Menikahi Calon Ibuku

Menikahi Calon Ibuku
95.Sayang Ku!


__ADS_3

"Oh begitu, pantas saja aku sudah tidak pernah melihat dia sejak kejadian malam itu," Evan bersikap biasa saja ketika mendengar cerita dari Arlan.


"Ngomong-ngomong, kau keluar seperti ini apa tidak di cari Via?"


"Tidak akan jika kau tidak mengadu yang aneh-aneh. Ingat, gara-gara kau aku di gantung Via dan papah di tangga!"


Arlan tertawa, sejak Evan menikah dengan Via, Arlan sangat suka mengerjai Evan.


"Cepatlah menikah, aku bosan melihat kau sendiri terus!"


"Mau nikah sama batang pohon? pasangan saja tidak punya. Aku masih nyaman dengan kehidupan ku yang sendiri ini."


"Terserah kau, aku mau pulang!"


Arlan hanya mengangkat kedua pundaknya. Tidak di pungkiri jika sejak Evan menikah, laki-laki itu sudah sangat jarang nongkrong bersama Arlan. Arlan juga mengerti, terlebih lagi sekarang Via sedang hamil besar.


Setibanya di rumah, Evan langsung mencari istri kesayangannya yang ternyata ada di kamar calon anak mereka.


"Sayang, kau mengganti tempat tidur mereka lagi ya...?" tanya Evan bingung.


Evan bingung sendiri melihat beberapa box bayi yang berjejer saling berpasangan.

__ADS_1


"Hanya ingin memilih yang mana yang bagus. Yang biru ini kiriman dari salah satu rekan bisnis papah.


"Ini terlalu banyak, setelah kau melahirkan nanti ada baiknya kita sumbangkan ke panti asuhan dari pada mubazir tidak terpakai," kata Evan memberikan ide.


"Wah, ide yang bagus bee. Selain tempat tidur, masih banyak perlengkapan yang berlebihan,"


"Nanti saja kita pilih, ayo ke kamar. Kau harus banyak istirahat!"


"Aku semakin merasa berat," keluh Via yang benar-benar merasa lelah.


"Tentu saja berat. Ibaratnya kau sedang menggendong dua orang anak sekali gus!"


"Ya, semua karena ulah ku. Tapi, kau sangat menikmatinya bukan?"


"Bee, bayangkan saja jika kau memiliki adik kembar di usia mu yang sudah menginjak kepala tiga. Pasti akan menjadi berita terheboh."


"Aku tidak ingin membayangkannya. Itu terlalu memalukan!" kata Evan, "luruskan kaki mu sayang!"


Evan memijat kaki sang istri yang hampir setiap hari terlihat bengkak dan memar faktor dari kehamilan.


"Sayang ku, maafkan suami mu ini ya...!" ucap Evan membuat kening Via langsung berkerut menandakan tidak mengerti dengan ucapan Evan.

__ADS_1


"Minta maaf untuk apa bee?"


"Aku tidak pernah bersikap romantis pada mu seperti pasangan yang lain. Kita tidak memiliki kenangan romantis apa pun, menikah tanpa pacaran. Setelah menikah langsung memiliki anak,"


"Kalau begitu mari kita pacaran setelah memiliki anak!"


"Jangan bilang jika mami Gitta dan papah yang akan jadi baby sitter dari kedua anak kita?" tebak Evan.


"Hehe, hanya bercanda bee!" gurau Via.


"Itu ide yang bagus sayang, setelah melewati masa pemulihan ada baiknya kita pergi bulan madu lagi untuk membuat anak ke tiga!" kata Evan langsung mendapatkan serangan mendadak di perut Evan.


"Ampun sayang,...ampun...hahaha...!" gelak tawa Evan pecah di dalam kamar.


"Kau berhak memiliki anak berapa pun yang kau mau. Asal, kau hamil sendiri dan melahirkan sendiri," ucap Via kesal.


"Aku hanya bercanda sayang. Kata orang banyak anak banyak rezeki,"


"Itu kata orang.Bukan perhitungan atau bagaimana, tapi kita harus menakar kekuatan dan batas kemampuan kita untuk memiliki jumlah anak. Percuma saja jika banyak anak banyak materi tapi tidak bisa berlaku adil. Begitu juga sebaliknya, banyak anak dan materi tidak cukup, akan banyak kesenjangan yang terjadi dalam keluarga." tutur Via panjang lebar.


"Aku setuju dengan ucapan mu sayang. Tadi itu aku hanya bercanda!" kata Evan.

__ADS_1


__ADS_2