
Makan malam pun harus di lakukan Evan dan Via di dalam kamar. Baru saja hendak memasukan makanan kedalam mulut, baby Kay tiba-tiba saja menangis. Mungkin baby Kay haus atau masih lapar.
"Biar aku saja!" Evan menahan istrinya yang hendak mengambil anaknya, "selesaikan makan mu sayang."
Untung saja Via sudah memompa asinya, jadi tidak perlu repot-repot jika harus dirinya yang turun tangan.
"Anak Daddy, kau perempuan satu-satunya jangan cengeng dan jangan manja ya. Harus kuat untuk menjaga kedua kakak mu!" Evan mengajak anaknya bicara.
"Bee, apa kau tidak salah ngomong?" tanya Via, "seharusnya Ray dan Zay yang menjaga Kay, bukan malah sebaliknya!"
"Aku ingin dia kuat sama seperti mu. Itu saja, apa salahnya?"
"Terserah kau saja, kau ayahnya sudah pasti kau memiliki pengajaran sendiri untuk mereka!"
"Aku senang kau sangat menurut seperti ini, lebih cantik." Puji Evan membuat Via merona malu, "sayang, apa kau tahu jika papah dan mami Gitta sudah mengganti tempat tidur mereka dengan ukuran yang sangat besar?"
"Untuk apa?" tanya Via penasaran.
"Biar bisa tidur dengan cucu-cucunya. Mereka sangat pengertian, tahu aja jika kita butuh berduaan!"
"Jangan lanjutkan bicara mu, aku sudah tahu kemana tujuannya!" ujar Via membuat Evan hanya tersenyum sendiri.
__ADS_1
Satu botol sudah habis dj minum baby Kay, bayi mungil itu kembali tidur dan Evan kembali melanjutkan makannya.
"Jangan terburu-buru sayang, nikmati makan mu," tegur Evan pada istrinya.
"Jika mereka bangun bagaimana, kita kan harus saling bergantian?"
"Untung hanya tiga, jika benar enam aku akan benar-benar menggunduli kepala ku malam ini," kata Evan sambil mengelus dadanya.
"Aku harus mandiri, jika kau bekerja nanti jadi aku sudah terbiasa mengurus mereka seorang diri,"
"Apa kau ingin aku mencari baby sitter untuk anak-anak kita?" tawar Evan.
"Benar, aku setuju dengan mami Bee. Aku pasti bisa mengurus mereka, aku ingin melihat tumbuh kembang anak ku sendiri,"
"Itu sih alasan Evan aja, dia kan memang mau enaknya saja!"
"Entah kenapa orangtua satu ini sangat suka menindas ku," ucap Evan begitu geram dengan papahnya.
"Ikut papah ke ruangan kerja sebentar Van!" ujar pak Theo membuat Evan penasaran.
Untung saja makanannya di piring sudah habis, buru-buru Evan mengekor di belakang sang papah menuju ruang kerja yang berada tak jauh dari kamar mereka sekarang.
__ADS_1
"Ada apa Pah?" tanya Evan penasaran.
"Ibu tiri Via sudah meninggal, sedangkan anaknya sekarang menjadi gila,"
"Jangan sampai Via tahu hal ini pah, dia sudah melupakan mereka. Evan hanya ingin melihat Via bahagia. Itu saja tidak lebih."
"Sebenarnya, setelah anak mu lahir papah berencana ingin menyerahkan semua jabatan pada mu. Papah ingin beristirahat dan menikmati hari-hari tua bersama istri dan cucu papah. Tapi, melihat mu seperti ini papah jadi gak tega!" tutur pak Theo panjang lebar.
"Evan minta maaf pah, Evan belum bisa membahagiakan papah," ucap Evan merasa bersalah.
"Jangan bicara seperti itu, papah tidak suka. Melihat mu menikah dan sudah memiliki anak, ini adalah satu kebahagiaan yang paling besar dalam hidup papah Van. Hampir saja papah menjadi gila,"
"Loh, kenapa pah?" tanya Evan penasaran.
"Sudah tua kau tak kunjung menikah, itu memaksa papah harus menemukan Via. Untung saja ketemu, jika tidak mana mungkin kau memiliki anak sekarang,"
"Hehe, terimakasih pah. Pak Theo memang yang terbaik!" Evan memeluk papahnya.
"Sudah, sana keluar!" usir pak Theo.
Sambil cengengesan Evan keluar dari ruang kerja papahnya dan kembali ke kamar. Evan ikut bergabung bersama Via dan mami Gitta yang sedang asyik mengobrol membahas si kembar tiga ini.
__ADS_1