akan menikah dengan perempuan muda. Bantuin Evan buat menggagalkan pernikahan mereka mah," pria ini berkeluh kesah di atas makam mamahnya.


"Papah ngapain ke sini, membuat ku takut saja?"


"Wah, Evan pasti menganggap pak Theo hantu!" Via mengompori pak Theo.


"Diam kau!" sentak Evan, "ngapain kau kesini?"

__ADS_1


"Hanya ingin berziarah ke makam mamah mu saja. Aku juga sudah menganggapnya sebagai mamah ku!" jawab Via dengan santainya.


"Apa-apaan kau, tidak ada seperti itu,"


"Van, ini makam. Tenanglah sedikit, apa kau mau kena kutuk oleh penunggu di sini?"


"Pah, tapi perempuan ini sudah sangat keterlaluan!" adu Evan.


"Kenapa memangnya? papah tidak mempermasalahkan itu," ujar pak Theo membela Via.


Evan menarik nafas dalam, lagi-lagi pria ini harus mengalah dengan papah. Sore itu, jadilah mereka berziarah bersama-sama meskipun Evan tidak terima dengan kehadiran Via di sana.


"Kenapa bisa kebetulan seperti ini sih?" batin Evan yang benar-benar tidak terima.


Setelah memanjatkan doa, mereka kembali ke tempat parkiran. Pak sopir sudah membukakan pintu untuk pak Theo.


"Van, papah ada urusan. Kamu pulang bersama Via ya," ujar pak Theo.


"Pah, Evan gak mau!"

__ADS_1


"Jika kau menolak akan papah bakar mobil mu sekarang!" ancam pak Theo.


Via hanya bisa menahan tawanya melihat Evan yang sudah sangat kesal pada dirinya. Mau tidak mau Evan mengantarkan Via pulang. Meskipun sepanjang perjalanan pulang mereka tidak saling berbicara.


__ADS_2